Arti Dan Makna Wawasan Wiyata Mandala

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Arti Dan Makna Wawasan Wiyata Mandala

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Arti Dan Makna Wawasan Wiyata Mandala, kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel Berita, Artikel bimbel masuk ptn, Artikel Pembelajaran2, Artikel Pembinaan, Artikel SBMPTN, Artikel ujian nasional, Artikel unbk, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Arti Dan Makna Wawasan Wiyata Mandala
link : Arti Dan Makna Wawasan Wiyata Mandala

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Arti Dan Makna Wawasan Wiyata Mandala

Kita sudah sering mendengar istilah Wawasan Wiyata Mandala ARTI DAN MAKNA WAWASAN WIYATA MANDALA
Kita sudah sering mendengar istilah Wawasan Wiyata Mandala. Lalu Apa Arti dan Makna Wawasan Wiyata Mandala ? Ayo simak klarifikasi berikut ini utk mengetahui arti dan makna  Wawasan Wiyata Mandala, sehingga kita baik sebagai guru maupun sebagai siswa sanggup mengimplementasikannya.

A.    Arti dan Makna Wawasan Wiyata Mandala. Wawasan : Suatu pandangan atau perilaku yg mendalam terhadap suatu hakikat. Wiyata : Pendidikan Mandala : Tempat atau lingkungan. Wawasan Wiyata mandala yaitu perilaku menghargai dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolah sebagai kawasan menuntut ilmu pengetahuan. Unsur-unsur wiyata mandala:
1.     Sekolah merupakan lingkungan pendidikan
2.     Kepala sekolah mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh atas    penyelenggaraan pendidikan dalam lingkungan sekolah.
3.     Antara guru dan orang bau tanah siswa harus ada saling pengertian dan kerjasama erat utk mengemban kiprah pendidikan (hubungan yg serasi)
4.     Warga sekolah di dalam maupun di luar sekolah harus menjunjung tinggi martabat dan gambaran guru.
5.     Sekolah harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya dan mendukung antarwarga.

B.    SEKOLAH DAN FUNGSINYA
Sekolah merupakan kawasan penyelenggaraan PBM, menanamkan dan berbagi banyak sekali nilai, ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan. Sekolah merupakan forum pendidikan formal kawasan berlangsungnya PBM utk membina dan mengembangkan:
1.        Ilmu pengetahuan dan teknologi
2.        Pandangan hidup/kepribadian
3.        Hubungan antara insan dgn lingkungan atau insan dgn Tuhannya
4.        Kemampuan berkarya.  

C.   FUNGSI SEKOLAH
Fungsi sekolah yaitu sebagai kawasan masyarakat berguru alasannya yaitu mempunyai aturan/tata tertib kehidupan yg mengatur kekerabatan antara guru, pengelola pendidikan siswa dalam PBM utk mencapai tujuan pendidikan yg telah ditetapkan dlam suasana yg dinamis.

D.   CIRI-CIRI SEKOLAH SEBAGAI MASYARALAT BELAJAR
Ciri-ciri sekolah sebagai masyarakat berguru yaitu :
1.        Ada guru dan siswa, timbulnya PBM yg tertib
2.        Tercapainya masyarakat yg sadar, mau berguru dan bekerja keras.
3.        Terbentuknya insan Indonesia seutuhnya.

E.    PRINSIP SEKOLAH
Sekolah sebagai Wiyata Mandala selain harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya, juga harus mencegah masuknya faham perilaku dan perbuatan yg secara sadar ataupun tidak sanggup menimbulkan kontradiksi antara sesama alasannya yaitu perbedaan suku, agama, asal/usul/keturunan, tingkat sosial ekonomi serta perbedaan paham politik. Sekolah dihentikan hidup menyendiri melepaskan diri dari tantangan sosial budaya dalam masyarakat kawasan sekolah itu berada. Sekolah juga menjadi suri pola bagi kehidupan masyarakat sekitarnya, serta bisa mencegah masuknya perilaku dan perbuatan yg akan menimbulkan pertentangan. Untuk itu sekolah mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut :
1.     Sekolah sebagai wadah/lembaga yg menawarkan bekal hidup. Dalam hal ini sekolah seharusnya bukan hanya sekedar forum yg mencetak para intelektual muda namun lebih dari itu sekolah harus menjadi rumah kedua yg menawarkan pelayanan dan pengalaman wacana hidup, mulai dari berorganisasi, bermasyarakat (bersosialisasi), pendidikan lingkungan hidup (PLH) atau bahkan pengalaman hidup yg sesungguhnya.
2.     Sekolah sebagai institusi kawasan akseptor didik berguru dibawah bimbingan pendidik. Bimbingan lebih dari sekedar pengajaran. Dalam bimbingan kiprah pendidik berubah dari seorang pendidik menjadi seorang orangtua bahkan menjadi seorang kakak.
3.     Sekolah sebagai forum dgn pelayanan yg adil/merata bagi stakeholdernya. Hal tersebut bisa berupa pemerataan kesempatan mendapat transfer of knowledge, maupun transfer of experience, dgn tanpa membedakan baik dari segi kemampuan ekonomi, kemampuan intelegensia, dan juga kemampuan fisik (gagasan sekolah inklusi).
4.     Sekolah sebagai forum pengembangan talenta dan minat siswa. Prinsip ini sejalan dgn teori multiple intelligence (Howard Gardner) yg memandang bahwa kecerdasan intelektual bukanlah satu-satunya yg perlu diperhatikan oleh forum pendidikan, terutama sekolah. Kemampuan bersosialisasi, kemampuan kinestik, kemampuan seni dan kemampuan-kemampuan lainnya juga perlu diperhatikan secara seimbang.
5.     Sekolah sebagai forum training potensi di luar intelegensi. Peningkatan kemampuan intelektual, emosional maupun kemampuan-kemampuan lainnya mendapat perhatian yg seimbang.
6.     Sekolah harus menawarkan perhatian serius utk berbagi kemampuan emosional dan sosial, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi, kemampuan bekerjasama dalam kelompok, dan lain-lain.
7.     Sekolah sebagai wahana pengembangan perilaku dan watak. Sikap sederhana, jujur, terbuka, penuh toleransi, rela berkomunikasi dan berinteraksi, ramah tamah dan bersahabat, cinta negara, cinta lingkungan, siap bantu membantu khususnya kepada yg kurang beruntung merupakan perilaku dan watak yg perlu dibuat di dalam lingkungan sekolah.
8.     Sekolah sebagai wahana pendewasaan diri. Di dalam dunia yg berubah begitu cepat, salah satu kompetensi dasar yg harus dimiliki tiap akseptor didik yaitu kompetensi dasar: berguru secara mandiri. Dengan proses pendewasaan yg diberikan di sekolah, pendidik tidak lagi perlu menjejali pemikiran akseptor didik dgn perintah. Lebih dari itu akseptor didik akan mendapat sesuatu yg jauh lebih besar ketika ia mencari dan mendapat apa yg ia butuhkan utk hidupnya.
9.     Sekolah sebagai pecahan dari masyarakat berguru (learning society). Sekolah bukan hanya sebagai kawasan pembelajaran bagi akseptor didik, namun juga seharusnya sekolah bisa menjadi sentra pembelajaran bagi masyarakat di lingkungan sekitar.

F.    PENGGUNAAN SEKOLAH
Sekolah sebagai suatu forum pendidikan yg diperutkan sebagai kawasan proses kegiatan berguru mengajar, tidak diperbolehkan dijadikan sebagai kawasan :
1.     Ajang promosi /penjualan produk-produk perniagaan yg tidak berafiliasi dgn pendidikan.
2.     Sekolah merupakan lingkungan bebas rokok bagi semua pihak.
3.     Penyebaran aliran sesat atau penyebarluasan aliran agama tertentu yg bertentangan dgn undang-undang.
4.     Propaganda politik/kampanye.
5.     Shooting film dan atau sinetron tanpa seijin Pemerintah Daerah.
6.     . Kegiatan-kegiatan yg sanggup menimbulkan kerusakan, perpecahan, dan perselisihan, sehingga menjadikan suasana sekolah tidak kondusif.

G.   PENATAAN WIYATA MANDALA DALAM UPAYA KETAHANAN SEKOLAH
1.     Ketahanan sekolah lebih menitikberatkan pada upaya-upaya yg bersifat preventif.
2.     Untuk menjadikan sekolah sesuai dgn tujuan dan fungsinya, perlu dilakukan penataan Wiyata Mandala di sekolah melalui langkah-langkah :
a)    Meningkatkan koordinasi dan konsolidasai sesama warga sekolah utk sanggup mencegah sedini mungkin adanya kegiatan dan tindakan yg sanggup mengganggu proses berguru mengajar.
b)     Melaksanakan tata tertib sekolah secara konsisten dan berkelanjutan.
c)    Melakukan koordinasi dgn Komite sekolah dan pihak keamanan setempat utk terselenggaranya ketahanan sekolah.
d)    Mengadakan penyuluhan bagi orangtua dan siswa yg bermasalah
e)    Mengadakan penyuluhan dan pembinanan kesadaran aturan bagi siswa.
f)      Pembinaan dan pengembangan keimanan, ketaqwaan, watak bermoral Pancasila, kepribadian sopan santun dan berdisiplin.
g)    Pengembangan logika para siswa, rajin belajar, gairah menulis, gemar membaca/ informasi/penemuan para ahli.
h)    Mengikutsertakan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri.
i)      Mengadakan karya wisata dalam rangka pengembangan iptek.

H.   TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNGJAWAB KEPALA SEKOLAH DALAM HAL PELAKSANAAN WIYATA MANDALA
Kepala Sekolah sebagai pimpinan utama, bertugas dan bertanggung jawab memimpin penyelenggaraan berguru mengajar serta membina pendidik dan tenaga kependidikan serta membina kekerabatan kolaborasi dan kiprah serta masyarakat. Kepala Sekolah dalam melaksanakan penataan Wiyata Mandala di sekolah, dgn melaksanakan kegiatan-kegiatan :
1.      Melaksanakan program-program yg telah disusun bersama Komite Sekolah.
2.      Menyelenggarakan musyawarah sekolah yg melibatkan pendidik, OSIS, Komite Sekolah, tokoh masyarakat serta pihak keamanan setempat.
3.     Menertibkan lingkungan sekolah baik yg berbentuk perangkat keras (sarana prasarana) dan perangkat lunak (peraturan-peraturan, tata tertib, tata upacara dan lain lain).
4.     Mengadakan pertemuan baik rutin maupun insidentil yg bersifat intern sekolah (kepala sekolah, pendidik, orangtua siswa, siswa).
5.     Menyelenggarakan kegiatan yg sanggup menunjang ketahanan sekolah menyerupai PKS, Pramuka, PMR, Paskibraka, kesenian dan sebagainya.

I.      MEKANISME DALAM PELAKSANAAN WIYATA MANDALA
Dalam rangka pelaksanaan Wiyata Mandala perlu upaya penang-gulangan secara dini setiap permasalahan yg timbul sehingga sanggup menghilangkan imbas negatifnya, yaitu dilaksanakan secara terpadu, sedikit demi sedikit dan berlanjut sebagai berikut :
1.        Tahap Preventif Upaya utk meniadakan peluang-peluang yg sanggup memungkinkan terjadinya kasus-kasus negatif di sekolah, melalui antara lain :
a)       Memelihara sekolah, dan lingkungan sekolah serta membuat kebersihan dan ketertiban semoga siswa merasa nyaman dan menyenangkan dan tidak ada kawasan tertentu yg dijadikan siswa utk hal-hal negatif.
b)       Menciptakan suasana yg serasi antara pihak pendidik/staf dan siswa serta penduduk di sekitar sekolah.
c)        Membentuk jaring-jaring pengawasan/kontrol dan razia terhadap kegiatan siswa di lingkungan sekolah.
d)       Menghilangkan bentuk-bentuk perpeloncoan pada ketika MOS.
e)        Meminimalisir keterlibatan kelompok maupun perorangan dalam kegiatan sekolah.
f)         Mengisi jam-jam kosong dgn fatwa atau kegiatan ekstra lainnya.
g)       Meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler pada masa awal/akhir semester dan masa liburan sekolah.
h)       Peningkatan keamanan dan ketertiban khususnya pada ketika berangkat/ usai sekolah.
2.        Tahap Represif Upaya utk menindak siswa yg telah melanggar peraturan-peraturan dan tata tertib sekolah. Upaya Represif menyerupai :
a)       Mendamaikan para pihak yg terlibat perselisihan berikut orangtua/pendidik pembinanya.
b)       Membatasi areal kawasan terjadinya aksi.
c)        Menetralisir isu-isu yg berkembang dan mencegah timbulnya isu-isu baru.
d)       Berkoordinasi dgn pihak keamanan apabila terdapat pihak luar sekolah yg melanggar keamanan, ketertiban dan perbuatan kriminalitas di lingkungan sekolah.
e)        Mengungkap lebih lanjut keterlibatan pihak luar sekolah atas masalah yg timbul dan menuntaskan secara hukum.
f)         Mengikutsertakan para mahir utk mengadakan bimbingan dan penyuluhan.
g)       Memberikan hukuman sesuai tata tertib yg berlaku.
                                                          








= Baca Juga =



DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Arti Dan Makna Wawasan Wiyata Mandala

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Arti Dan Makna Wawasan Wiyata Mandala kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Arti Dan Makna Wawasan Wiyata Mandala dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2008/12/arti-dan-makna-wawasan-wiyata-mandala.html

0 Response to "Arti Dan Makna Wawasan Wiyata Mandala"

Posting Komentar