Aliran Fatwa Linguistik

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Aliran Fatwa Linguistik

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Aliran Fatwa Linguistik, kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel bimbel masuk ptn, Artikel Kisi Kisi, Artikel Materi, Artikel soal ujian nasional, Artikel ujian sbmptn, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Aliran Fatwa Linguistik
link : Aliran Fatwa Linguistik

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Aliran Fatwa Linguistik

ALIRAN-ALIRAN LINGUISTIK

Berikut ini Aliran-aliran Linguistik, antara
Aliran linguistik Struktural, Aliran linguistik Deskriptif, dan aliran Linguistik fungsional

1.      Aliran linguistik Struktural
Pada awal kurun XX yaitu tahun 1916 lahir aliran linguistik  struktural.  Aliran ini lahir bersamaan dgn diluncurkannya buku ”Course de linguistique Generale” karya Saussure. Ferdinand De Saussureyg juga dikenal sebaga Bapak Strukturalisme dan sekaligus Bapak Linguistik Modern.Ferdinand de Saussure (1857-1913) dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern, berdasarkan pandangan-pandangan yg dimuat dalam bukunya Course de Lisguestique General.
Pandangan yg dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep : 1) telaah sinkronik (mempelajari bahasa dalam kurun waktu tertentu saja) dan diakronik (telaah bahasa sepanjang masa), 2) perbedaan langue dan parole. Langue yaitu keseluruhan sistem tanda yg berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak, sedangkan parale sifatnya konkret lantaran parole tidak lain daripada realitas fisis yg berbeda dari yg satu dgn orang lain, 3) membedakan signifiant dan signifie. Signifiant yakni gambaran suara atau kesan psikologis bunyi yg timbul dalam alam pikiran (bentuk), signifie yakni pengertian atau kesan makna yg ada dalam pikiran kita(makna), 4) Hubungan sintagmatik dan paradigmatik.Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yg terdapat dalam suatu tuturan, yg tersusun secara berurutan, bersifat linear. Hubungan paradigmatik yakni hubungan antara unsur-unsur yg terdapat dalam suatu tuturan dgn unsur-unsur sejenis yg tidak terdapat dalam tuturan yg bersangkutan (Chaer, 2003:346).Tokoh-tokoh lain  yg merupakan penganut teori ini yakni : Bally, Sachahaye, E. Nida, L. Bloomfield, Hockett, Gleason, Bloch, G.L. Trager, Lado, Hausen, Harris, Fries, Sapir, Trubetzkoy, Mackey, jacobson, Joos, Wells, Nelson.

Aliran (aliran) linguistik Struktural


1.1   Ciri-ciri Aliran linguistik Struktural
a.       Berlandaskan pada faham behaviourisme. Dalam hal ini berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap (stimulus-response).
b.      Bahasa berupa ujaran artinya hanya ujaran saja yg termasuk dalam bahasa .
c.      Bahasa merupakan sistem tanda (signifie dan signifiant) yg arbitrerdankonvensional.Berkaitan dgn ciri tanda, bahasa intinya merupakan paduan dua unsur yaitu signifie dan signifiant. Signifie yakni unsur bahasa yg berada di balik tanda yg berupa konsep di balik sang penutur atau disebut juga makna. Sedangkan signifiant yakni wujud fisik atau hanya yg berupa suara ujar.
d.       Bahasa merupakan kebiasaan (habit), dalam hal ini pengajaran bahasa memakai metode drill and practice yakni suatu bentuk latihan yg terus menerus, berkelanjutan, dan berulang-ulang sehingga membentuk kebiasaan.
e.      Kegramatikalan berdasarkan keumuman.
f.       Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi mulai dari yg morfem hingga menjadi kalimat.
g.      Analisis dimulai dari bidang morfologi.
h.      Bahasa merupakan deret sintakmatik dan paradigmatik
i.        Analisis bahasa secara deskriptif.
j.        Analisis struktur bahasa berdasarkan unsur langsung, yaitu unsur yg secara eksklusif membentuk struktur tersebut. Ada empat model analisis unsur eksklusif yaitu model Nida, model Hockett, model Nelson, dan model Wells.

1.2  Pernyataan Pokok Aliran  linguistik Strukturalis
Asumsi Ferdinand De Saussure yg populer dan merupakan dasar kajian ailran struktural yakni bahwa bahasa merupakan realitas sosial yaitu kajian terhadap sruktur bahasa lantaran Saussure menganggap bahwa bahasa sebagai satu struktur sehingga pendekatannya sering disebut Structural Linguistics. Hal tersebut dikembangkan ke dalam enam dikotomi wacana bahasa, yaitu (a) dikotomi sinkronik dan diakronik, (b) dikotomi bentuk (form) dan substansi, (c) dikotomi Signifian dan signifie, (d) dikotomi langue dan Parole, (e) dikotomi individu dan sosial, dan (f) hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik.
Ferdinand De Saussure mengistilahkan bahasa-bahasa sebagai fakta-fakta sosial. Fakta sosial yakni istilah dari pendiri sosiologi, Émile Durkheim, dalam Rules of Sociological Method (1895) utk mengacu pada fenomena gagasan-gagasan ‘minda kolektif’ dalam suatu masyarakat, yaitu yg berada di luar fenomena psikologis maupun fisikal. Fakta sosial bisa berupa konvensi atau aturan-aturan. Contoh fakta sosial yg konvensional yakni kecenderungan orang Amerika mengambil jarak fisik dgn lawan bicara. Contoh fakta sosial yg berupa aturan-aturan yakni sistem aturan suatu masyarakat. Bahasa bisa disetarakan dgn sistem aturan atau struktur konvensi. Datanya berupa fenomena-fenomena fisikal atau parole, sedangkan sistem umumnya yakni langue atau ‘bahasa’. Data konkret parole diproduksi oleh pengujar-pengujar secara indivual. Hal ini dikarenakan penguasaan bahasa setiap orang berbeda-beda, artinya suatu bahasa tidak pernah lengkap pada diri seseorang tetapi lengkap dan secara tepat bahasa hanya di dalam kolektivitas. Jadi, fakta sosial berdasarkan Saussure bukan berupa minda kolektif maupun gagasan kolektif menyerupai yg diterangkan oleh Durkheim. Akibat perbedaan tersebut, muncul dua pendekatan, yaitu pendekatan‘individualisme metodologis’ yg berseberangan dgn pendekatan Durkheim ‘kolektivisme metodologis’.

1.3 Enam Dikotomi wacana Bahasa
1.3.1 Sinkronik-Diakronik
Gagasan Ferdinad De Saussure sanggup digunakan sebagai contoh gres dalam studi bahasa, bahwa kajian linguistik hendaknya dilakukan secara diakronik dan sinkronik. Hal ini dilakukan semoga sanggup memotret pada suatu waktu tertentu dibutuhkan pemahaman wacana bahasa itu utk satu rentangan waktu. Sebagai pemakai, bahasa sanggup ditelaah dari “keberadaan” bahasa itu sendiri tanpa terikat oleh rentangan waktu yg berbeda. Kajian diakronik dianggap terlalu sederhana lantaran hanya mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yg terpisah-pisah, sedangkan kajian sinkronik dipandang lebih rumit lantaran harus mendeskripsikan bahasa itu sendiri.
1.3.1.1 Sinkronik
Kata sinkronis berasal dari bahasa Yunani syn yg berarti dgn, dan khronos yg berarti waktu/masa. Dengan demikian, linguistik sinkronis mempelajari bahasa sezaman. Fakta dan data bahasa yakni rekaman yg diujarkan oleh pembicara, atau bersifat horisontal. Linguistik sinkronis  mempelajari bahasa pada suatu kurun waktu tertentu, contohnya mempelajari bahasa Indonesia di masa reformasi saja.
Saussure mengemukakan bahwa kajian bahasa secara sinkronis amat perlu, meskipun dia banyak berkecimpung dalam kajian diakronis. Baginya, kajian sinkronis bahasa mengandung kesistematisan tinggi, sedangkan kajian diakronis tidak. Kajian sinkronis justru lebih serius dan sulit. Sistem keadaan bahasa ‘sinkronik’ menyerupai sistem permainan catur. Setiap buah catur (setara dgn suatu unit bahasa) mempunyai daerah tersendiri dan mempunyai keterkaitan tertentu dgn buah catur lain, dan kekuatan serta pola gerak/jalan tersendiri.
         1.3.1.2 Diakronik
Kata diakronis berasal dari bahasa Yunani, dia yg berarti melalui, dan khronosyg berarti waktu, masa. Linguistik diakronis yakni linguistik yg menyelidiki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa.  Linguistik diakronis yakni semua yg mempunyai ciri evolusi. Ada banyak sekali conto utk melukiskan dualisme intern (sinkronis dan diakronis),
Jika seseorang hanya melihat sisi diakronis bahasa, maka yg ia lihat bukan lagi langue, melainkan sederet “peristiwa” dan merupakan parole. Linguistik diakronis akan menelaah hubungan-hubungan di antara unsur-unsur yg berturutan dan tidak dilihat oleh kesadaran kolektif yg sama, dan yg satu menggantikan yg lain tanpa membentuk sistem di antara mereka. Sebaliknya, linguistik sinkronis akan mengurusi hubungan-hubungan logis dan psikologis yg menghubungkan unsur-unsur yg hadir bersama dan membentuk sistem, menyerupai dilihat dalam kesadaran kolektif yg sama.
      1.3.2 Bentuk-substansi
Dikotomi antara bentuk dgn substansi menekankan bahwa kajian linguistik harus ditinjau dari segi bentuk dan substansi. Bagi Saussure, substansi penting, namun bentuk lebih penting. Oleh lantaran itu, dalam kajian bahasa, nilai suatu unsur (langsung atau tidak langsung) sangat bergantung pada nilai unsur lain.
     1.3.3 Signifie-signifiant
Bahasa yakni alat komunikasi di dalam masyarakat yg memakai sistem tanda yg maknanya dipahami  secara konvensional oleh anggota masyaraat bahasa tersebut. Tanda bahasa terdiri atas dua unsur yg tak terpisahkan yaitu unsur gambaran akustik (signifiant/petanda) dan unsur konsep (signifie)/penanda). Hubungan kedua unsur ini didasari konvensi dalam  kehidupan sosial. Kedua unsur ini terdapat di dalam pikiran atau kognisi pemakai bahasa.
Saussure beropini bahwa bahasa mencakup suatu himpunan tanda satu lambang yg berupa menyatunya signifiant (bunyi ujaran) dgn signifie (makna). Kedua belahan itu tidak sanggup dipisahkan lantaran ujaran dan makna ditentukan oleh adanya kontras terhadap lambang-lambang lain dari sistem itu. Bahasa tanpa suatu sistem tidak akan ada dasar yg sanggup dipergunakan utk membedakan bunyi-bunyi yg ada ataupun konsep-konsep yg ada.
      1.3.3.1 Signifie
Signifie yakni makna suatu bahasa. Signifie (penanda) merupakan pengertian atau kesan makna yg ada dalam pikiran kita. Setiap tanda tidak sanggup dipisahkan dari tanda yg lain baik lafal maupun maknanya.Dari segi mental, bahasa merupakan suatu totalitas pikiran dalam jiwa manusia. Dari segi fisik, bahasa yakni getaran udara yg lewat suatu tabung dalam alat bicara manusia. Jadi, bahasa merupakan pertemuan antara totalitas pikiran dalam jiwa dan getaran yg dibentuk insan melalui alat-alat bicaranya. Misalnya gambar meja dilambangkan dgn meja (Indonesia), table (Inggris).Apabila ada orang berujar meja dan kita mendengar rentetan suara /m, e, j, a/ itulah yg disebut signifiant, sedangkan baygan kita terhadap sebuah meja disebut signifienya, yaitu sebuah prabot rumah tangga/kantor berkaki, permukaannya datar, bisa berbentuk bundar, atau bersegi, dan deskripsi lainnya wacana meja.
      1.3.3.2 Signifiant
Bahasa yakni sistem lambang dan lambang itu sendiri yakni kombinasi antara bentuk (signifiant) dan arti (signifie). Signifiant merupakan bentuk bahasa yg terkandung dalam sekumpulan fonem. Signifiant juga sebagai perwujudan akustik suatu bahasa atau wujud dasar sistem fonologi suatu bahasa. Jadi, signifiant (penanda) merupakan gambaran suara atau kesan psikologis suara yg timbul dalam pikiran kita.

   1.3.4 Individu-sosial
Dikotomi antara individu dan sosial, Saussure menyampaikan bahwa sikap berbahasa anggota masyarakat sangat ditentukan oleh kelompoknya, meskipun ciri sikap berbahasa masing-masing anggota berbeda antara satu dan lainnya. Perbedaan sikap individu tidak akan menyimpang dari sikap kolektif yg ada pada kelompok.

    1.3.5 Langue-parole
Dikotomi antara langue dan parole sebagai bukti bahwa bahasa merupakan realitas sosial. Sebagai realitas sosial bahasa sangat terikat oleh collective mind bukan individual mind.Sebagai collective mind,bahasa merupakan perpaduan antara parole dan langue.Parole mengacu pada tindak ujar dalam situasi yg sesungguhnya oleh masing masing individu.Langue ialah sistem bahasa yg digunakan secara bahu-membahu oleh masyarakat penuturnya.
Gagasan Saussure wacana fakta sosial, langue, dan parole, menjadi pilar-pilar konsepnya mengenai struktur gagasan yg amat kontroversial.Para bahasawan tertarik berkomentar.Pendekatan Saussure kembali mengemuka dikala dihadapkan pada pandangan Noam Chomsky.Pandangan Chomsky (1964) yg amat kuat yakni yg membedakan kompetence dari performance.Pembedaan tersebut tampak ada kemiripan dgn pembedaan langue dan parole oleh Saussure.Bahkan, Chomsky sendiri menyamakan konsep Linguistic Competence yg diperkenalkannya dgn konsep langue.Namun, sesungguhnya kedua konsep tersebut berbeda.
Langue mengacu pada sistem bahasa yg abstrak.Sistem ini mendasari semua ujaran dari setiap individu.Langue bukanlah suatu ujaran yg terdengar, goresan pena yg terbaca, melainkan suatu sistem peraturan yg umum dan mendasari semua ujaran nyata.Langue merupakan totalitas dari sekumpulan fakta bahasa yg disimpulkan dari ingatan pemakai bahasa dan merupakan gudang kebahasaan yg ada dalam otak setiap individu.
Langue merupakan keseluruhan kebiasaan (kata) yg diperoleh secara pasif yg diajarkan dalam masyarakat bahasa dan memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yg dipahami penutur dan masyarakat sertabersenyawa dgn kehidupan masyarakat secara alami. Eksistensi langue memungkinkan adanya parole merujuk pada cara pembicara memakai bahasa utk mengekspresikan dirinya. Jadi, masyarakat merupakan pihak pelestari langue.
Langue tidak bisa dipisahkan antara suara dan gerak mulut.Langue juga sanggup berupa lambang-lambang bahasa konkret; tulisan-tulisan yg terindera dan teraba (terutama bagi tuna runggu).Langue yakni suatu sistem tanda yg mengungkapkan gagasan. Contoh: Pergi! Dalam kata ini, gagasan kita yakni ingin mengusir, menyuruh, Nah, kata pergi! sanggup juga kita ungkapkan kepada tuna runggu dgn abjad tuna runggu, atau dgn simbol atau dgn tanda-tanda militer.
Langue menyerupai permainan catur, apabila buah caturnya dikurangi akan berubah dan bahkan permainan akan kacau, demikian halnya dalam langue. Jika struktur (sistem) kita ubah, maka akan menimbulkan makna yg lain. Misalnya: saya makan nasi, kalau kalimat ini diubah menjadi: nasi makan saya, maka akan menjadi rancu. 
Langue perlu semoga parole sanggup saling dipahami; dan parole perlu semoga langue terbentuk. Dengan kata lain, secara historis, fakta parole selalu mendahului langue. Bunyi kata: “pergi!” yakni parole, tetapi ia juga termasuk langue lantaran sistem tanda ada di sana dan maknanya pun ada. Langue hadir secara utuh dalam bentuk sejumlah guratan yg tersimpan di dalam setiap otak; kira-kira menyerupai kamus yg eksemplarnya identik (fotocopy), yg akan terbagi di kalangan individu. Jadi, langue yakni sesuatu yg ada pada setiap individu.
Langue bersifat kolektif: bersifat homogen, bahasan konvensional. Rumusnya: 1 + 1 + 1 + 1….= 1. Artinya, kata yg diucapkan oleh individu, diucapkan secara sama oleh orang banyak, begitu juga dgn maknanya, semua masyarakat bahasa tahu. Menurut Alwasilah langue yakni tata bahasa + kosakata + sistem pengucapan. Langue bersifat stabil dan sistematis.
Parole merupakan bahasa tuturan, bahasa sehari-hari, artinya parole merupakan keseluruhan dari apa yg diajarkan orang, termasuk konstruksi-konstruksi individu yg muncul dari pilihan penutur dan pengucapan-pengucapan yg dibutuhkan utk menghasilkan konstruksi individu berdasarkan pilihan bebas juga. Parole perwujudan langue pada individu. Parole merupakan manifestasi individu dari bahasa. Parole bukan fakta sosial lantaran seluruhnya merupakan hasil individu yg sadar, termasuk kata apapun yg diucapkan oleh penutur. Parole bersifat heterogen. Unsur-unsur parole dibedakan kedalam beberapa bagian, menyerupai : (1) kombinasi-kombinasi arahan bahasa (tanda baca) yg dipergunakan penutur utk mengungkapkan gagasan pribadinya. Misalnya, perang, kataku, perang! Kalimat ini kalau diucapkan oleh orang yg sama pun, akhirnya akan berbeda dalam penyampaiannya lantaran pelafalannya  pun berbeda, kata perang pertama dilafalkan secara berbeda dgn kata perang kedua; (2) prosedur psikis-fisik yg memungkinkan seseorang mengungkapkan kombinasi-kombinasi tersebut. Parolelah yg menciptakan langue berubah. Jadi, antara langue dan parole saling terkait; langue sekaligus alat dan produk parole. Parole sanggup dirumuskan: (1’ + 1’’ + 1’’’ + 1’’’’…..). artinya, kata yg sama pun akan dilafalkan secara berbeda, baik orang yg sama maupun oleh banyak orang.

     1.3.6 Sintakmatik-paradigmatik
Paradigmatik merupakan hubungan yg menyatakan adanya kemampuan mengganti unsur dalam suatu lingkungan yg sama, sedangkan hubungan sintakmatik (horizontal) merupakan hubungan yg menyatakan adanya kemampuan mengombinasikan ke dalam konstruksi yg lebih besar.Contoh. Budi menendang bola adalah deretan Budi-menendang-bola. Urutan ketiga kata  ini bukan bersifat manasuka tanpa berpatokan pada kaidah (langue) bahasa Indonesia, tetapi hubungan sintaksis subjek—predikat-objek. Meskipun urutan itu diubah, fungsi gramatikal tetap contohnya Bola-Budi-tendang; Tendang-bola-Budi.
Pada kalimat Budi menendang bola  terbentuk dari unsur Budi, menendang, bola yg masing-masing menempati ruang kosong yg kemudian disebut gatra. Kaidah (langue) bahasa Indonesia gatra sanggup diisi dgn unsur bahasa tertentu saja. Jadi, gatra yakni ruang kosong  yg terdapat sebelum, di tengah, dan sesudah tanda hubung. Pada conto kalimat di atas, sanggup kita sebut gatra [1] - [2] - [3]. Dalam sintaksis [1], [2], [3] disebut fungsi sintaksis dan dalam hal ini setiap fungsi itu sanggup diisi oleh kata tertentu sesuai dgn kaidah. Dalam conto yg sama Budi-menendang-bola, gatra [1] yg diisi Budi bisa diisi Ali, Candra, Damar, Dia, Mereka, Adik, dll. Tetapi kata-kata itu tidak sanggup berada di ruang dan waktu yg sama. Kata-kata itu hanya bisa diasosiasikan  secara in absentia. Hubungan  itu dikatakan hubungan asosiatif atau kata-kata itu berada dalam kekerabatan asosiatif.  Kata-kata yg mengisi gatra tergolong kata sejenis atau disebut berada dalam paradigma yg sama. Hal yag sama bisa berlaku utk kata menendang bisa diisi kata mengambil, melempar, menyembunyikan, membuang;  bola bisa isi dgn kata batu, kelapa, piring. Relasi asosiatif ini kemudian disebut kekerabatan paradigmatik. Pada tataran langue setiap penutur  bahasa menguasai  semacam piranti atau jejaring unsur-unsur bahasa yg tergolong-golong dalam paradigma  dan unsur-unsur itu saling membedakan. Jejaring inilah ang disebut sebagai sistem bahasa.
Tokoh lain yg mengemukakan aliran linguistik struktural yakni Leonard Bloomfield(1887-1949). Bloomfield salah spesialis bahasa Amerika yg paling besar sumbangannya dalam menyebarluaskan prinsip-prinsip dan metode-metode yg biasa disebut “Strukturalisme Amerika”.Hal gres dalam teori Bloomfiled yakni adanya penitikberatan filosofis dalam status linguistik sebagai sains.Teori Bloomfiled wacana bahasa sangat berbau behaviorism.Aliran Bloomfield ini berkembang pesat di Amerika pada tahun tiga puluhan hingga final tahun lima puluhan. Ada beberapa faktor yg memnyebabkan aliran ini sanggup berkembang pesat,yaitupertama, pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi dilema yg sama, yaitu banyak bahasa Indian di Amerika yg belum diperikan. Mereka ingin memerikan bahasa-bahasa Indian itu dgn cara baru, yaitu secara sinkronik. Kedua, sikap Bloomfield yg menolak mentalistik sejalan dgn iklim filsafat yg berkembang pada masa itu di Amerika, yaitu filsafat behaviorisme.Oleh lantaran itu, dalam memerikan bahasa aliran strukturalisme ini selalu mendasarkan diri pada fakta-fakta objektif yg sanggup dicocokkan dgn kenyataan-kenyataan yg sanggup diamati.Ketiga, diantara linguis-linguis itu ada hubungan yg baik, lantaran adanya The Linguistics Society of America, yg menerbitkan majalah Language wadah daerah melaporkan hasil kerja mereka.
Dalam bukunya Language, Bloomfield mempunyai pendapat yg bertentangan dgn Sapir. Sapir beropini fonem sebagai satuan psikologis, tetapi Bloomfield beropini fonem merupakan satuan behavioral. Bloomfield dan pengikutnya melaksanakan penelitian atas dasar struktur bahasa yg diteliti, lantaran itu mereka disebut kaum strukturalisme dan pandangannya disebut strukturalis. Bloomfield beserta pengikutnya menguasai percaturan linguistik selama lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu itu kaum Bloomfieldian berusaha menulis tata bahasa deskriptif dari bahasa-bahasa yg belum mempunyai aksara. Kaum Bloomfieldian telah berjasa meletakkan dasar-dasar bagi penelitian linguistik di masa setelah itu. Bloomfield beropini fonologi, morfologi dan sintaksis merupakan bidang berdikari dan tidak berhubungan. Tata bahasa lain yg memperlakukan bahasa sebagai sistem hubungan yakni tata bahasa stratifikasi yg dipelopori oleh S.M. Lamb. Tata bahasa lainnya yg memperlakukan bahasa sebagai sistem unsur adalahtata bahasa tagmemik yg dipelopori oleh K. Pike. Menurut pendekatan ini setiap gatra diisi oleh sebuah elemen. Elemen ini bersama elemen lain membentuk suatu satuan yg disebut tagmem.

1.4         Keunggulan Aliran Struktural
a.      Aliran ini sukses membedakan konsep grafem dan fonem.
b.      Metode drill and practice membentuk keterampilan berbahasa berdasarkan kebiasaa
c.      Kriteria kegramatikalan berdasarkan keumuman sehingga gampang diterima masyrakat awam.
d.      Level kegramatikalan mulai rapi mulai dari morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat.
e.      Berpijak pada fakta, tidak mereka-reka data.

1.5      Kelemahan Aliran linguistik Struktural
a.      Bidang morfologi dan sintaksis dipisahkan secara tegas.
b.      Metode drill and practice sangat memerlukan ketekunan, kesabaran, dang sangat menjemukan.
c.      Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap berlangsung secara fisis dan mekanis padahal insan bukan mesin.
d.      Kegramatikalan berdasarkan kriteria keumuman , suatu kaidah yg salah pun bisa benar kalau dianggap umum.
e.      Faktor historis sama sekali tidak diperhitungkan dalam analisis bahasa.
f.       Objek kajian terbatas hingga level kalimat, tidak menyentuh aspek komunikatif.

Aliran (Aliran) linguistik linguistik Deskriptif


2      Aliran linguistik linguistik Deskriptif
Menurut bahasa, linguistik yakni ilmu yg mempelajari atau menelaah wacana tata bahasa, sedangkan deskriptif yakni menggambarkan apa adanya.. Misalnya, mengkaji bahasa Indonesia apa adanya. Linguistik deskriptif, artinya mendeskripsikan bahasa secara apa adanya. Objek kajian linguistik deskriptif yakni fonologi, morfologi, sintaksis,  dan semantik.
Aliran deskriptif adalahAliran yg memperlihatkan deskripsi (pemerian) dan analisis bahasa (Alwasilah,1993:96). Aliran lahir pada final kurun ke  XIX dan permulaan kurun XX dikala Saussure sedang mengajukan ide-idenya di Eropa, muncul linguistik sinkronis di Amerika di bawah pencetus Franz Boas. Boas memperlihatkan arah bagi linguistik Amerika yg kemudian menjadi besar dan berkembang.Dalam aliran ini muncul beberapa tokoh penting menyerupai Franz boas dan Leonard Bloomfield.sBoas dan teman-temannya memperlihatkan perhatian yg besar pada penguraian struktur bahasa-bahasa Indian. Oleh alasannya yakni itu, mereka disebut juga golongan deskriptif.Kaum deskriptif ini berusaha keras membangun teori-teori bahasa yg abnormal dan bersifat umum berdasarkan hasil-hasil penelitian yg dilakukannya. Menurut Boas, tidak ada satu bahasa yg merupakan bahasa ideal yg menjadi ukuran bahasa-bahasa lainnya. Selain itu, sekelompok pemakai bahasa tertentu tidak berhak menyampaikan bahwa bahasa yg digunakan oleh kelompok lainnya tidak rasional.Yang benar yakni pada setiap bahasa terdapat kategori-kategori logis tertentu yg harus digunakan pada bahasa tersebut. Bagi Boas bahasa hanyalah merupakan tuturan artikulasi, yaitu bunyi-bunyi yg dihasilkan oleh alat-alat artikulasi. Kunci dasar pemikiran Boas terletak pada kesadarannya, yg muncul dalam masa perjalananya (ke Tanah Baffin pada 1883-1844).Karyanya berupa buku Handbook of American Indian Languages (1911-1922) ditulis bersama sejumlah koleganya. Di dalam buku tersebut terdapat uraian wacana fonetik, kategori makna dan proses gramatikal yg digunakan utk mengungkapkan makna. Pada tahun 1917 diterbitkan jurnal ilmiah berjudul International Journal of American Linguistics.Perbedaan utama antara tradisi Boas dan Saussure ialah terletak pada hakekat wacana bahasa. Saussure mengikat perhatian kepada para sarjana dgn  menemukan cara gres utk mengamati fenomena yg sudah usang dikenal dan sudah tidak lagi mengherankan bagi mereka. Boas dan rekan-rekannya berhadapan dgn masalah-masalah simpel utk menghasilkan bagaimana bentuk struktur yg ada dalam banyak sekali bahasa yg diucapkannya.
Aliran deskriptif bertujuan utk memikirkan pembuat teori linguistik yg abnormal sebagai alat utk menuntaskan deskripsi bahasa-bahasa tertentu dgn simpel dan sukses.Salah satu ciri dari aliran yg dipelopori oleh Boas adalah relativisme.Menurut aliran ini tidak ada bahasa yg ideal, di mana bahasa-bahasa yg sesungguhnya lebih akrab atau agak jauh hubungannya.Boas juga berusaha keras membantah aliran Romantis kurun XIX yg menganggap bahwa bahasa yakni kerangka jiwa suatu bangsa.Bahwa bangsa dalam arti keturunan, bahasa dan kebudayaan yakni tiga dilema terpisah yg terperinci berjalan bersama-sama. Berikut yakni ide-ide Boas : (1) kategori gramatikal, setiap bahasa mempunyai sistem gramatikal dan sistem fonetik masing-masing. Sistem fonetik digunakan sesuai dgn kebutuhan makna yg dimaksudkan.oleh lantaran itu, unit dasar bahasa yakni kalimat.; (2) pronomina kata ganti, tidak ada orang pertama jamak, lantaran kata ganti itu tidak tetap; (3) verbamemiliki dalam bahasa-bahasa Eropa sifatnya arbitrari dan berkembang tidak merata pada banyak sekali bahasa di sana.

2.1    Tokoh-tokoh Linguistik Deskriptif
a. Ferdinand De Saussure (1858-1913)
Seorang linguis Swiss yg sering disebut sebagai Bapak atau Pelopor Linguistik Modern, lahir di Swiss 17 Nopember 1857, berguru di Geneva dan berkuliah di Jerman Barat di bawah pimpinan Prof. G Curtius. Setelah menuntaskan kuliahnya ia pergi ke paris dan membuatkan dirinya dalam societe linguistique. Di usia 24 telah memperlihatkan kuliah Ilmu Perbandingan Tata Bahasa di Paris dari tahun 1891 hingga dgn wafat tahun 1913.
            De Saussure disebut sebagai “ Bapak Linguistik Modern” lantaran pandangan -pandangannya yg gres mengenai studi bahasa. Pandangan-pandangan tersebut di antara lain mengenai  telaah sinkronik dan diakronik dalam suatu studi bahasa, perbedaan language dan parole, dan perbedaan signifant dan signifie.
a.                Leonard Bloomfield
Seorang tokoh linguistik Amerika yg pada awalnya tidak mempunyai perhatian pada bidang linguistik,  bercita-cita menjadi seorang akademikus dan mau mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan. Namun setelah bertemu dgn temannya yaitu Prokosch dan berbincang-bincang wacana tata bahasa, kemudian memutuskan utk melanjutkan pekerjaannya dalam bidang linguistik.
Dalam analisa bahasa, Bloomfield menekankan bahwa bahasa harus bersifat deskriptif ilmiah.Keilmiahan itu berarti bahwa setiap definisi bahasa yg diberikan harus dalam istilah-istilah fisik yg diambil dari kenyataan yg ada.Selain itu Bloomfield memperluas bidang linguistik dalam beberapa aspek.
b.                John Ruperth Firth
Seorang linguis inggris yg pada tahun 1994 mendirikan sekolah linguistik deskriptif di London.Menurutnya dalam kajian linguistic yg paling penting yakni konteks. Menurutnya, bahasa itu terdiri dari limatingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik.

2.2      Keunggulan Aliran Deskriptif
a.         Aliran ini sudah memerikan bahasa Indian dgn cara yg gres secara sinkronis.
b.         Menolak mentalistik sejalan dgn iklim filsafat yg berkembang pada masa itu yaitu behaviorisme.
c.         Aliran ini sudah mengelompokkan kategori gramatikal, verbal dan pronomina kata ganti.
d.         Terjadinya hubungan yg baik antar sesama linguis.
e.         Mimiliki cara kerja yg sangat menekankan pentingnya data yg objektif utk memerikan suatu bahasa.

2.3      Kelemahan Aliran Deskriptif
Kurang memperhatikan akan makna dan arti lantaran aliran ini lebih cenderung menganalisis fakta-fakta secara objektif dan nyata.

ALIRAN (ALIRAN) LINGUISTIK FUNGSIONAL


3.     ALIRAN LINGUISTIK FUNGSIONAL
ALIRAN Linguistik fungsional dipelopori oleh Roman Jakobson dan Andre Martinet, kehadirannya sangat berarti dalam upaya menjembatani kesenjangan (gap) antara linguistik struktural Amerika dan Eropa.Linguistik struktural (Eropa) banyak dipengaruhi oleh gagasan fungsi-fungsi linguistik yg menjadi ciri khas aliran Praha. Trubeckoj populer membuatkan metode-metode deskripsi fonologi, maka R. Jakobson populer dikarenakan telah menyatakan dgn niscaya pentingnya fonologi diakronis yg mengkaji kembali dikotomi-dikotomi F. de Saussure antara lain dikotomi yg memisahkan dgn tegas sinkronis dan diakronis.
Andre Martinet banyak membuatkan teori-teori aliran Praha. Dengan tulisannya wacana netralisasi dan segmentasi dan telah memperkaya dalam pengembangan studi linguistik, terutama fonologi deskriptif, fonologi diakronis, sintaksis, dan linguistik umum, disamping ia menerapkan metode dan linguistik modern dgn menaruh perhatian yg luar biasa pada kenyataan bahasa aktual.
Gagasan Jakobson merupakan pengembangan dari pemikiran-pemikiran aliran Praha.Selain fungsi linguistik sebagai ciri khas sekolah Praha, Jakobson juga menyoroti fungsi-fungsi unsur tertentu dan fungsi-fungsi acara linguistik itu sendiri.Jakobson memandang suatu tindak linguistik dari enam sudut, yaitu (1) dalam hubungan dgn pembicara, (2) pendengar, (3) konteks, (4) kontak, (5) kode, dan (6) pesan. Sehingga ditemukan enam fungsi, yaitu: (a) ekspresif, berpusat pada pembicara, yg ditujukan oleh interjeksi-interjeksi; (b) konatif, berpusat pada pendengar, yg ditujukan oleh vokatif dan imperative; (c) denotative, berpusat pada konteks, yg ditujukan oleh pernyataan-pernyataan faktual, dalam pelaku ketiga, dan dalam suasana hati indikatif; (d) phatic, berpusat pada kontak, yg ditujukan oleh adanya jalur yg tidak terputus antara pembicara dan pendengar. Misalnya, dalam pembicaraan melalui telefon, kata-kata ‘hello, ya..ya…, heeh’ yg dipergunakan utk menciptakan terperinci bahwa seseorang masih mendengarkan dan mengambarkan jalur percakapan tidak terputus; (e) metalinguistik, berpusat pada kode; yg berupa bahasa pengantar ilmu pengetahuan, biasanya berisi rumus-rumus atau lambang-lambang tertentu; dan (f) puitis, berpusat pada pesan.
Selanjutnya gagasan dan pandangan Jakobson lain yakni telaah tentang aphasia dan bahasa kanak-kanak. Aphasia yg dimaksud yakni tanda-tanda kehilangan kemampuan memakai bahasa lisan baik sebagian maupun seluruhnya, sebagai akhir perkembangan yg salah. Gangguan afasik sanggup dikelompokkan menjadi dua, yakni: (1) similarity disorders, yg mensugesti seleksi dan subtitusi item, dgn stabilitas kombinasi dan konstektur yg bersifat relative; dan (2) contiguity disorders, yg seleksi dan subtitusinya secara relatif normal sedangkan kombinasi rusak dan tidak gramatikal, urutan kata kacau, hilangnya infleksi dan preposisi, konjungsi, dan sebagainya
Jakobson juga menekankan pentingnya korelasi-korelasi fonologis sebagai seuntai perbedaan-perbedaan arti yg terpisah.  Menurut buku Jakobson dan Halle Fundamentals of Language, 1956, menyatakan ciri-ciri expressive, configurative, dan distinctive: expressive, meletakan tekanan pada belahan ujaran  yg berbeda atau pada ujaran yg berbeda; menyarankan sikap emosi pembicara;configurative, menandai belahan ujaran ke dalam satuan-satuan gramatikal, dgn memisahkan ciri kulminatif satu persatu, atau dgn memisahkan membatasinya (ciri-ciri demarkatif);Distinctive, bertindak utk memperinci satuan-satuan linguistik, ciri-ciri itu terjadi secara serempak dalam untaian, yg berujud fonem. Fonem-fonem dirangkaikan ke dalam urutan; pola dasar urutan serupa itu berujud suku kata.Dalam setiap suku kata terdapat belahan yg lebih nyaring yg berupa puncak.Bila puncak itu berisi dua fonem atau lebih, maka salah satu daripadanya yakni puncak fonem atau puncak suku kata.
Andre Maertinet, membuatkan teori-teori mengenai fonologi deskriptif, fonologi diakronis, sintaksis, dan linguistik umum merupakan pinjaman pemikiran bagi linguistik modern. Fonologi sebagai fonetik fungsional harus berdasarkan fakta-fakta dasar atau mengetahui fungsi-fungsi perbedaan suara bahasa sebagaimana mestinya.Martinet mencurahkan perhatian pada fonologi diakronis, dgn mencoba menciptakan deskripsi murni, fonologisasi dan defonologisasi direkam, disertai keterangan wacana perubahan-perubahan berdasarkan prinsip-prinsip umum. Kriterium interpretasi dasar diberikan oleh dua unsur yg berlawanan: (1) efisiensi dalam komunikasi, dan (2) tendensi pada upaya yg minimum. Ia juga menyatakan analisis fonem ke dalam ciri-ciri distingtif mengungkapkan adanya korelasi-korelasi sebuah fonem yg terintegrasi dalam untaian korelatif akan menjadi stabil. Selain itu dikembangkan pula artikulasi rangkap yg menarik dan menggarisbawahi pada fungsi sintaksis sebagai gagasan yg sentral.Gagasannya ini berupa kelanjutan wawasan fungsional yg telah disarankan oleh Sekolah Praha. Fungsi-fungsi bahasa dan fungsi-fungsi unsur linguistik sebagai suatu sistem unsur-unsur atau struktur unsur-unsur, dipelajari utk menjelaskan perbedaan bahasa dgn sistem tanda buatan yg mungkin distrukturkan dalam suatu cara yg sama tetapi tak sanggup mempunyai fungsi-fungsi yg sama menyerupai bahasa. Bagaimanapun pandangan struktural itu sanggup dirujukkan kembali dgn pandangan fungsional, meskipun hal itu bagi Martinet yakni perhiasan logisnya. Pilihan nama fungsional sebagai pengganti struktural, memperlihatkan bahwa aspek fungsional yakni paling membuka pikiran, dan bahwa hal itu tidak mesti dipelajari secara terpisah dari yg lain.
Kemunculan aliran fungsionalisme dalam bidang linguistik merupakan donasi dari banyak sekali bidang ilmu diantranya yakni antropologi, sosiologi,  dan psikologi yg menganut strukturalisme. Hal ini sanggup dilihat dari imbas besar Saussure hingga Chomskin. Fungsionalisme dalam kajian ini kemudian lebih dikenal dgn sebutan Struktural Fungsional.
Fungsionalisme yakni gerakan dalam linguistik yg berusaha menjelaskan fenomena bahasa dgn segala manifestasinya dan beranggapan bahwa prosedur bahasa dijelaskan dgn konseuensi-konsekuensi yg ada kemudian dari prosedur itu sendiri. Wujud bahasa sebagai sistem komunikasi insan tidak sanggup dipisahkan dari tujuan berbahasa, sadar atau tidak sadar.
Konsep utama dalam fungsionalisme ialah fungsi bahasa dan fungsi dalam bahasa. Sikap fungsionalistis terhadap fungsi bahasa sebagai berikut.
a.         Analisis bahasa mulai dari fungsi ke bentuk.
b.         Sudut pandang pembicara menjadi perspektif analisis.
c.         Deskripsi yg sistematis dan menyeluruh wacana hubungan antara fungsi dan bentuk.
d.         Pemahaman atas kemampuan komunikatif sebagai tujuan analisis bahasa.
e.         Perhatian yg cukup pada bidang interdisipliner, contohnya sosiolinguistik dan penerapan linguistik pada dilema praktis, contohnya pelatihan bahasa.

3.1      Keunggulan  Aliran Linguistik Fungsional
a.      Pada khasanah kebahasaan, linguistik Fungsional, sangat mensugesti tata bahasa dalam khasanah perkembangan linguistik sebelumnya, sekaligus membuka cakrawala gres semoga aspek fungsional menjadi pertimbangan penelitian bahasa. Dengan menelurkan istilah fungsional, simpel landasan yg digunakan dalam melihat bahasa berdasarkan fungsi, khususnya tataran fonologi, morfem, dan sintaksis. Keunggulan aliran ini yakni kita sanggup mengetahui bahwa setiap fonem (bunyi) itu mempunyai fungsi, sehingga dapat, membedakan arti. Setiap monem (istilah Martinet) yg diartikulasikan mempunyai isi dan ekspresi, dgn begitu sanggup dilihat fungsinya. Kemudian pada tataran yg lebih besar yaitu sintaksis, aliran ini menekankan pada fungsi preposisi dan struktur kalimat, maksudnya unsur linguistik dalam sebuah kalimat sanggup dijelaskan dgn merujuk pada fungsi sehingga ditemukan pemahaman logis yg utuh. Jadi, aliran ini telah berhasil melihat setiap komponen bahasa berdasarkan fungsi dan menginspirasi gagasan adanya kekerabatan antara struktur dan fungsi bahasa.
b.      Sementara dalam dunia sastra, gagasan Jakobson wacana enam fungsi bahasa menjadi pijakan dalam menelaah karya sastra. Idenya tersebut melahirkan istilah model komunikasi sastra, yg memusatkan pada pesan yg terkandung dalam karya sastra. Model ini banyak diadopsi utk menggali fungsi bahasa dalam wacana baik wacana ilmiah maupun non ilmiah, sastra maupun non sastra.  

3.2      Kelemahan Linguistik Fungsional
a.      Gagasan fungsional tidak menyentuh secara mendalam komponen fungsional utk memilih makna dalam penelitian bahasa, menyerupai pada tataran sintaksis hanya menyebutkan adanya fungsi dalam setiap struktur bahasa, namun tidak menjelaskan terminologi apa saja yg tercakup di dalamnya. Selanjutnya, bagaimana menyusun kalimat yg benar berdasarkan fungsi pun tidak jelas. Demikian halnya pada tataran fonologi dan morfologi. Jadi, kelemahan aliran ini yakni tidak bisa menguraikan fungsi unsur linguistik lebih rinci, khsususnya .pada tataran sintaksis. Dalam struktur kalimat, gagasan aliran ini tidak menjelaskan komponen apa saja yg tercakup dalam aspek fungsional pada kalimat. Sebagaimana kita ketahui ada fungsi lain dalam kalimat yaitu fungsi semantis dan fungsi pragmatis.
b.      Sementara dalam dunia sastra, fungsi bahasa yg dinyatakan oleh Jakobson, dikala diterapkan dalam menganalisis karya sastra mempunyai kekurangan. Model komunikasi sastra Jakobson tidak memperhatikan potensi kebahasaan yg lain menyerupai mengabaikan relevansi sosial budaya. Padahal, sosial budaya memainkan peranan penting dalam memahami makna bahasa, terlebih dalam karya sastra lantaran di dalamnya melibatkan aspek sosio cultural yg sangat kental. Mengacu pada model komunikasi sastra, karya sastra hanya bertumpu pada pesan yg disampaikan, padahal pemahaman karya sastra sangat tergantung pada pemahaman pembaca. Adanya unsur keterkaitan intertektualitas dan intratekstualitas dalam memahami karya sastra perlu diperhatikan, lantaran setiap karya sastra tidak ada yg berdiri sendiri. 






DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Aliran Fatwa Linguistik

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Aliran Fatwa Linguistik kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Aliran Fatwa Linguistik dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2008/01/aliran-fatwa-linguistik.html

0 Response to "Aliran Fatwa Linguistik"

Posting Komentar