Kenakalan Dewasa Dan Faktor Yang Mempengaruhinya

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Kenakalan Dewasa Dan Faktor Yang Mempengaruhinya

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Kenakalan Dewasa Dan Faktor Yang Mempengaruhinya, kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel bimbel masuk ptn, Artikel Info, Artikel SBMPTN, Artikel ujian nasional, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Kenakalan Dewasa Dan Faktor Yang Mempengaruhinya
link : Kenakalan Dewasa Dan Faktor Yang Mempengaruhinya

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Kenakalan Dewasa Dan Faktor Yang Mempengaruhinya

PENGERTIAN KENAKALAN REMAJA DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk sikap remaja yg tidak sesuai dgn norma-norma yg hidup di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (1988 : 93) menyampaikan remaja yg badung itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh efek sosial yg ada ditengah masyarakat, sehingga sikap mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”.

Singgih D. Gumarso (1988 : 19), menyampaikan dari segi aturan kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yg berkaitan dgn norma-norma aturan yaitu: (1) kenakalan yg bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak sanggup atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran aturan ; (2) kenakalan yg bersifat melanggar aturan dgn penyelesaian sesuai dgn undang-undang dan aturan yg berlaku sama dgn perbuatan melanggar aturan bila dilakukan orang dewasa. Menurut bentuknya,


Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan ; (1) kenakalan biasa, menyerupai suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit (2) kenakalan yg menjurus pada pelanggaran dan kejahatan menyerupai mengendarai kendaraan beroda empat tanpa SIM, mengambil barang orang renta tanpa izin (3) kenakalan khusus menyerupai penyalahgunaan narkotika, relasi seks diluar nikah, pelecehan seksual dll. Kategori di atas yg dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian.

Tentang normal tidaknya sikap kenakalan atau sikap menyimpang, pernah dijelaskan dalam ajaran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985 : 73). Bahwa sikap menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial  yg normal dalam bukunya “ Rules of Sociological Method” dalam batas-batas tertentu kenakalan yaitu normal lantaran mustahil menghapusnya secara tuntas, dgn demikian sikap dikatakan normal sejauh sikap tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, sikap tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yg tidak disengaja. Makara kebalikan dari sikap yg dianggap normal yaitu sikap nakal/jahat yaitu sikap yg disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat.

Kenakalan remaja biasa disebut dgn istilah Juvenile berasal dari bahasa Latin juvenilis, yg artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja, sedangkan delinquent berasal dari bahasa latin “delinquere” yg berarti terabaikan, mengabaikan, yg lalu diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau peneror, mafia dan lain sebagainya. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja yaitu sikap jahat atau kenakalan anakanak muda, merupakan tanda-tanda sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yg disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka berbagi bentuk sikap yg menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yg luas, dari tingkah laris yg tidak sanggup diterima sosial hingga pelanggaran status hingga tindak kriminal.(Kartono, 2003).

Mussen dkk (1994), mendefinisikan kenakalan remaja sebagai sikap yg melanggar aturan atau kejahatan yg biasanya dilakukan oleh anak remaja yg berusia 16-18 tahun, jikalau perbuatan ini dilakukan oleh orang terpelajar balig cukup akal maka akan mendapat sangsi hukum. Hurlock (1973) juga menyatakan kenakalan remaja yaitu tindakan pelanggaran aturan yg dilakukan oleh remaja, dimana tindakan tersebut sanggup menciptakan seseorang individu yg melakukannya masuk penjara. Sama halnya dgn Conger (1976) & Dusek (1977) mendefinisikan kenakalan remaja sebagai suatu kenakalan yg dilakukan oleh seseorang individu yg berumur di bawah 16 dan 18 tahun yg melaksanakan sikap yg sanggup dikenai sangsi atau hukuman.

Sarwono (2002) mengungkapkan kenakalan remaja sebagai tingkah laris yg menyimpang dari norma-norma aturan pidana, sedangkan Fuhrmann (1990) menyebutkan bahwa kenakalan remaja suatu tindakan anak muda yg sanggup merusak dan menggangu, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Santrock (1999) juga menambahkan kenakalan remaja sebagai kumpulan dari banyak sekali perilaku, dari sikap yg tidak sanggup diterima secara sosial hingga tindakan kriminal.

Dari pendapat-pendapat di atas sanggup disimpulkan bahwa kecenderungan kenakalan remaja yaitu kecenderungan remaja utk melaksanakan tindakan yg melanggar aturan yg sanggup menimbulkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain yg dilakukan remaja di belum dewasa 17 tahun.

Sedangkan faktor-faktor yg mempengaruhi kecenderungan kenakalan remaja yaitu menyerupai yg dijelaskan di bawah ini.

Faktor-faktor kenakalan remaja berdasarkan Santrock, (1996) lebih rinci dijelaskan sebagai berikut :

1.    Identitas
Menurut teori perkembangan yg dikemukakan oleh Erikson (dalam Santrock, 1996) masa remaja ada pada tahap di mana krisis identitas versus difusi identitas harus di atasi. Perubahan biologis dan sosial memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi terjadi pada kepribadian remaja: (1) terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan (2) tercapainya identitas peran, kurang lebih dgn cara menggabungkan motivasi, nilai-nilai, kemampuan dan gaya yg dimiliki remaja dgn tugas yg dituntut dari remaja.
Erikson percaya bahwa delinkuensi pada remaja terutama ditandai dgn kegagalan remaja utk mencapai integrasi yg kedua, yg melibatkan aspek-aspek tugas identitas. Ia menyampaikan bahwa remaja yg mempunyai masa balita, masa kanak-kanak atau masa remaja yg membatasi mereka dari banyak sekali peranan sosial yg sanggup diterima atau yg menciptakan mereka merasa tidak bisa memenuhi tuntutan yg dibebankan pada mereka, mungkin akan mempunyai perkembangan identitas yg negatif. Beberapa dari remaja ini mungkin akan mengambil potongan dalam tindak kenakalan, oleh lantaran itu bagi Erikson, kenakalan yaitu suatu upaya utk membentuk suatu identitas, walaupun identitas tersebut negatif.

2.    Kontrol diri
Kenakalan remaja juga sanggup digambarkan sebagai kegagalan utk berbagi kontrol diri yg cukup dalam hal tingkah laku. Beberapa anak gagal dalam berbagi kontrol diri yg esensial yg sudah dimiliki orang lain selama proses pertumbuhan. Kebanyakan remaja telah mempelajari perbedaan antara tingkah laris yg sanggup diterima dan tingkah laris yg tidak sanggup diterima, namun remaja yg melaksanakan kenakalan tidak mengenali hal ini. Mereka mungkin gagal membedakan tingkah laris yg sanggup diterima dan yg tidak sanggup diterima, atau mungkin mereka bergotong-royong sudah mengetahui perbedaan antara keduanya namun gagal berbagi kontrol yg memadai dalam memakai perbedaan itu utk membimbing tingkah laris mereka. Hasil penelitian yg dilakukan baru-baru ini Santrock (1996) menyampaikan bahwa ternyata kontrol diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja. Pola asuh orangtua yg efektif di masa kanak-kanak (penerapan taktik yg konsisten, berpusat pada anak dan tidak aversif) bekerjasama dgn dicapainya pengaturan diri oleh anak. Selanjutnya, dgn mempunyai ketrampilan ini sebagai atribut internal akan besar lengan berkuasa pada menurunnya tingkat kenakalan remaja.

3.    Usia
Munculnya tingkah laris anti sosial di usia dini bekerjasama dgn penyerangan serius nantinya di masa remaja, namun demikian tidak semua anak yg bertingkah laris menyerupai ini nantinya akan menjadi pelaku kenakalan, menyerupai hasil penelitian dari McCord (dalam Kartono, 2003) yg menyampaikan bahwa pada usia dewasa, lebih banyak didominasi remaja badung tipe terisolir meninggalkan tingkah laris kriminalnya. Paling sedikit 60 % dari mereka menghentikan perbuatannya pada usia 21 hingga 23 tahun.

4.    Jenis kelamin
Remaja laki- laki lebih banyak melaksanakan tingkah laris anti sosial daripada perempuan. Menurut catatan kepolisian Kartono (2003) pada umumnya jumlah remaja laki- laki yg melaksanakan kejahatan dalam kelompok gang diperkirakan 50 kali lipat daripada gang remaja perempuan.

5.    Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah
Remaja yg menjadi pelaku kenakalan seringkali mempunyai impian yg rendah terhadap pendidikan di sekolah. Mereka merasa bahwa sekolah tidak begitu bermanfaat utk kehidupannya sehingga biasanya nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah. Mereka tidak mempunyai motivasi utk sekolah. Riset yg dilakukan oleh Janet Chang dan Thao N. Lee (2005) mengenai efek orangtua, kenakalan sahabat sebaya, dan sikap sekolah terhadap prestasi akademik siswa di Cina, Kamboja, Laos, dan remaja Vietnam menyampaikan bahwa faktor yg berkenaan dgn orangtua secara umum tidak mendukung banyak, sedangkan sikap sekolah ternyata sanggup menjembatani relasi antara kenakalan sahabat sebaya dan prestasi akademik.

6.    Proses keluarga
Faktor keluarga sangat besar lengan berkuasa terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya santunan keluarga menyerupai kurangnya perhatian orangtua terhadap acara anak, kurangnya penerapan disiplin yg efektif, kurangnya kasih sayg orangtua sanggup menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Penelitian yg dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya (dalam Santrock, 1996) menyampaikan bahwa pengawasan orangtua yg tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yg tidak efektif dan tidak sesua i merupakan faktor keluarga yg penting dalam memilih munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yg dialami keluarga juga bekerjasama dgn kenakalan. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak begitu besar.

7.    Pengaruh sahabat sebaya
Memiliki teman-teman sebaya yg melaksanakan kenakalan meningkatkan risiko remaja utk menjadi nakal. Pada sebuah penelitian Santrock (1996) terhadap 500 pelaku kenakalan dan 500 remaja yg tidak melaksanakan kenakalan di Boston, ditemukan persentase kenakalan yg lebih tinggi pada remaja yg mempunyai relasi reguler dgn sahabat sebaya yg melaksanakan kenakalan.

8.    Kelas sosial ekonomi

Ada kecenderungan bahwa pelaku kenakalan lebih banyak berasal dari kelas sosial ekonomi yg lebih rendah dgn perbandingan jumlah remaja badung di antara tempat perkampungan miskin yg rawan dgn tempat yg mempunyai banyak privilege diperkirakan 50 : 1 (Kartono, 2003). Hal ini disebabkan kurangnya kesempatan remaja dari kelas sosial rendah utk berbagi ketrampilan yg diterima oleh masyarakat. Mereka mungkin saja merasa bahwa mereka akan mendapat perhatian dan status dgn cara melaksanakan tindakan anti sosial. Menjadi “tangguh” dan “maskulin” yaitu conto status yg tinggi bagi remaja dari kelas sosial yg lebih rendah, dan status menyerupai ini sering ditentukan oleh keberhasilan remaja dalam melaksanakan kenakalan dan berhasil meloloskan diri sehabis melaksanakan kenakalan.


9.    Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal
Komunitas juga sanggup berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja. Masyarakat dgn tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja mengamati banyak sekali model yg melaksanakan acara kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas acara kriminal mereka. Masyarakat menyerupai ini sering ditandai dgn kemiskinan, pengangguran, dan perasaan tersisih dari kaum kelas menengah. Kualitas sekolah, pendanaan pendidikan, dan acara lingkungan yg terorganisir yaitu faktor- faktor lain dalam masyarakat yg juga bekerjasama dgn kenakalan remaja.


Berdasarkan pendapat di atas sanggup disimpulkan bahwa faktor yg paling berperan mengakibatkan timbulnya kecenderungan kenakalan remaja yaitu faktor keluarga yg kurang serasi dan faktor lingkungan terutama sahabat sebaya yg kurang baik, lantaran pada masa ini remaja mulai bergerak meninggalkan rumah dan menuju sahabat sebaya, sehingga minat, nilai, dan norma yg ditanamkan oleh kelompok lebih memilih sikap remaja dibandingkan dgn norma, nilai yg ada dalam keluarga dan masyarakat.


= Baca Juga =



DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Kenakalan Dewasa Dan Faktor Yang Mempengaruhinya

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Kenakalan Dewasa Dan Faktor Yang Mempengaruhinya kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Kenakalan Dewasa Dan Faktor Yang Mempengaruhinya dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2007/01/kenakalan-dewasa-dan-faktor-yang.html

0 Response to "Kenakalan Dewasa Dan Faktor Yang Mempengaruhinya"

Posting Komentar