Prestasi Mencar Ilmu Siswa

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Prestasi Mencar Ilmu Siswa

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Prestasi Mencar Ilmu Siswa, kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel bimbel masuk ptn, Artikel FGI, Artikel Kisi Kisi, Artikel soal ujian nasional, Artikel ujian sbmptn, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Prestasi Mencar Ilmu Siswa
link : Prestasi Mencar Ilmu Siswa

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Prestasi Mencar Ilmu Siswa

PRESTASI BELAJAR SISWA
Dari kegiatan tertentu yg digeluti utk mendapatkan prestasi, maka munculah banyak sekali pendapat dari para andal sesuai dgn keahlian mereka masing-masing utk memperlihatkan pengertian mengenai kata “prestasi”. Namun secara umum mereka sepakat, bahwa “prestasi” yaitu hasil dari suatu kegiatan.

Untuk memperoleh citra serta pemahaman yg terperinci wacana pengertian prestasi belajar, terlebih dahulu penulis akan mencoba utk mengungkapkan beberapa pendapat dari para tokoh wacana pengertian dari prestasi dan belajar. Prestasi berguru merupakan sebuah kalimat yg terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar, dan kedua kata tersebut masing-masing mempunyai arti dan makna yg berbeda.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata prestasi berarti “hasil yg telah dicapai” (dari yg telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Prestasi yaitu hasil dari suatu kegiatan yg telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok.  Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melaksanakan suatu kegiatan. Dalam kenyataan utk mendapatkan prestasi tidak semudah yg dibaygkan, tetapi penuh usaha dgn banyak sekali tantangan yg harus dihadapi utk mencapainya.

Sedangkan berdasarkan Mas’ud hasan Qohar prestasi yaitu “apa yg telah sanggup diciptakan, hasil pekerjaan, hasil menyenangkan hati yg diperoleh dgn jalan keuletan kerja.” Sementara itu Nasrun Harahap memperlihatkan batasan bahwa prestasi yaitu “penilaian pendidikan wacana perkembangan dan kemajuan murid yg berkenaan dgn penguasaan materi aliran yg disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yg terdapat dalam kurikulum.”

Prestasi  atau hasil berguru merupakan sesuatu yg sanggup dipandang dari dua sisi, yaitu dari sisi siswa dan dari sisi guru. Lebih lanjut Dimyati dan Mudjiono menjelaskan sebagai berikut :
“Hasil berguru dipandang dari sisi siswa merupakan tingkat perkembangan mental yg lebih baik bila dibandingkan pada ketika pra belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, efektif dan psikomotorik. Hasil belajar, sebagai hasil dari proses pembelajaran terkait dgn materi pelaharan. Dari sisi guru, hasil berguru merupakan ketika terselesaikannya materi ajaran. Hal ini terkait juga penggal-penggal pengajaran. Hasil berguru dinilai dgn ukuran-ukuran guru, tingkat sekolah dan tingkat nasional. Dengan ukuran-ukuran tersebut, seorang siswa yg keluar sanggup digolongkan kedalam kategori lulus atau tidak lulus. Dari segi proses belajar, keputusan wacana hasil berguru besar lengan berkuasa pada tingkah laris siswa dan guru.”

Keputusan wacana hasil berguru merupakan feed back (umpan balik) dan reinforcement (penguatan) bagi siswa dan guru, serta menjadi puncak harapan siswa. Secara kejiwaan, proses berguru siswa akan dipengaruhi oleh hasil berguru yg telah diperolehnya, oleh lantaran itu sekolah dan guru diperlukan berlaku pintar dan bijaksana dalam memutuskan serta memberikan hasil berguru siswa.

Untuk itu sanggup dipahami bahwa prestasi yaitu hasil dari suatu usaha atau kegiatan yg telah dikerjakan, diciptakan yg menyenangkan hati yg diperoleh dari keuletan kerja.

Oleh lantaran itu, prestasi tidak akan dihasilkan selama seseorang tidak melaksanakan suatu kegiatan. Dalam kenyataan utk mendapatkan prestasi tidak semudah yg dibaygkan, tetapi penuh dgn usaha dan banyak sekali tantangan yg harus dihadapi utk utk mencapainya. Hanya keuletan dan kesadaran dari individu itu sendiri yg membantu utk mencapai suatu prestasi.

Dalam mendefinisikan wacana berguru banyak orang beranggapan bahwa yg dimaksud dgn berguru yaitu mancari ilmu atau menuntut ilmu, hampir semua andal pendidikan mencoba merumusakan dan menafsirkan wacana belajar, dalam definisi sering kali rumusan itu berbeda satu sama lain.
Belajar yaitu suatu proses yg selalu memperlihatkan kepada suatu proses perubahan prilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu. Pendapat yg sama dikemukakan oleh  Sobri bahwa berguru yaitu proses perubahan tingkah laris sebagai akhir pengalaman atau latihan.

Belajar tidak hanya meliputi mata ajaran, tetapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat, pembiasaan sosial, majemuk keterampilan dan cita-cita. Namun tidak sama perubahan prilaku berarti belajar, orang yg tangannya patah lantaran kecelakaan mengubahtingkah lakunya, tetapi kehilangan tangan itu sendiri bukanlah belajar. Mungkin orang itu melaksanakan perbuatan berguru utk mengimbangi tangannya yg hilang itu dgn mempelajari keterampilan baru. Perubahan tidak selalu harus menghasilkan perbaikan ditinjau dari nilai-nilai sosial. Seorang penjahat mungkin sekali menjadi seorang ahli, tetapi dari segi pendangan sosial hal itu bukanlah berarti perbaikan.

Menurut Hilgard dan Brower sebagaimana yg dikutip oleh Oemar Hamalik dalam bukunya “psikologi pendidikan” mereka mendefinisikan berguru sebagai perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman.

Dengan demikian sanggup dikatakan bahwa berguru yaitu suatu proses perubahan tingkah laris melalui pendidikan atau lebih khusus melalui mekanisme latihan, perubahan itu sendiri berangsur-angsur dimulai dari sesuatu yg tidak diketahui atau dikenalnya utk kemudian dikuasai atau dimilikinya dan dipergunakan hingga pada suatu ketika utk dievaluasi oleh yg menjalani proses berguru itu.

Rumusan wacana berguru yaitu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik utk menuju perkembangan pribadi insan seutuhnya, yg berarti menygkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, efektif dan psikomotorik.

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono beropini mengenai pengertian berguru secara psikologis ialah suatu proses usaha yg dilakukan individu utk memperoleh suatu perubahan tingjah laris yg gres secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dgn lingkungan.

Kemudian Nana Sudjana mengemukakan bahwa berguru yaitu suatu proses yg ditandai dgn adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses berguru sanggup ditentukan dalam banyak sekali bentuk menyerupai berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya menerimanya dan lain-lain aspek yg ada pada individu.

Muhibbin Syah beropini bahwa berguru yaitu suatu perubahan tingkah laris yg terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) yg disebabkan oleh pengalaman yg sanggup menghipnotis tingkah laris organisme tersebut.

Dari beberapa perumusan berguru yg telah disebutkan di atas, walapun terdapat perbedaan-perbedaan tetapi secara prinsip mempunyai arti dan tujuan yg sama yaitu bahwa berguru yaitu suatu proses usaha atau interaksi yg dilakukan individu utk memperoleh sesuatu yg gres dan perubahan keseluruhan tingkah laris sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman itu sendiri.

Belajar sanggup dikatakan berhasil apabila dalam diri individu telah terjadi perubahan, begitupun sebaliknya, apabila dalam diri individu tidak atau belum terjadi suatu perubahan maka berguru tersebut bisa dikatan tidak atau belum berhasil dgn baik. Perubahan sebagai hasil proses berguru sanggup ditunjukkan dalam banyak sekali bentuk, menyerupai berubah pengetahuannya, pemahamannya sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya dan lain-lain yg ada pada individu.

Seseorang yg melaksanakan perbuatan berguru sanggup melaksanakan apa yg sebelumnya tidak sanggup dilakukannya, tingkah laris akan berbeda dari pada sebelum ia melaksanakan kegiatan belajar, perubahan meliputi kebiasaan, keterampilan, sikap dan lain-lain. Setelah mengetahui beberapa pendapat dari para andal wacana prestasi dan belajar, maka akan diketahui pengertian dari prestasi berguru itu sendiri.

Prestasi berguru yaitu proses yg di alami siswa dan menghasilkan perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, penerapan, daya analisis sintesis dan evaluasi. Sebagian orang beranggapan bahwa berguru yaitu semata-mata mengumpulkan data dan menghafalkan fakta-fakta tersaji dalam bentuk informasi atau materi ajaran. Orang yg demikian biasanya akan segera merasa besar hati ketika anak-anaknya telah bisa menyebutkan kembali secara verbal sebagian besar informasi yg terdapat dalam buku teks atau yg di ajarkan oleh guru.

Di samping itu ada pula sebagian orang yg memandang berguru sebagai latihan belaka menyerupai yg tampak pada latihan membaca dan menulis. Belajar bukan suatu tujuan atau benda, tetapi berguru yaitu suatu proses kegiatan utk mencapai tujuan. Pengertian proses lebih bersifat merupakan “cara” mencapai tujuan atau benda. Kaprikornus ini merupakan langkah-langkah atau mekanisme yg di tempuh di dalam proses berguru setiap kegiatan saling berinteraksi atau saling mempengaruhi.

Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan,(b) pengetahuan dan pengertian,(c) sikap dan cita-cita. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni(a) informasi ferbal,(b) keterampilan intelektual,(c) seni administrasi kognitif,(d) sikap,(e) keterampilan motoris.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia prestasi berguru yaitu penguasaan pengetahuan atau keterampilan yg dikembangkan oleh mata ajaran. Lazimnya ditunjukkan dgn nilai tes atau angka nilai yg diberikan oleh guru.

Syaiful Bahri Djamarah prestasi berguru yaitu hasil yg diperoleh beupa kesan-kesan yg membangkitkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari kreativitas belajar.

Setelah menelusuri uraian di atas, maka sanggup dipahami prestasi intinya yaitu hasil yg diperoleh dari suatu aktivitas. Sedangkan berguru intinya yaitu suatu proses yg menjadikan perubahan dalam diri individu, yakni perubahan tingkah laku. Dengan demikian pengertian bahwa prestasi berguru yaitu hasil yg diperoleh berupa kesan-kesan yg menjadikan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari pengalaman melalui kegiatan dalam belajar.

Nana Sudjana, prestasi berguru yaitu kemampuan-kemampuan yg dimiliki siswa sesudah ia mendapatkan pengalaman belajarnya.

Muhibbin Syah prestasi berguru yaitu segenap ranah psikologis yg berubah sebagai akhir pengalaman dan proses berguru siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laris seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa siswa sangat sulit. Hal ini lantaran perubahan hasil berguru itu yg tidak sanggup diraba.

Berdasarkan pengertian di atas penulis sanggup menyimpulkan bahwa prestasi berguru yaitu hasil atau perubahan dari apa yg diserap oleh siswa dalam belajar. Dengan kata lain prestasi berguru berarti pnguasaan siswa terhadap materi aliran tertentu yg diperoleh dari hasil berguru yg dinyatakan dalam bentuk scaore sesudah mengikuti kegiatan belajar.

Dengan memperhatikan pengertian “prestasi” dan “belajar” yg telah diungkapkan diatas, terperinci bahwa prestasi intinya yaitu hasil yg diperoleh dari sesuatu aktifitas. Sedangkan berguru yaitu suatu proses yg menjadikan perubahan dalam diri individu, yakni perubahan tingkah laku.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa salah satu dari ruang lingkup pendidikan yaitu waktu atau kesempatan yg tersedia utk belajar. Dengan kata lain, semakin banyak waktu yg digunakan utk belajar, maka semakin besar peluang utk meraih sebuah prestasi.

Dalam kehidupan nyata, sanggup dilihat bahwa Mahasiswa yg sudah menikah mempunyai waktu berguru yg lebih sedikit daripada Mahasiswa yg belum menikah. Dalam hal ini, penerimaan materi juga niscaya terdapat perbedaan, lantaran mahasiswa yg sudah menikah tidak hanya dituntut utk mendapatkan dan memikirkan ajaran, tetapi juga dituntut utk menjaga keharmonisan keluarganya, walaupun tidak menutup kemungkinan utknya berprestasi.

Dengan memperhatikan uraian di atas, terperinci bahwa keadaan individu seseorang contohnya komitmen nikah mempunyai relasi erat dgn prestasi belajar. Dengan kata lain, bahwa status komitmen nikah tidak menutup kemungkinan seseorang terus berguru dan berprestsi, lantaran semakin renta umur seseorang dan perubahan status akan mendorong seseorang utk bersikap lebih bijak dalam menghadapi suatu masalah.



A.   Macam-macam Prestasi Belajar

Prestasi berguru yg dicapai oleh siswa sangat erat kautannya dgn tujuan instruksional yg direncanakan oleh guru sebelumnya. Hal ini dipengaruhi pula oleh kemampuan guru sebagai perancang berguru mengajar. Prestasi berguru yg dicapai siswa dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu prestasi bidang kognitif, afektif dan psikomotorik.
Prestasi bidang kognitif berkenaan dgn hasil berguru intelektual yg terdiri dari enam aspek yakni :
1.    Ingatan, mengacu kepada kemampuan mengenal atau mengingat materi yg sudah dipelajari dari yg sederhana hingga pada teori-teori yg sukar.
2.    Pemahaman, mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupkan tingkat berpikir yg rendah.
3.    Penerapan, mengacu kepada kemampuan memakai atau menerapkan materi yg sudah dipelajari pada situasi yg gres dan menygkut penggunaan aturan, prinsip.
4.    Analisis, mengacu kepada kemampuan menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor penyebabnya, dan bisa memahami relasi di antara cuilan yg satu dgn yg lainnya sehingga struktur dan aturannya sanggup lebih dimengerti.
5.    Sintesis, mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu teladan struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerlukan tingkah laris yg kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat berpikir yg lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.
6.    Evaluasi, mengacu kepada kemampuan memperlihatkan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi utk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berpikir yg tinggi.

Ranah kognitif berkaitan dgn hasil berguru intelaktual yg terdiri dari enam aspek yakni : pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aflikasi, analisis, sintaksis, dan evaluasi. Dibawah ini akan dipaparkan satu persatu :
1.    Tipe hasil berguru pengetahuan
Tipe hasil berguru termasuk kognitif tingkat rendah. Namun, tipe hasil berguru ini menjadi pra syarat bagi tipe hasil berguru berikutnya. Hapalan menjadi pra syarat bagi pemahaman hal ini berlaku bagi semua bidang studi baik, bidang studi matematika, pengetahuan alam, ilmu sosial, maupun bahasa. Misalnya hapal suatu rumusakan mengakibatkan faham bagaimana memakai rumus tersebut.

2.    Tipe hasil berguru pemahaman
Tipe hasil berguru yg lebih tinggi dari pada pengetahuan yaitu pemahaman. Misalnya menjelaskan dgn suatu kalimatnya sendiri sesuatu yg di baca atau di dengarnya memberi conto lain yg telah di contokan. Dalam taksonomi bloom, kesanggupan memahami setingkat lebih tinggi dari pada pengetahuan namun, tidaklah berarti bahwa pengetahuan tidak perlu di tanyakan lantaran utk memahami perlu terlebih dahulu memahami atau mengenal.

3.    Tipe hasil berguru aplikasi
Aplikasi yaitu penggunaan abstraksi pada situasi kongkrit dan situasi khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Menerapkan sabstraksi kedalam situasi gres disebut aplikasi. Bloom membedakan delapan tipe aplikasi di antaranya yaitu :
a)   Dapat memutuskan prinsip atau generalisasi yg sesuai utk situasi gres yg dihadapi.
b)   Dapat menyusun kembali program-programnya sehingga sanggup memutuskan prinsip atau generalisasi yg sesuai.
c)   Dapat mengetahuai hal-hal khusus yg tergampang dari prinsip-prinsip generalisasi.
d)   Dapat menjelaskan alasan memakai prinsip dan generalisasi bagi situasi baru.

4.    Tipe hasil berguru analisis
Anlisis yaitu usaha menentukan suatu integritas menjasi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga terperinci hirarkinya dan atau susunannya. Analisis merupakan percakapan yg kompleks, yg memanfaatkan kecakapan dari ketiga tipe sebelumnya. Dengan analisis diperlukan seseorang mempunyai pemahaman yg komprehensip dan sanggup menentukan integritas menjadi bagian-bagian yg tepat, terpadu, utk beberapa hal memahami prosesnya, cara kerjanya, dan sistematiknya.


5.    Tipe hasil berguru sintesis
Penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian kedalam bentuk menyeluruh disebut sintesis. Berfikir sintesis yaitu berfikir dipergen, dimana dalam berfikir dipergen pemecahan atau jawabannya belum sanggup dipastikan. Berfikir sintesis merupakan terminal utk menjadikan orang lebih kreatif. Berfikir kreatif merupakan salah satu hasil yg hendak dicapai dalam pendidikan.

6.    Tipe hasil berguru : Evaluasi
Evaluasi yaitu tunjangan keputusan wacana nilai sesuatu yg mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode, materi dan lain-lain.

Prestasi bidang afektif berkenaan dgn sikap yg terdiri dari lima aspek sebagai berikut :
1.    Penerimaan, mengacu kepada kesukarelaan dan kemampuan memperhatikan dan memperlihatkan respon terhadap stimulasi yg tepat.
2.    Pemberian respon, reaksi yg diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yg dating dari luar. Hal ini meliputi ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulasi dari luar yg tiba kepada dirinya.
3.    Penilaian, mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dgn reaksi-reaksi menyerupai menerima, menolak, atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut sanggup diklasifikasikan menjadi ‘sikap’ dan ‘apresiasi’.
4.    Pengorganisasian, mengacu kepada penyatuan nilai, yakni pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk relasi satu nilai dgn nilai lain, pemantapan, dan prioritas nilai yg telah dimilikinya.
5.    Karakterisasi, mengacu kepada abjad dan gaya hidup seseorang. Nilai-nilai sangat berkembang dgn teratur sehingga tingkah laris menjadi lebih konsisten dan lebih simpel diperkirakan. Tujun dalam kategori ini bisa ada hubungannya dgn ketentua pribadi, sosial, dan emosi siswa.

Hasil berguru psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkatan keterampilan , yakni :
1.    Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yg tidak sadar
2.    Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar
3.    Kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motoris, dan lain-lain
4.    Kemapuan di bidang fisik, contohnya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan
5.    Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana hingga pada keterampilan yg kompleks
6.    Kemampuan yg berkenaan dgn komunikasi non-decursive menyerupai gerakan ekspresif dan interprestatif.

Ketiga kategori tersebut tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi merupakan satu kesatuan yg tidak terpisahkan, bahkan membentuk relasi hirarki. Sebagai tujuan yg hendak dicapai, ketiganya harus nampak sebagai hasil berguru siswa di sekolah yg nampak dari perubahan tingkah laris yg secara teknis dirumuskan dalam sebuah pernyataan verbal melalui tujuan instruksional (pengajaran).

Dalam proses berguru mengajar di sekolah ketika ini, tipe hasil berguru kognitif lebih doniman kalau dibandingkan dgn tipe hasil berguru bidang afektif dan psikomotorik. Sekalipun demikian tidak berarti bidang afektif dan psikomotorik diabaikan sehingga tak perlu dilakukan penilaian.
Muhibbin Syah, secara rinci memperlihatkan citra wacana indikator prestasi berguru (kognitif, afektif dan psikomotorik) dan cara melaksanakan penilaian terhadap ketiga kategori tersebut, sebagaimana tertera pada tabel berikut :
Tabel 1
Indikator dan Cara Evaluasi Prestasi

Ranah/Jenis Prestasi

Indikator

Cara Evaluasi
1

2

3

a) Kognitif

1. Pengamatan


1.    Menunjukkan
2.    Membandingkan
3.    Menghubungkan

1.  Tes verbal
2.  Tes tertulis
3.  Observasi
2. Ingatan
1.    Menyebutkan
2.    Menunjukkan kembali
1.    Tes verbal
2.    Tes tertulis
3.    Observasi
3. Pemahaman
1.    Menjelaskan
2.    mendefinisikan
1.    Tes verbal
2.    Tes tertulis
4. Penerapan
1.    Memberikan conto
2.    Mendefinisikan
1.    Tes verbal
2.    Pemberian kiprah
3.    Observasi
5. Analisis
1.    Menguraikan
2.    Mengklasifikasikan
1.    Tes tertulis
2.    Pemberian kiprah
6. Sintesis
1.    Menghubungkan
2.    Menyimpulkan
3.    Menggenerasasikan

1.    Tes tertuli
2.    Pemberian kiprah

b) Afektif

1. Penerimaan

1.    Sikap mendapatkan
2.    Sikap menolak

1.    Tes tertulis
2.    Tes skala sikap
3.    Observasi
2. Sambutan
1.    Berpartisipasi
2.    Memanfaatkan (peluang)
1.    Tes tertulis
2.    Tes skala sikap
3.    Observasi
3. Apresiasi
1.    Menganggap penting dan bermanfaat
2.    Menganggap indah dan serasi
3.    Mengagumi
1.    Tes skala sikap
2.    Pemberian tugas
3.    Observasi
4. Internalisasi
1.    Mengakui dan meyakini
2.    Mengingkari
1.    Tes skala sikap
2.    Pemberian tugas
3.    Observasi
5. Karakterisasi
1.    Melembagakan/meniadakan
2.    Menjelmakan dalam sikap
1.    Pemberian kiprah
2.    Observasi

c) Psikomotorik

1.    Keterampilan bergerak dan bertindak
1.    Mengkoordinasikan gerak anggota badan

1.    Observasi
2.    Tes tindakan
2.    Kecapanan ekspresi verbal dan non verbal

1.    Mengucapkan
2.    Membuat mimik dan gerakan jasmani
1.    Tes verbal
2.    Observasi
3.    Tes tindakan

Indikator-indikator pada tabel di atas merupakan pedoman bagi guru dalam menerapkan batas minimal keberhasilan berguru siswa. Hal ini amat penting, lantaran mempertimbangkan batas minimal keberhasilan siswa bukanlah kasus mudah. Mengingat ranah-ranah psikologis walapun berkaitan satu sama lain, kenyataannya sukar diungkap sekaligus bila hanya melihat perubahan yg terjadi hanya pada ranah tertentu saja.
Oleh lantaran itu, guru hendaklah sanggup bertindak secara bijak dalam memperlihatkan penilaian, supaya siswa pun merasa puas terhadap hasil berguru yg mereka tempuh selama jangka waktu tertentu. Selain itu dari table di atas sanggup terlihat terperinci bahwa hasil berguru afektif dan psikomotorik ada yg tampak pada ketika proses berguru mengajar berlangsunnng dan ada pula yg gres tampak kemudian (setelah pengajaran diberikan) dalam praktek kehidupannya di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Itulah sebabnya hasil berguru afektif dan psikomotor sifatnya lebih luas, lebih sulit dipantau namun mempunyai nilai yg sangat berarti bagi kehidupan peserta didik lantaran sanggup secara pribadi menghipnotis prilakunya.
Dari uraian table di atas penulis sanggup menyimpulkan untu mengukur prestasi berguru terlebih dahulu harus di ketahui garis-garis besar indicator dan dikaitkan dgn jenis prestasi yg hendak diukur atau diungkapkan.
Pada hakikatnya hasil berguru meliputi tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Pencapaian ketiga aspek tersebut tentulah di sanggup melalui proses berguru mengajar. Kaprikornus proses berguru yg dicapai oleh seorang peserta didik baik itu siswa ataupu mahasiswa.

C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Prestasi berguru siswa sanggup dikatakan sebagai hasil berguru siswa sesudah mereka mengikuti dan mempelajari mata aliran yg telah ditetapkan oleh sekolah dalam kurun waktu yg telah ditentukan dan sudah tentu tercapainya hasil berguru tersebut tidak terlepas dari faktor-faktor yg menghipnotis hasil berguru tersebut.
Banyak faktor yg sanggup menghipnotis prestasi berguru bahwa proses berguru siswa ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1.    Faktor-faktor yg ada pada siswa
a)   Taraf intelegensi
b)   Bakat khusus
c)   Taraf pengetahuan yg di miliki
d)   Taraf kemampuan berbahasa
e)   Taraf organisasi kognitif
f)     Motivasi
g)   Kepribadian
h)   Perasaan
i)     Sikap
j)     Minat
k)   Konsep diri
l)     Kondisi fisik dan psikis (termasuk cacat pisik dan kelainan)
2.    Faktor-faktor yg ada di luar lingkungan sekolah
a)   Hubungan antara orang renta
b)   Hubungan orang renta dgn anak
c)   Jenis teladan asuh
d)   Keadaan sosial dan ekonomi keluarga
3.    Faktor-faktor yg ada di lingkungan sekolah
a)   Guru, kepribadian guru, sikap guru terhadap siswa, keterampilan didaktik, dan gaya mengajar
b)   Kurikulum
c)   Organisasi sekolah 
d)   Sistem sosial di sekolah
e)   Keadaan fisik di sekolah dan akomodasi pendidikan
f)     Hubungan sekolah dgn orang renta
g)   Lokasi sekolah
4.    Faktor-faktor pada lingkungan sosial yg lebih luas
a)   Keadan sosial, politik dan ekonomi
b)   Keadaan fisik, cuaca dan iklim.

Matindas dalam konsep A-K-U (Ambisi – Kenyataan – Usaha) menyebutkan bahwa faktor-faktor di atas sebagai kenyataan internal (yg ada pada diri siswa) dan kenyataan eksternal (yg ada di luar siswa). Jadi, selain kenyataan yg ada, keberhasilan yg sanggup dicapai seseorang juga ditentukan oleh ambisi sesuatu yg sanggup diinginkan, dan usaha sesuatu yg dilakukan oleh individu utk mencapai ambisinya dan mengatasi kenyataan yg ada.
Dengan berpijak pada pendapat di atas, maka terperinci bahwa faktor prestasi berguru siswa tidak hanya satu faktor saja, melainkan sangat komplek, lantaran satu sama lain saling berkaitan.
Menurut Soemanto, faktor yg menghipnotis berguru dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu :
1.    Faktor stimuli berguru
Yang di maksud dgn stimuli berguru di sini yaitu segala hal di luar individu yg merangsang individu itu utk mengadakan reaksi atau perubahan belajar. Stimuli dalam hal ini meliputi material, penugasan, serta suasana lingkungan eksternal yg harus diterima atau dipelajari oleh si pelajar.
2.    Faktor metode berguru
Metode berguru yg digunkan oleh guru sangat menghipnotis metode berguru yg digunakan oleh si pelajar. Dengan kata lain, metode yg digunakan oleh guru menimbulkan perbedaan yg berarti bagi proses belajar.
3.    Faktor individu
Kecuali faktor stimuli dan metode belajar, faktor individu sangat besar pengaruhnya terhadap berguru seseorang. Adapun faktor-faktor individu ini menygkut : kematangan, faktor usia kronologis, faktor oerbedaan jenis kelamin, pengalaman sebelumnya, kapasitas mental, kondisi kesehatan rohani, motivasi.
Sementara itu berdasarkan Muhibbin Syah, faktor-faktor yg menghipnotis berguru siswa secara umum itu ada tiga macam, yaitu :
1.    Faktor internal (faktor di luar siswa) yakni keadaan (kondisi jasmani dan rohani siswa)
2.    Faktor eksternal (faktor dari luar siswa) yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.
3.    Faktor pendekatan berguru (approach to learning) jenis upaya berguru siswa yg meliputi seni administrasi dan metode yg digunakan siswa utk melaksanakan kegiatan pembelajaran materi-materi ajaran.

1. Faktor internal meliputi dua aspek, yaitu :
a)   Aspek fisiologis (yg bersifat jasmani)
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yg menandai tingkat kebugaran organ-organ badan dan sendi-sendinya juga kondisi organ-organ khusus siswa, menyerupai tingkat kesehatan, indra penglihatan dan indera pendengaran yg sangat menghipnotis semangat dan intensitas siswa serta kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan.
b)   Aspek psikologis
Faktor-faktor rohani yg termasuk aspek psikologis dan sanggup menghipnotis juantitas dan kualitas pembelajaran siswa yaitu sebagai berikut yaitu : tingkat kecerdasan atau intelegebsi siswa, sikap siswa, talenta siswa, minat siswa dan motivasi siswa.
2. Faktor eksternal terdiri atas tiga macam :
a)   Faktor keluarga, meliputi cara orang renta mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi orang tua, pengertian orang renta dan latar belakang kebudayaan.
b)   Faktor sekolah, meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dgn siswa, relasi siswa dgn siswa lainnya, disiplin sekolah, sarana dan prasarana pembelajaran, waktu sekolah, standar ajaran, metode berguru dan kiprah rumah, (PR).
c)   Faktor masyarakat, meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, sobat bergaul, media massa dan budaya hidup masyarakat.

Ketiga lingkungan di atas (keluarga, sekolah dan masyarakat) merupakan cuilan dari kehidupan anak didik. Dalam lingkungan itulah anak didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yg kompleks, yg di dalamnya juga terdapat proses interdependensi (ketergantungan). Dari ketiga faktor tersebut mempunyai pangaruh sukup signifikan terhadap kegiatan berguru anak didik.

3. Faktor pendekatan berguru
Faktor pendektan berguru ini juga sangat menghipnotis hasil berguru siswa, maka semakin baik pula hasilnya. Faktor ini sanggup dibagi ke dalam tiga macam tingkatan, yaitu pendekatan tinggi, pendekatan sedang, dan pendekatan renah.

Berdasarkan banyak sekali pendapat yg telah penulis kemukakan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa prestasi berguru yg dicapai siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, akan tetapi secara umum faktor-faktor tersebut sanggup di klasifikasikan menjadi dua cuilan yaitu faktor internal dan faktor eksternal, yg dalam istilah psikologi pendidikan lebih dikenal dgn istilah faktor instrinsik dan ekstrinsik. Dan salah satu faktor yg dipandang cukup mayoritas terhadap pencapaian prestasi berguru siswa ialah faktor keluarga, dimana keluarga merupakan peranan penting dalam pencapaian hasil belajar.







= Baca Juga =



DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Prestasi Mencar Ilmu Siswa

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Prestasi Mencar Ilmu Siswa kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Prestasi Mencar Ilmu Siswa dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2008/01/prestasi-mencar-ilmu-siswa.html

0 Response to "Prestasi Mencar Ilmu Siswa"

Posting Komentar