Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat, kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel bimbel masuk ptn, Artikel bimbinganshalat, Artikel ilmu, Artikel SBMPTN, Artikel ujian nasional, Artikel Wawasan-Islam, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat
link : Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat

Shalat harus dilakukan secara berkualitas, yakni pelaksanaan sesuai hukum atau tata cara Shalat yg diajarkan Rasullah SAW, serta efeknya sanggup meningkatkan ketaqwaan sesorang yakni mencegah perbuatan keji dan mungkar. Mari kita mengingat hadis Nabi saw dari Abu Hurairah ra, “Sesungguhnya amal seorang hamba yg pertama kali akan dihisab pada hari final zaman yakni shalatnya. Jika baik shalatnya maka ia akan beruntung dan selamat. Dan kalau jelek shalatnya maka ia akan merugi. Jika ditemui ada kekurangan pada shalat fardhunya maka Rabb (Allah SWT) akan berkata (kepada malaikat), ”Lihatlah apakah hambaKu mempunyai amalan shalat sunah?” Maka kekurangan shalat fardhu akan disempurnakan dgn shalat-shalat sunah. Kemudian amal-amal lainnya akan dihisab ibarat itu. (Tirmidzi)

Coba perhatikan shalat kita. Tidak terhitung berapa kali kita lupa rakaat dalam shalat. Alih-alih bersedih dgn “lupa rakaat” shalat, seringkali kita justru menunda shalat lantaran urusan dunia. Atau bahkan meninggalkan shalat. Astaghfirullahal ‘adzim. Kita merasa terlalu sibuk sehingga shalat kita terabaikan. Padahal shalatlah yg pertama kali akan dihitung pada hari kiamat.

Dalam konteks berharganya shalat, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barang siapa yg terlepas satu shalatnya, seakan-akan ia telah kehilangan seluruh keluarga dan hartanya. (Ibnu Hibban-At Targhib).  

Mari kita lakukan shlat dgn tata cara yg benar, itulah sebabnya kita akan melanjutkan pembahasan wacana tata cara shalat terkait Tata Cara Tahiyat Awal dalam Shalat.

Tasyahud Awal biasa dilakukan sehabis selesai dua dua rakaat, utk shalat yg dilakukan 3 atau 4 rakaat.  Pada tasyahud awal, duduknya yakni secara Iftirasy, yaitu: duduk dgn melipat kaki kiri, meletakkan pantat di atas kaki kiri, menegakkan telapak kaki kanan serta menghadapkan jari-jari kaki kanan ke arah kiblat. Cara duduk ibarat ini dilakukan oleh Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah.

 “Beliau menjelaskan bahwa bila duduk dalam tasyahud awal, hendaklah dilakukan dgn thuma’ninah dan membentangkan paha kiri, kemudian bertasyahud.” (HR. Abu Dawud dan Baihaqi dgn sanad jayyid)

Dari Abi Humaid As-Sa’idiy, dia berkata:
“Maka apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di raka’at kedua (tasyahud awal) dia duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Dan apabila duduk di raka’at yg terakhir (tasyahud akhir), dia memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki (kaki kanan) dan duduk di atas kawasan duduknya.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

Meletakkan asisten di atas paha atau lutut kanan, dan tangan kiri di atas paha atau lutut kiri dgn posisi telapak tangan dibentangkan, dan jari-jari menghadap kiblat. (HR. Muslim, Abu Daud, Turmudzi dan lainnya).

Posisi siku sejajar dgn paha. Artinya siku tidak dibentangkan ke samping. Sahabat Wail bin Hujr menceritakan,
وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى
“(ketika duduk tasyahud) Beliau memposisikan ujung siku kanannya di atas paha kanan..” (HR. An-Nasai dan dishahihkan Al-Albani)

Maksudnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membentangkan kedua sikunya, namun sejajar dgn paha beliau. Sebagaimana keterangan Ibnul Qoyim dalam Zadul (1/247).

Sangat dianjurkan utk mengisyaratkan jari telunjuk asisten ke arah kiblat dari awal duduk tasyahud atau saat mulai membaca syahadat (Asyhadu allaa ilaaha illallaah..). Karena instruksi jari telunjuk tersebut dilakukan mengiringi doa. Berdasarkan keterangan sobat Wail bin Hujr:


ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا
Kemudian dia berisyarat dgn jari beliau, saya melihat dia menggerakkan jari beliau, dan berdoa saat berisyarat. (HR. An-Nasai dan dishahihan Al-Albani)

Sebagian ulama menjelaskan, dianjurkan utk memulaiisyarat dari awal tasyahud, lantaran lafadz At-Tahiyat merupakan mukadimah doa.

Sangat dianjurkan mengarahkan pandangan ke arah instruksi telunjuk. Berdasarkan keterangan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma saat menceritakan cara shalat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ فِي الْقِبْلَةِ، وَرَمَى بِبَصَرِهِ إِلَيْهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dgn jari telunjuknya ke arah kiblat, dan dia mengarahkan pandangannya ke arah jarinya.” (HR. Nasai dan dishahihkan Al-Albani)

Adapun Cara mengisyaratkan telunjuk saat tasyahud: ada 2 cara

a. Jempol disambungkan dgn jari tengah, sehingga membentuk lingkaran. Berdasarkan keterangan Wail bin Hujr:


وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً، ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ
“(ketika duduk tasyahud) Beliau memposisikan ujung siku kanannya di atas paha kanan. Kemudian dia dua jarinya dan membentuk lingkarang (jempol dgn jari tengah), kemudian berisyarat dgn jari telunjuknya.” (HR. An-Nasai, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)

b. Tiga jari : kelingking, jari elok dan jari tengah digenggamkan, kemudian ibu jari diletakkan di atas jari tengah. Berdasarkan keterangan Az-Zubair bin Awam,

وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ، وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى
Beliau berisyarat dgn jari telunjuknya, dan dia meletakkan jempolnya di atas jari tengahnya. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Umar,


وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ
Beliau menggenggam seluruh jarinya, dan berisyarat dgn jari telunjuknya. (HR. Muslim)


Salah satu Bacaan Ketika Tahiyat Awal:



ATTAHIYATUL MUBARAKATUS-SALAWATUT-TAIYIBATU LILLAH. ASSALAMU 'ALAIKA AIYUHAN NABIYU WARAHMATULLAHI WABARAKATUH. ASSALAMU 'ALAINA WA'ALA 'IBADILLAHIS-SALIHIN. ASY-HADU ALLA ILAHA ILLALLAH. WA ASY-HADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH. ALLAHUMMA SALLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALA A-LI SAYYIDINA MUHAMMAD.


Segala ucapan selamat yg berkat-berkat (berganda-ganda) dan doa yg baik-baik semuanya utk ALLAH. Selamat sejahtera atasmu wahai NABI dan rahmat ALLAHdan keberkatan-NYA. Dan selamat sejahtera atas kita dan juga hamba-hamba ALLAHyg baik-baik. Aku mengaku bahawa tiada dewa melainkan ALLAH. Dan saya mengaku bahawa NABI MUHAMMAD itu utusan ALLAH. Ya ALLAH anugerahkanlah kesejahteraan atas NABI MUHAMMAD dan ke atas keluarga NABI MUHAMMAD

Video Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat




Shalat apabila dihiasi dgn khusyu’ dalam perkataan, dan gerakkannya dihiasi dgn kerendahan, ketulusan, pengagungan, kecintaan dan ketenangan, sungguh ia akan sanggup menahan pelakunya dari kekejian dan kemungkaran. Hatinya bersinar, keimanannya meningkat, kecintaannya semakin kuat, utk melaksanakan kebaikan, dan keinginannya utk berbuat kejelakan akan sirna. Dengan khusyu’, bertambahlah munajat seseorang kepada Rabbnya, demikian pula kedekatan Rabbnya kepadanya. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’I meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Senantiasa Allah ‘Azza wa Jalla menghadap hambaNya di dalam shalatnya, selama dia (hamba) tidak berpaling. Apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun berpaling darinya.”

Khusyu’ mempunyai kedudukan yg sangat besar. Ia sangat cepat hilangnya, dan jarang sekali didapatkan. Terlebih lagi pada jaman kita kini ini. Tidak sanggup menggapai khusyu’ dalam shalat merupakan petaka dan penyakit yg paling besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga merasa perlu berlindung darinya, sebagaimana dia shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a,

“Ya Allah, Aku berlindung kepadaMu dari hati yg tidak khusyu’. (HR. at-Tirmidzi)

Dan tidaklah penyimpangan moral menimpa sebagian kaum muslimin, kecuali lantaran shalat mereka bagaikan bangkai tanpa ruh, dan sebatas gerakan belaka. Ath-Thabrani dan selainnya meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang pertama kali diangkat dari umatku yakni khusyu’ sehingga engkau tidak akan melihat seorang pun yg khusyu’.”

Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang pertama kali hilang dari agama kalian yakni khusyu’, dan yg terakhir kali hilang dari agama kalian yakni shalat. Kadang-kadang seseorang yg shalat tidak ada kebaikannya, dan hampir-hampir engkau masuk masjid tanpa menjumpai di dalamnya seorangpun yg khusyu’.

Shalat yakni penenang seorang muslim dan hiburannya, puncak tujuan dan cita-citanya. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallamberkata kepada bilal, “Tenangkanlah kami dgn shalat.” Beliau bersabda, “Dan dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat.” (HR. an-Nasa’I dan Ahmad)

Shalat menjadi penyejuk hati , kenikmatan jiwa dan nirwana hati bagi seorang muslim di dunia. Seolah-olah ia senantiasa berada di dalam penjara dan kesempitan, hingga hasilnya masuk ke dalam shalat, sehingga gres sanggup beristirahat dari beban dunia dgn shalat. Dia meninggalkan dunia dan kesenangannya di depan pintu masjid, dia meninggalkan di sana harta dunia dan kesibukannya di dalam hatinya. Masuk masjid dgn hati yg penuh rasa takut lantaran mengagungkan Allah mengharapkan pahalaNya.

Abu baker ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, apabila sedang dalam keadaan shalat, seakan-akan ia ibarat tongkat yg ditancapkan. Apabila mengeraskan bacaannya, isakan tangis menyesaki batang lehernya.

Sedangkan ‘Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhu, apabila membaca, orang yg di belakangnya tidak sanggup mendengar bacaannya lantaran tangisannya.

Demikian juga ‘Umar bin abdul ‘Aziz rahimahullah, apabila dalam keadaan shalat, seakan-akan ia ibarat tongkat kayu.

Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, apabila tiba waktu shalat, bergetarlah ia dan berubah wajahnya. Tatkala ditanya, dia menjawab, “Sungguh kini ini yakni waktu amanah yg Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung, mereka enggan utk memikulnya dan takut dgn amanah ini, akan tetapi saya memikulnya.”

Di antara insan ada yg shalat dgn tubuh dan seluruh persendiriannya, menggerakkan lisannya dgn ucapan, menundukkan punggung mereka utk ruku’, turun ke bumi utk sujud, akan tetapi hati mereka tida k bergerak kea rah Allah Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Mereka menampakkan ketundukkan, sedangkan hatinya lari menjauh. Mereka membaca al-Qur’an, akan tetapi tidak meresapinya. Mereka bertasbih, akan tetapi tidak memahaminya. Mereka bangkit di hadapan Allah dan di dalam rumahNya, akan tetapi bahwasanya pandangannya kea rah pekerjaan mereka, tinggal bersama ruh mereka di kawasan tinggal mereka. Begitulah keadaannya, seseorang telah mengerjakan shalat dalam waktu yg lama, akan tetapi ia tidak pernah menyempurnakan shalatnya, meskipun hanya sehari saja, lantaran ia tidak menyempurnakan ruku’nya, sujudnya, dan khusyu’nya. Barangsiapa keadaannya ibarat ini, sungguh ia tidak sanggup mengambil manfaat dari shalatnya, sehingga kadang kala ia memakan harta insan dgn batil, melaksanakan kerusakan di antara manusia, melaksanakan amalan yg bertentangan dgn agama dan akhlak, bahkan dia mengakibatkan shalatnya hanya utk mendapat puji manusia, utk menutupi kedua tangan dan kakinya.








DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2007/01/tata-cara-tahiyat-awal-dalam-shalat.html

0 Response to "Tata Cara Tahiyat Awal Dalam Shalat"

Posting Komentar