Hadist-Hadist Shahih Perihal Puasa Ramadhan

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Hadist-Hadist Shahih Perihal Puasa Ramadhan

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Hadist-Hadist Shahih Perihal Puasa Ramadhan, kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel bimbel masuk ptn, Artikel SBMPTN, Artikel ujian nasional, Artikel unbk, Artikel Wawasan-Islam, Artikel Wawasan-Islam2, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Hadist-Hadist Shahih Perihal Puasa Ramadhan
link : Hadist-Hadist Shahih Perihal Puasa Ramadhan

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Hadist-Hadist Shahih Perihal Puasa Ramadhan


    1. Keutamaan bulan Ramadhan
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. (Shahih Muslim No.1793)

  2. Wajib berpuasa bulan ampunan bila melihat hilal awal bulan ampunan dan berhenti puasa bila melihat hilal awal Syawal. Jika tertutup awan, maka hitunglah 30 hari

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Nabi saw. bahwa ia menyebut-nyebut wacana bulan bulan ampunan sambil mengangkat kedua tangannya dan bersabda: Janganlah engkau memulai puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan bulan ampunan dan janganlah berhenti puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Syawal. Apabila tertutup awan, maka hitunglah (30 hari). (Shahih Muslim No.1795)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadan), maka hendaklah engkau memulai puasa. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti puasa. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berpuasa selama 30 hari. (Shahih Muslim No.1808)

3. Larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum bulan Ramadan
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Janganlah engkau berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadan, kecuali bagi seorang yg biasa berpuasa, maka baginya silakan berpuasa. (Shahih Muslim No.1812)

4. Bulan yg berjumlah 29 hari
Hadis riwayat Ummu Salamah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. pernah bersumpah tidak akan menemui sebagian istri-istrinya selama sebulan. Dan setelah 29 hari berlalu, ia tiba menemui mereka. Kemudian ia ditanya: Wahai Nabi! Baginda bersumpah tidak akan menemui kami selama satu bulan. Mendengar itu, ia bersabda: Sesungguhnya bulan itu berjumlah 29 hari. (Shahih Muslim No.1816)

5. Arti pernyataan Nabi saw. bahwa dua bulan yg terdapat hari raya, jumlah harinya tidak berkurang
Hadis riwayat Abu Bakrah ra.:
Dari Nabi saw., ia bersabda: Dua bulan yg terdapat hari raya, harinya tidak berkurang; hari raya bulan ampunan dan bulan Zulhijah. (Shahih Muslim No.1822)

6. Waktu berpuasa dimulai semenjak terbitnya fajar dan seseorang dibolehkan makan dan lainnya hingga terbit fajar, sifat fajar yg berkaitan dgn masuknya waktu berpuasa serta masuknya waktu salat subuh dan sebagainya

Hadis riwayat Adi bin Hatim ra.:
Ketika turun ayat: Sehingga faktual bagimu benang yg putih dari benang yg hitam, yaitu fajar, maka Adi bin Hatim berkata kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, sungguh saya meletakkan benang berwarna putih dan benang berwarna hitam di bawah bantalku, sehingga saya sanggup mengenali antara waktu malam dan waktu siang hari. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya bantalmu itu sangat lebar. Sesungguhnya yg dimaksud yakni hitamnya (gelapnya) malam dan putihnya (terangnya) siang pada ketika fajar. (Shahih Muslim No.1824)

Hadis riwayat Sahal bin Saad ra., ia berkata:
Ketika turun ayat: Makan dan minumlah hingga faktual bagimu benang yg putih dari benang yg hitam. Beliau berkata: Seorang lelaki mengambil seutas benang yg berwarna putih dan seutas benang berwarna hitam. Lalu ia makan hingga kedua benang tersebut kelihatan terang olehnya, hingga karenanya Allah menurunkan ayat kelanjutannya Pada waktu fajar, sehingga persoallannya menjadi jelas. (Shahih Muslim No.1825)

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Dari Rasulullah saw. bahwa ia bersabda bahwa ketika Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian hingga engkau mendengar azan yg dikumandangkan oleh Ibnu Ummu Maktum. (Shahih Muslim No.1827)

Hadis riwayat Ibnu Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Janganlah sekali-kali azan Bilal itu mencegah salah seorang di antara kalian utk makan sahur, sebab Bilal mengumandangkan azan atau memanggil pada malam hari yakni utk mengingatkan orang yg sedang salat qiyam (akan dekatnya waktu fajar) dan utk membangunkan orang yg masih tidur. Selanjutnya ia bersabda: Janganlah engkau hiraukan ucapan seseorang bahwa fajar itu begini begini sambil membenahi letak tangannya kemudian mengangkatnya ke atas, bergotong-royong fajar yg dimaksud ialah begini, sambil merenggangkan celah di antara kedua jarinya. (Shahih Muslim No.1830)



7. Keutamaan sahur, sunat mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka

Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Makan sahurlah kalian, sebab pada makan sahur itu terdapat keberkahan. (Shahih Muslim No.1835)

Hadis riwayat Zaid bin Tsabit ra., ia berkata:
Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah saw. Kemudian kami melaksanakan salat. Kemudian saya bertanya: Berapa lamakah waktu antara keduanya (antara makan sahur dgn salat)? Rasulullah saw. menjawab: Selama bacaan lima puluh ayat. (Shahih Muslim No.1837)

Hadis riwayat Sahal bin Saad ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Orang-orang itu senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. (Shahih Muslim No.1838)

8. Keterangan waktu berakhirnya puasa dan berlalunya waktu siang

Hadis riwayat Umar ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Ketika malam datang, siang pergi dan matahari pun terbenam, maka ketika itulah orang yg berpuasa mulai berbuka. (Shahih Muslim No.1841)

Hadis riwayat Abdullah bin Abu Aufa ra., ia berkata:
Kami pernah bepergian bersama Rasulullah saw. di bulan Ramadan. Ketika matahari terbenam, ia bersabda: Wahai fulan, singgahlah dan siapkanlah hidangan buat kami! Orang yg disuruh berkata: Wahai Rasulullah, bukankah sebaiknya baginda tangguhkan sebentar? Rasulullah saw. bersabda: Singgahlah dan siapkan hidangan buat kami! Kemudian ia singgah dan menyiapkan hidangan, kemudian ia memberikannya kepada beliau. Nabi saw. meminumnya, kemudian bersabda sambil memperlihatkan kode kedua tangannya: Jika matahari sudah terbenam di arah sana dan malam sudah tiba dari arah sana, maka orang yg berpuasa boleh berbuka. (Shahih Muslim No.1842)

9. Larangan puasa wishal (sambung)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa Nabi saw. melarang puasa sambung (terus-menerus tanpa berbuka). Para sobat bertanya: Bukankah baginda sendiri melaksanakan puasa wishal? Nabi saw. menjawab: Sesungguhnya saya tidak ibarat kalian. Aku diberi makan dan minum. (Shahih Muslim No.1844)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. melarang puasa sambung. Kemudian salah seorang sobat bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah baginda sendiri melaksanakan puasa wishal? Beliau bersabda: Siapa di antara kalian yg ibarat aku? Sesungguhnya di malam hari saya diberi makan dan minum oleh Tuhanku. Ketika mereka enggan menghentikan puasa sambung, ia sengaja membiarkannya sehari hingga beberapa hari. Kemudian pada hari berikutnya, mereka melihat bulan (tanda masuk bulan Ramadan). Rasulullah saw. lantas bersabda: Kalau bulan itu tertunda datangnya, pasti akan saya tambah lagi berpuasa sambung buat kalian sebagai anutan bagi mereka, sebab mereka enggan berhenti puasa sambung. (Shahih Muslim No.1846)

Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:
Rasulullah saw. pernah mengerjakan salat di bulan Ramadan. Kemudian saya tiba ikut salat di samping beliau. Kemudian tiba lagi orang lain dan ikut pula mengerjakan di sampingku dan seterusnya, hingga kira-kira sebanyak sepuluh orang. Ketika Rasulullah saw. merasa akan keberadaan kami di belakangnya, ia meringankan salat kemudian pulang ke rumah utk melanjutkan salat yg masih tersisa. Pagi harinya saya tanyakan hal itu kepada beliau: Apakah semalam engkau sengaja memperlihatkan anutan kepada kami? Beliau menjawab: Betul, itulah alasan yg menciptakan saya melaksanakan ibarat itu. Anas berkata: Kemudian Rasulullah saw. melaksanakan puasa sambung. Hal itu terjadi di simpulan bulan Ramadan. Mengetahui hal itu maka ada beberapa orang sobat yg ikut berpuasa sambung. Rasulullah saw. kemudian bersabda: Apakah mereka mau ikut berpuasa sambung bersamaku? Sesungguhnya kalian tidak ibarat aku. Demi Allah, seandainya bulan ini dipanjangkan utkku, pasti saya akan terus berpuasa semoga hal itu menjadi anutan bagi mereka yg keras kepala. (Shahih Muslim No.1848)

10. Boleh ciuman dalam keadaan puasa dgn syarat tidak membangkitkan nafsu

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Adalah Rasulullah saw. mencium salah seorang istri ia dan ia sedang berpuasa kemudian istrinya tersenyum. (Shahih Muslim No.1851)

Hadis riwayat Umar bin Abu Salamah ra.:
Bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw.: Bolehkah orang yg sedang berpuasa itu berciuman (dgn istrinya)? Rasulullah saw. menjawab: Tanyakan saja kepada Ummu Salamah. Kemudian ia (Ummu Salamah) memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw. melakukannya. Umar bin Abu Salamah kemudian berkata: Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosa baginda yg kemudian dan yg akan datang? Rasulullah saw. bersabda padanya: Demi Allah, bergotong-royong saya yakni orang yg paling takwa kepada Allah dari kalian. (Shahih Muslim No.1863)

11. Sah puasa orang yg masih junub pada waktu fajar
Hadis riwayat Aisyah ra. dan Ummu Salamah ra. berkata: Rasulullah saw. pernah bangun pagi hari dalam keadaan junub bukan sebab mimpi kemudian ia terus berpuasa. (Shahih Muslim No.1864)

12. Diharamkan "melakukan hubungan suami isteri" di siang hari bulan bulan ampunan bagi yg berpuasa dan wajib membayar  kifarat yg sangat berat. Keterangan bahwa kifarat tersebut harus dilaksanakan bagi yg bisa atau tidak bisa dan bagi yg tidak bisa tanggungan kifarat tersebut dinantikan hingga mampu

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Seorang lelaki tiba menemui Nabi saw. dan berkata: Celaka saya, wahai Rasulullah. Beliau bertanya: Apa yg menciptakan engkau celaka? Lelaki itu menjawab: Saya telah "melakukan hubungan suami isteri" dgn istri saya di siang hari bulan Ramadan. Beliau bertanya: Apakah engkau mempunyai sesuatu utk memerdekakan seorang budak? Ia menjawab: Tidak punya. Beliau bertanya: Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut? Ia menjawab: Tidak mampu. Beliau bertanya lagi: Apakah engkau mempunyai sesuatu utk memberi makan enam puluh orang miskin? Ia menjawab: Tidak punya. Kemudian ia duduk menunggu sebentar. Lalu Rasulullah saw. memperlihatkan sekeranjang kurma kepadanya sambil bersabda: Sedekahkanlah ini. Lelaki tadi bertanya: Tentunya saya harus menyedekahkannya kepada orang yg paling miskin di antara kita, sedangkan di kawasan ini, tidak ada keluarga yg paling memerlukannya selain dari kami. Maka Rasulullah saw. pun tertawa hingga kelihatan salah satu penggalan giginya. Kemudian ia bersabda: Pulanglah dan berikan makan keluargamu. (Shahih Muslim No.1870)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Seorang pria tiba kepada Rasulullah saw. dan berkata: Celaka aku. Rasulullah saw. bertanya: Kenapa? Lelaki tadi menjawab: Aku telah menggauli istriku pada siang hari bulan Ramadan. Rasulullah saw. bersabda: Bersedekahlah utk itu, bersedekahlah. Tetapi pria tadi berkata: Aku tidak mempunyai apa-apa. Lalu ia menyuruhnya duduk sejenak. Kemudian ia memperlihatkan kepadanya dua keranjang makanan dan menyuruhnya utk menyedekahkannya. (Shahih Muslim No.1873)

13. Boleh berpuasa atau berbuka di siang hari bulan bulan ampunan bagi yg bepergian bukan utk maksiat apabila jarak perjalanan minimal kira-kira 45 km, dan bagi orang yg bisa lebih baik berpuasa dan bagi yg keberatan boleh tidak puasa

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bepergian pada tahun penaklukan kota Mekah di bulan Ramadan. Beliau tetap berpuasa hingga tiba di kawasan Kadid, ia tidak berpuasa. Dan para sobat Rasulullah saw. selalu mengikuti bencana demi bencana sebab perintahnya. (Shahih Muslim No.1875)

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Adalah Rasulullah saw. pada suatu perjalanan melihat seorang pria dikerumuni orang banyak sehingga ia hampir-hampir tidak sanggup dikenali. Kemudian ia bertanya: Ada apa dgnnya? Para sobat menjawab: Dia sedang berpuasa. Rasulullah saw. bersabda: Bukan termasuk kebaikan kalian berpuasa dalam perjalanan. (Shahih Muslim No.1879)

Hadis riwayat Anas Bin Malik ra.:
Anas ra. pernah ditanya wacana berpuasa pada bulan bulan ampunan dalam perjalanan? Dia menjawab: Kami pernah bepergian bersama Rasulullah saw. pada bulan Ramadan, yg berpuasa tidak mencela yg tidak puasa dan yg tidak puasa juga tidak mencela yg berpuasa. (Shahih Muslim No.1884)

14. Pahala orang yg tidak puasa dalam perjalanan bila ia menangani suatu pekerjaan

Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:
Kami pernah bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan. Di antara kami ada yg tetap berpusa dan ada pula yg tidak puasa. Kami singgah di sebuah tempat ketika hari sedang panas sekali. Di antara kami yg paling banyak mendapat naungan ialah orang-orang yg berpakaian lengkap, sementara orang-orang yg tidak berpakaian lengkap mereka melindungi kepalanya dari teriknya matahari dgn menutupkan tangannya ke atas. Maka orang-orang yg berpuasa berjatuhan (karena lemah) dan mereka yg tidak puasa masih sanggup tegak berdiri. Mereka kemudian mendirikan tenda-tenda dan memperlihatkan minum unta-unta. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Orang-orang yg berbuka hari ini pergi membawa pahala. (Shahih Muslim No.1886)

15. Memilih puasa atau tidak puasa dalam bepergian

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Hamzah bin Amru Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah saw. wacana puasa dalam perjalanan, maka ia menjawab: Jika engkau mau, berpuasalah dan bila engkau tidak mau, maka boleh tidak puasa. (Shahih Muslim No.1889)

Hadis riwayat Abu Darda ra., ia berkata: Kami pernah bepergian bersama Rasulullah saw. di bulan bulan ampunan pada hari yg sangat panas, sehingga hingga sebagian kami terpaksa harus menutupkan tangan pada kepalanya, sebab teriknya matahari. Kami semua tidak ada yg berpuasa kecuali Rasulullah saw. dan Abdullah bin Rawahah. (Shahih Muslim No.1892)


16. Sunat berbuka bagi orang yg beribadah haji pada hari Arafah di Arafah

Hadis riwayat Ummul Fadhel binti Harits ra.:
Bahwa beberapa orang berdebat di dekatnya pada hari Arafah wacana puasa Rasulullah saw. Sebagian mereka ada yg menyampaikan bahwa pada hari itu ia berpuasa, sebagian menyampaikan bahwa pada hari itu ia tidak berpuasa. Kemudian saya mengirimkan segelas susu kepada ia yg wukuf akrab untanya di Arafah. Ternyata ia meminumnya (beliau tidak puasa). (Shahih Muslim No.1894)

Hadis riwayat Ummul Fadhel ra., ia berkata:
Beberapa orang sobat Rasulullah saw. merasa ragu akan aturan puasa hari Arafah, sedangkan kami di sana bersama Rasulullah saw. Maka saya mengirimkan secangkir susu kepada beliau, sewaktu ia berada di Arafah kemudian ia meminumnya (tidak puasa). (Shahih Muslim No.1895)

17. Puasa pada hari Asyura'

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Adalah kaum Quraisy pada zaman Jahiliyah selalu berpuasa pada hari Asyura' dan Rasulullah saw. juga berpuasa pada hari itu. Ketika ia hijrah ke Madinah, ia tetap berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sobat utk berpuasa pada hari itu. Namun ketika diwajibkan puasa bulan Ramadan, ia bersabda: Barang siapa yg ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa yg tidak ingin berpuasa, maka ia boleh meninggalkannya. (Shahih Muslim No.1897)

Hadis riwayat Abdullah Ibnu Umar ra.: Bahwa orang-orang Jahiliyah dahulu selalu berpuasa pada hari Asyura'. Dan bahwa Rasulullah saw. dan kaum muslimin juga berpuasa pada hari itu sebelum diwajibkan puasa bulan Ramadan. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya hari Asyura' yakni hari-hari Allah, maka barang siapa yg ingin berpuasa, maka berpuasalah pada hari itu dan barang siapa yg tidak ingin, maka ia boleh meninggalkannya. (Shahih Muslim No.1901)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.: Dari Abdurrahman bin Yazid, ia berkata: Asy`ats bin Qais tiba menjumpai Abdullah, ketika ia sedang makan siang, ia (Abdullah) berkata: Wahai Abu Muhammad, mari kita makan siang. Ia (Asy`ats) berkata: Bukankah hari ini yakni hari Asyura'? Ia (Abdullah) bertanya: Apakah engkau mengetahui apa hari Asyura' itu? Ia (Asy`ats) menjawab: Hari apa itu. Kemudian ia (Abdullah) menjelaskan: Hari itu yakni hari yg dahulu Rasulullah saw. selalu berpuasa sebelum diwajibkan puasa bulan bulan ampunan dan ketika puasa bulan bulan ampunan diwajibkan, puasa hari Asyura' itu ditinggalkan. (Shahih Muslim No.1905)

Hadis riwayat Muawiyah bin Abu Sufyan ra.: Dari Humaid bin Abdurrahman bahwa ia mendengar Muawiyah bin Abu Sufyan berpidato di Madinah pada hari Asyura' ketika ia berkunjung ke kota tersebut. Ia bertanya: Di manakah ulama-ulama kalian, wahai penduduk Madinah? Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda wacana hari ini. Hari ini yakni hari Asyura' dan Allah tidak mewajibkan kalian melaksanakan puasa pada hari ini, tetapi saya berpuasa. Maka barang siapa di antara kalian ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa di antara kalian ingin berbuka, maka silakan tidak puasa. (Shahih Muslim No.1909)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, ia menjumpai orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari Asyura'. Ketika ditanyakan wacana hal itu, mereka menjawab: Hari ini yakni hari kemenangan yg telah diberikan Allah kepada Nabi Musa as. dan Bani Israel atas Firaun. Karena itulah pada hari ini kami berpuasa sebagai penghormatan padanya. Mendengar tanggapan itu Rasulullah saw. bersabda: Kami lebih berhak atas Musa dari kalian, maka ia menyuruh para sobat utk berpuasa. (Shahih Muslim No.1910)

Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata: Has.ri Asyura' yakni hari yg dimuliakan orang-orang Yahudi dan dijadikannya sebagai hari raya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Berpuasalah kalian pada hari Asyura' tersebut. (Shahih Muslim No.1912)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.: Ibnu Abbas ra. pernah ditanya wacana puasa pada hari Asyura', dia menjawab: Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. berpuasa sehari utk mencari keutamaan hari itu atas hari-hari yg lain selain pada hari ini. Begitu pula (saya tidak pernah melihat beliau) berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan ini, bulan Ramadan. (Shahih Muslim No.1914)

18. Barang siapa makan pada siang hari Asyura', maka hendaknya ia berpuasa pada sisa harinya

Hadis riwayat Salamah bin Akwa` ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah mengutus seorang pria dari Aslam pada hari Asyura' utk mengumumkan kepada insan bahwa Barang siapa yg belum berpuasa, maka hendaknya ia berpuasa dan barang siapa yg terlanjur makan, maka hendaknya ia menyempurnakan dgn berpuasa hingga menjelang malam. (Shahih Muslim No.1918)

Hadis riwayat Rubayyi` binti Muawwidz bin Afra' ra., ia berkata:
Rasulullah saw. mengirim surat ke kampung-kampung Ansar di sekitar Madinah yg isinya: Barang siapa yg pada pagi hari ini dalam keadaan berpuasa, maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya itu. Barang siapa yg pada pagi hari ini tidak berpuasa, maka hendaknya ia berpuasa pada sisa harinya. Setelah itu kami berpuasa, bahkan kami menyuruh belum dewasa kami yg masih kecil utk ikut berpuasa bersama kami atas izin Allah. Sehingga ketika kami berangkat ke mesjid, kami mengembangkan utk mereka (anak-anak kami) mainan dari bulu kambing kibasy. Jika di antara mereka  ada yg menangis minta makan, maka kami (hiburnya) dgn memperlihatkan mainan tersebut. Demikian yg kami lakukan hingga kami semua boleh berbuka. (Shahih Muslim No.1919)



19. Larangan berpuasa pada hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha

Hadis riwayat Umar bin Khathab ra., ia berkata: Bahwa dua hari ini hari yg dihentikan Rasulullah saw. utk berpuasa, yaitu hari raya Idul Fitri setelah kalian berpuasa (Ramadan) dan hari raya makan (daging kurban) setelah kalian menunaikan ibadah haji. (Shahih Muslim No.1920)

Hadis riwayat Abu Said Khudhri ra., ia berkata:Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah patut berpuasa pada dua hari tertentu, yakni Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri setelah puasa Ramadan. (Shahih Muslim No.1922)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Seorang pria tiba kepada Ibnu Umar ra. dan berkata: Sungguh saya telah bernazar utk berpuasa satu hari yg bertepatan dgn Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Idul Fitri. Ibnu Umar ra. berkata: Allah Taala memerintahkan utk menepati janji, nazar dan Rasulullah saw. melarang puasa pada hari ini. (Shahih Muslim No.1924)


20. Makruh berpuasa pada hari Jumat saja

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.: Dari Muhammad bin Abbad, ia berkata: Aku bertanya kepada Jabir bin Abdullah ra. ketika sedang melaksanakan tawaf di Baitullah: Apakah Rasulullah saw. melarang puasa pada hari Jumat saja? Jabir menjawab: Ya, demi Tuhan Baitullah ini. (Shahih Muslim No.1928)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali ia berpuasa sehari sebelumnya atau (berniat puasa) hari sesudahnya. (Shahih Muslim No.1929)

21. Penghapusan firman Allah: Dan wajib bagi orang-orang yg berat melakukannya bila mereka  tidak berpuasa membayar fidyah dgn firman-Nya Barang siapa di antara engkau hadir di negeri tempat tinggalnya di bulan itu, maka hendaknya ia berpuasa pada bulan itu

Hadis riwayat Salamah bin Akwa` ra., ia berkata: Ketika turun ayat berikut, Dan wajib bagi orang-orang yg berat menjalankannya bila mereka tidak berpuasa membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin, maka orang yg ingin tidak puasa,  cukup dgn membayar fidyah, hingga karenanya turun ayat berikutnya yg menghapus aturan ayat sebelumnya. (Shahih Muslim No.1931)

22. Membayar puasa bulan ampunan di bulan Syakban

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Adalah saya mempunyai tanggungan puasa Ramadan, saya tidak sanggup membayarnya kecuali pada bulan Syakban, sebab kesibukan dari Rasulullah saw. atau kesibukan bersama Rasulullah SAW (Shahih Muslim No.1933)

23. Membayarkan tanggungan puasa orang yg telah meninggal

Hadis riwayat Aisyah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yg meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa, maka walinya harus berpuasa utk membayar tangungannya. (Shahih Muslim No.1935)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.: Bahwa seorang perempuan tiba kepada Rasulullah saw. dan berkata: Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan ia mempunyai tanggungan puasa sebulan. Beliau bertanya: Apa pendapatmu bila ibumu mempunyai utang kepada orang lain, apakah engkau akan membayarnya? Ia menjawab: Ya (aku akan bayar). Beliau bersabda: Utang kepada Allah yakni lebih berhak utk dibayar. (Shahih Muslim No.1936)

24. Menjaga pengecap bagi yg berpuasa

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Apabila salah seorang dari kalian bengun dalam keadaan berpuasa, maka janganlah ia berbicara jorok dan kotor, maka bila seseorang dicaci atau diperangi, maka hendaklah ia berkata: Aku sedang berpuasa, saya sedang berpuasa. (Shahih Muslim No.1941)

25. Keutamaan puasa

Hadis riwayat Sahal bin Saad ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya di dalam nirwana itu terdapat pintu yg berjulukan Rayyan. Orang-orang yg berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada hari kiamat. Tidak ada orang selain mereka yg masuk bersama mereka. Ditanyakan: Di mana orang-orang yg puasa? Kemudian mereka masuk lewat pintu tersebut dan ketika orang yg terakhir dari mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup kembali dan tidak ada orang yg akan masuk lewat pintu itu. (Shahih Muslim No.1947)

26. Keutamaan berpuasa di jalan Allah bagi orang yg mampu, tanpa mudarat dan meninggalkan hak (bekerja)

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah seorang hamba yg berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh jarak perjalanan 70 tahun. (Shahih Muslim No.1948)

27. Makan, minum dan "melakukan hubungan suami isteri" bagi orang yg lupa itu tidak membatalkan puasa

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa lupa bahwa ia sedang berpuasa, sehingga ia makan atau minum, maka hendaklah ia meneruskan puasanya, sebab bergotong-royong ia telah diberi makan dan minum oleh Allah. (Shahih Muslim No.1952)

28. Puasanya Nabi saw. pada selain bulan Ramadan. dan sunat tidak mengosongkan satu bulan dari puasa

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. tidak pernah berpuasa satu bulan penuh, kecuali pada bulan Ramadan. Beliau berpuasa, bila ia mau, sampai-sampai ada yg menerka bahwa beliau, demi Allah, tidak pernah tidak puasa. Jika ia mau, ia tidak puasa, sampai-sampai ada yg menerka bahwa beliau, demi Allah, ia tidak pernah puasa. (Shahih Muslim No.1959)

Hadis riwayat Anas ra.: Bahwa Rasulullah saw. pernah selalu berpuasa (sunat), hingga ada yg menyampaikan bahwa ia seolah-olah berpuasa terus-menerus. Dan pernah pula ia selalu tidak berpuasa, hingga ada yg menyampaikan bahwa ia tidak pernah puasa (sunat). (Shahih Muslim No.1961)

29. Larangan berpuasa setahun penuh bagi yg akan memudaratkan atau menimbulkan kewajibannya terbengkalai atau tidak berbuka pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha serta pada hari tasyrik dan klarifikasi keutamaan berpuasa selang-seling

Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata: Rasulullah saw. dikabarkan bahwa saya pernah berkata akan selalu salat qiyam, akan berpuasa pada siang harinya sepanjang hidupku. Kemudian Rasulullah saw. bertanya: Betulkah engkau pernah bilang demikian? Aku menjawab: Betul, saya pernah mengatakannya, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Sungguh engkau tidak akan bisa melaksanakan yg demikian. Oleh sebab itu berpuasalah dan juga berbukalah. Tidurlah dan bangun malamlah. Berpuasalah tiga hari dalam setiap bulan. Sebab, satu kebajikan itu nilainya sama dgn sepuluh kebajikan. Dan yg demikian itu (puasa tiga hari dalam tiap bulan) nilainya sama dgn puasa satu tahun. Lalu saya katakan kepada Rasulullah saw: Tetapi saya bisa berbuat lebih dari itu. Beliau bersabda: Berpuasalah sehari dan tidak puasa dua hari. Aku katakan kepada beliau: Tetapi saya bisa berbuat lebih dari itu. Rasulullah saw. bersabda: Jika begitu, berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, itu yakni puasa nabi Daud as. dan itulah puasa yg tengah-tengah. Kemudian saya berkata: Sungguh saya bisa berbuat lebih dari itu. Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada yg lebih utama dari itu. Abdullah bin Amru ra. berkata: Aku terima tiga hari sebagaimana yg dikatakan Rasulullah saw. yakni lebih saya sukai dari istri dan hartaku. (Shahih Muslim No.1962)

30. Hukum puasa pada hari-hari simpulan bulan Sya'ban

Hadis riwayat Imran bin Hushain ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya atau kepada orang lain (dan ia mendengarnya): Apakah engkau berpuasa pada hari-hari simpulan bulan Syakban? Aku menjawab: Tidak. Beliau bersabda: Kalau begitu, maka berpuasalah dua hari. (Shahih Muslim No.1975)

31. Keutamaan lailatulkadar, ajuan utk mencarinya, keterangan wacana waktunya dan waktu lebih dibutuhkan ketika mencarinya

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa sekelompok orang dari sobat Rasulullah saw. bermimpi melihat lailatulkadar pada hari ke tujuh yg terakhir. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Menurutku bahwa mimpi kalian pasti bertepatan dgn hari ke tujuh terakhir, maka barang siapa yg ingin menantinya, maka hendaklah ia menanti pada hari ke tujuh terakhir (bulan Ramadan). (Shahih Muslim No.1985)

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: Rasulullah saw. pernah melaksanakan iktikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadan. Ketika mana waktu dua puluh malam telah berlalu dan akan menyambut malam yg kedua puluh satu, maka ia kembali ke rumahnya dan sobat yg beriktikaf bersama ia juga kembali ke rumah mereka. Kemudian ia bangun malam pada malam ia kembali dari iktikaf dan berpidato di hadapan sobat serta menyuruh mereka utk melaksanakan kehendak Allah kemudian bersabda: Sungguh dahulu saya iktikaf pada sepuluh malam ini (sepuluh malam pertengahan) kemudian nampak olehku (melalui mimpi) utk iktikaf pada sepuluh malam akhir. Barang siapa yg pernah iktikaf bersamaku, maka hendaklah ia tidur di tempat iktikafnya. Sesungguhnya saya telah melihat (lailatulkadar) pada malam-malam ini, tetapi kemudian saya lupa (waktunya), maka cari dan nantikanlah malam itu di sepuluh malam simpulan yg ganjil. Aku pernah bermimpi bahwa saya sujud di air dan lumpur. Abu Said Al-Khudri berkata: Pada malam kedua puluh satu, kami diturunkan hujan, sehingga air mengalir dari atap mesjid ke tempat salat Rasulullah saw., kemudian saya memperhatikan beliau. Beliau sudah selesai dari salat Subuh dan pada wajah ia berair dgn lumpur dan air. (Shahih Muslim No.1993)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Cari dan nantikanlah lailatulkadar pada sepuluh terakhir bulan Ramadan. (Shahih Muslim No.1998)



Barang siapa melaksanakan puasa Ramadhan semata-mata sebab keimanan dan mencari ganjaran, pasti diampuni dosa-dosanya yg telah lalu. (HR Bukhori dan Muslim)

“Sholat lima waktu, ibadah jum’at hingga jum’at berikutnya, ibadah Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya yakni penghapus dosa-dosa yg terjadi  diantara waktu-waktu itu asalkan dosa-dosa besar dihindari.” (HR Muslim).

"Setiap amal yg dilakukan anak adam yakni utknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan hingga tujuh ratus kali lipat, - Allah Ta'ala berfirman: “ kecuali puasa, bergotong-royong puasa yakni utk-Ku dan Aku yg eksklusif membalasnya. (Dalam puasa, anak Adam) meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.” Orang yg berpuasa mendapat dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dgn Tuhannya. Sungguh, bau lisan orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi." (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahl bin Sa’d RA bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: Sesungguhnya di nirwana ada satu pintu yg disebut Ar-Royyan. Itulah pintu yg pada hari simpulan zaman dikhususkan bagi orang-orang yg puasa. Tak ada satupun orang lain masuk dari pintu itu. Ketika itu berkumandang seruan: “Mana orang-orang yg puasa?” Maka mereka pun bangun (utk masuk dari pintu itu). Tak ada satupun orang lain yg menyertai mereka. Apabila mereka sudah masuk, pintu itu ditutup. Makara tak ada satupun orang lain yg masuk dari pintu itu. (HR Bukhori dan Muslim). 

“Barang siapa yg melaksanakan qiyam Romadon dgn penuh keyakinan dan perhitungan, maka diampuni dosanya yg telah lalu” (Muttafaqun ‘aliahi) 

“Sebaik-baiknya sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan’ (HR Al-Baihaqi, Alkhotib dan At-Turmudzi)

“Barangsiapa yg memberi ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yg berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yg berpuasa itu, tanpa me ngurangi pahala orang yg berpuasa tersebut” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah). 

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  ketika memasuki sepuluh hari terakhir menghidupkan malam harinya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya” (HR Bukhari dan Muslim). 

“Dari Abu Hurairah menceritakan, bahwa Nabi SAW sangat menganjurkan qiyam Ramadhan dgn tidak mewajibkannya. Kemudian Nabi SAW bersabda:”Siapa saja yg mendirikan shalat di malam Ramadhan penuh dgn keimanan dan impian maka ia diampuni dosa-dosa yg telah lampau “(Muttafaq ‘alaihi, lafazh imam Muslim dalam shahihnya: 6/40)

"Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).

"Barangsiapa melaksanakan shalat malam pada ketika Lailatul Qadar sebab keyakinan dan mengharap pahala Allah, pasti diampuni dosa-dosanya yg telah lalu. " (Hadits Muttafaq 'Alaih)

Hadis khusus utk perempuan yg akan mengerjakan Tarwaih di mesjid: "Jika salah seorang diantara kalian (para wanita) ingin mendatangi masjid maka janganlah menyentuh wangi wangian"   HR. Muslim. "Wanita manapun yg menggunakan wangi wangian, kemudian pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima hingga ia mandi". HR. Ibnu Majah.

Barangsiapa berbuka puasa sehari tanpa ruksha (alasan yg dibenarkan) atau sakit, maka tidak akan sanggup ditebus dgn berpuasa semur hidup meskipun dia melakukannya (HR Al bukhari dan muslim)

Barang siapa tidak  sanggup meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Alloh tidak membutuhkan lapar dan hausnya (HR. Al bukhari)

Rasululloh Saw menaiki mimbar utk berkhotbah. Menginjak anak tangga pertama beliau  mengucapkan Aamin begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga.  seusai shalat para sobat kemudian bertanya mengapa rasululloh mengucapkan Aamin, Beliau kemudian menjawab malaikat jibril tiba dan berkata "kecewa dan merugi orang yg bila namamu disebut dia tidak mengucapkan shalawat atasmu" kemudian akau berucap Aamin, kemudian malaikat berkata lagi "kecewa dan merugi yg berkesempatan hidup bersama orang tuanya tetapi dia tidak bisa hingga masuk surga" kemudian saya menjawab Aamin, kemudian katanya lagi, "kecewa dan merugi orang yg berkesempatan hidup di bulan ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya" kemudian saya mengucapkan Aamin (HR Ahmad)

Dari Abi Said al-Khudri RA. Berkata,? Dulu kami beperang bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yg tetap berpuasa dan ada yg berbuka.? Mereka memandang bahwa siapa yg besar lengan berkuasa utk tetap berpuasa, maka lebih baik. (HR Muslim)

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Siapa lupa ketika puasa kemudian dia makan atau minum, maka teruskan saja puasanya. Karena bergotong-royong Allah telah memberinya makan dan minum. (HR. Jamaah)

Dari Abu Bakar (Tabi'in) ia menyampaikan bahwa Marwan Ra mengutus dirinya menemui Ummu Salamah Ra utk bertanya wacana seseorang yg di waktu pagi dalam keadaan junub, apakah ia boleh shaum? Ummu Salamah menjawab: Rasulullah SAW pernah di waktu pagi dalam keadaan junub setelah berjima? bukan berihtilam, kemudian ia tidak berbuka (tetap melanjutkan shaumnya) dan juga tidak mengqodonya? (HR. Muslim 2/780).

Abu Hurairah Radiallahuanhu, "Ketika kami duduk bersama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah tiba seorang lelaki kepada Baginda kemudian berkata : "Binasalah aku!" Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : "Kenapa dgn engkau?" Lelaki itu menjawab : "Aku telah menyetubuhi isteriku sedang saya berpuasa (Ramadan)." Lalu Nabi bersabda : "Adakah engkau berdaya memerdekakan seorang hamba?" Lelaki itu menjawab : "Tidak". Lalu bersabda Nabi: "Adakah engkau berupaya menunaikan puasa dua bulan berturut2 ? Lelaki itu menjawab : "Tidak." Bersabda Nabi : "Adakah engkau berdaya memberi makan enam puluh orang miskin?" Lelaki itu menjawab : "Tidak." (Abu Hurairah) berkata : "Ketika kami duduk telah dibawakan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dgn serumpun tamar. "Lalu Baginda bersabda: Ambil (tamar) ini dan sedekahkan


= Baca Juga =







DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Hadist-Hadist Shahih Perihal Puasa Ramadhan

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Hadist-Hadist Shahih Perihal Puasa Ramadhan kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Hadist-Hadist Shahih Perihal Puasa Ramadhan dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2008/12/hadist-hadist-shahih-perihal-puasa.html

0 Response to "Hadist-Hadist Shahih Perihal Puasa Ramadhan"

Posting Komentar