Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab Ihwal Puasa Rajab

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab Ihwal Puasa Rajab

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab Ihwal Puasa Rajab, kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel bimbel masuk ptn, Artikel ilmu, Artikel SBMPTN, Artikel ujian nasional, Artikel Wawasan-Islam, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab Ihwal Puasa Rajab
link : Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab Ihwal Puasa Rajab

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab Ihwal Puasa Rajab


Sebagaimana diketahui bulan rajab termasuk katagori bulan haram. Ada empat bulan haram yakni Dzulqa’dah, Dzul hijjah, Rajab dan Muharram. Secara bahasa atau maknawiah "Bulan Haram" adalah "bulan" yg disucikan dimana orang dihentikan berperang kecuali kalau diserang, juga dihentikan membunuh hewan darat buruan utk menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup (suaka margasatwa). 


Mereka bertanya ihwal berperang pada "Bulan Haram". Katakanlah: “Berperang dalam "bulan" itu ialah dosa besar. Namun menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil "Haram" dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh. (QS AL-Baqarah (2) :217)

Para ulama kita menjelaskan bahwa keempat bulan haram tersebut mempunyai keistimewaan dan keutamaan kalau dibandingkan bulan-bulan lainnya kecuali bulan Ramadhan. Namun mereka berbeda pendapat manakah diantara empat bulan haram tersebut yg lebih afdhal; sebagian ulama Syafi’iyyah menyampaikan yg paling afdhal bulan Rajab akan tetapi pendapat ini dilemahkan oleh Imam Nawawi, Tabi’in yg mulia Hasan al Bashri menyampaikan bulan Muharram dan ini yg ditarjihkan oleh imam Nawawi dan pendapat ketiga menyampaikan bulan Dzulhijjah, pendapat terakhir ini diriwayatkan dari Said bin Jubair dan ini yg cenderung dipilih oleh Ibnu Rajab al Hanbali rahimahumullohu jami’an.


Bulan Rajab ialah salah satu bulan Haram (suci) sebagaimana Firman Allah Ta’ala terkait dgnnya:

'
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ  (سورة التوبة: 36)


"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia membuat langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yg lurus, maka janganlah kau menganiaya diri kau dalam bulan yg empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Bulan-bulan Haram ialah Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram.



Diriwayatkan oleh Bukhari, 4662 dan Muslim, 1679 dari Abu Bakrah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:




السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا , مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ , ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ , وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya (ada) empat bulan Haram, tiga (bulan) berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam serta Rajab Mudhar yg terdapat di antara (bulan) Jumadi Tsani dan Sya’ban.”

Bulan-bulan ini dinamakan bulan haram alasannya ialah dua hal;

1. Karena pada bulan-bulan ini diharamkan berperang, kecuali musuh memulai (perang).

2. Sebagai penghormatan. Maksudnya kalau ada perbuatan yg haram dilanggar, maka pada bulan-bulan ini bobotnya lebih berat dibandingkan pada bulan-bulan lainnya.

Oleh alasannya ialah itu, Allah Ta’ala memperingatkan semoga tidak terjerumus dalam kemaksiatan pada bulan-bulan ini, menurut firmanNya: “Maka janganlah kau menganiaya diri kau dalam bulan yg empat itu.” QS. At-Taubah: 36, meskipun melaksanakan kemaksiatan diharamkan dan dihentikan pada bulan-bulan ini dan lainnya, akan tetapi pada bulan-bulan ini sangat diharamkan.

As-Sya’di rahimahullah berkata (dalam tafsirnya) pada hal. 373: “Firman Allah;


‘فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

" Maka janganlah kau menganiaya diri kau dalam bulan yg empat itu."

Ada kemungkinan dhamir (kata ganti pada ayat tersebut) kembali kepada dua belas bulan. Dengan demikian, Allah menjelaskan bahwa bulan-bulan tersebut telah ditetapkan ketentuannya bagi para hamba-Nya, semoga mereka meramaikannya dgn ketaatan (kepadaNya) seraya bersyukur kepada Allah atas karunia yg Dia berikan kepadanya serta mengarahkannya utk kebaikan para hamba dan semoga tidak melaksanakan perbuatan aniaya terhadap diri sendiri di dalamnya.

Ada kemungkinan dhamir (kata ganti pada ayat tersebut) kembali kepada empat bulan Haram. Ini berarati merupakan larangan khusus bagi mereka utk berbuat zalim pada bulan-bulan itu, meskipun larangan berbuat zalim berlaku bagi setiap waktu. Karena bobot keharamannya (di bulan haram) bertambah dan alasannya ialah kezaliman pada (bulan-bulan haram) lebih berat dibandingkan dgn bulan-bulan lainnya.”

Adapun puasa pada bulan Rajab, tidak ada ketetapan dari hadits yg shahih yg menganjurkan seseorang mengkhususkan puasa beberapa hari di (bulan rajab) dgn berpuasa seraya meyakini keutamaannya dibandingkan dgn (bulan-bulan) lain.  Ada hadist 
shahih yg menganjurkan puasa di bulan Haram (namun bukan khusus di bulan Rajab). 

Nabi sallallahu alaihi wa sallam yg menyampaikan dianjurkan berpuasa di bulan-bulan Haram (dan Rajab termasuk bulan Haram), sebagaimana Beliau sallallahu alaihi wa sallam bersabada:


صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ (رواه أبو داود ، رقم 2428 وضعفه الألباني في ضعيف أبي داود)


“Berpuasalah di (bulan-bulan) Haram dan tinggalkanlah.” (HR. Abu Daud, 2428 dan dilemahkan oleh Al-Bany dalam kitab Dhaif Abu Daud)

Hadits shahih ini menyampaikan dianjurkannya berpuasa pada bulan-bulan Haram. Maka, barangsiapa berpuasa di bulan Rajab ini, kemudian dia juga berpuasa di bulan-bulan Haram lainnya, maka hal itu tidak mengapa. Sedangkan kalau dikhususkan berpuasa pada bulan Rajab, maka tidak (dibolehkan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam ‘Majmu’ Fatawa, 25/290: “Adapun berpuasa di Bulan Rajab secara khusus, semua haditsnya ialah lemah, bahkan palsu. Sedikitpun tidak dijadikan landasan oleh para ulama. Dan juga bukan kategori hadits lemah yg sanggup diriwayatkan dalam kepingan amalan utama (fadha'ilul a'mal). Mayoritasnya ialah hadits-hadits palsu dan dusta. Terkait riwayat yg terdapat dalam Musnad dan (kitab hadits) lainnya dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, bahwa ia memerintahkan utk berpuasa pada bulan-bulan Haram yaitu Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram, yg dimaksud ialah tawaran berpuasa pada empat bulan semuanya, bukan khusus Rajab.”

Lalu bagaimana Pendapat Ulama Empat Mazhab ihwal Puasa Rajab? Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab ihwal Puasa Rajab

Mazhab Hanafi:
Menurut mazhab ini, puasa Rajab dikategorikan sebagai salah satu puasa sunah yg sangat dianjurkah (marghubat). Ini menyerupai dinukilkan dari kitab al-Fatawa al-Hindiyah. Dalam kitab ini dijelaskan bahwa ada beberapa puasa sunah antara lain Muharam, Rajab, Sya’ban, dan ‘Asyura. 

Mazhab Maliki:
Mengutip kitab Syarah al-Kharasyi ‘ala Khalil yg bercorak Maliki bahwa puasa di empat bulan haram termasuk amalan yg sunat yg dianjurkan. 

Dalam Muqaddimah Ibn Abi Zaid Ma’a as-Syar li Fawakih ad-Dawani disebutkan, mengerjakan puasa sunat sangat dianjurkan, termasuk puasa ‘Asyura, Rajab, Sya’ban, Arafah, dan Tarwiyah. Bahkan puasa Arafah bagi orang yg tidak berhasi, lebih utama.

Mazhab Syafi’i:
Para imam Mazhab Syafi’i juga beropini berpuasa Rajab termasuk salah satu amalan sunat yg dianjurkan. 

Dalam kitab Mughni al-Muhtaj diterangkan bahwa bulan terbaik utk berpuasa sesudah Ramadhan ialah empat bulan haram. 

Dan yg paling utama ialah Muharram, merujuk hadis yg besar lengan berkuasa : “Puasa yg lebih utama sesudah Ramadhan ialah Muharram kemudian Rajab”. 

Ini terlepas dari adanya perbedaan ihwal keutamaan Rajab atas keempat bulan Haram, menyusul kemudian ialah puasa Sya’ban.

Mazhab Hanbali: 
Dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Quddamah, dijelaskan secara prinsip berpuasa pada Rajab hukumnya boleh selama tidak dilakukan sebulan penuh dan berturut-turut. 

Jika hanya berpuasa Rajab saja sebulan penuh, tanpa berpuasa di bulan lainnya hukumnya makruh. Ini ialah pendapat secara umum Mazhab Hanbali terkait berpuasa Rajab.  

“Jika seseorang hendak berpuasa Rajab, berpuasa dan berbukalah sehari atau beberapa hari, semoga tidak berpuasa sebulan penuh.” Bahkan, dalam kitab al-Inshaf, al-Mirdawi menjelaskan, salah satu opsi pendapat dalam Mazhab Hanbali, bahwa berpuasa Rajab termasuk sunat yg dianjurkan, selain puasa Sya’ban.


DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab Ihwal Puasa Rajab

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab Ihwal Puasa Rajab kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab Ihwal Puasa Rajab dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2007/01/ini-pendapat-ulama-empat-mazhab-ihwal.html

0 Response to "Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab Ihwal Puasa Rajab"

Posting Komentar