Motivasi Berguru Siswa, Pengertian Bentuk Dan Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berguru Siswa

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Motivasi Berguru Siswa, Pengertian Bentuk Dan Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berguru Siswa

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Motivasi Berguru Siswa, Pengertian Bentuk Dan Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berguru Siswa, kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel bimbel masuk ptn, Artikel Pembelajaran, Artikel SBMPTN, Artikel ujian nasional, Artikel unbk, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Motivasi Berguru Siswa, Pengertian Bentuk Dan Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berguru Siswa
link : Motivasi Berguru Siswa, Pengertian Bentuk Dan Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berguru Siswa

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Motivasi Berguru Siswa, Pengertian Bentuk Dan Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berguru Siswa

Pengertian Motivasi

Kata motivasi berasal dari kata “motif”, yg berarti alasan melaksanakan sesuatu, sebuah kekuatan yg mengakibatkan seseorang bergerak melaksanakan suatu kegiatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Depdikbud, 1996:593) motivasi didefinisikan sebagai dorongan yg timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar utk melaksanakan suatu tindakan dgn tujuan tertentu.Sondang P. Siagian (2004:138), menawarkan definisi motivasi sebagai daya dorong yg menimbulkan seseorang mau dan rela utk mengerahkan kemampuan, tenaga dan waktunya dalam rangka pencapaian tujuan yg telah ditentukan sebelumnya.
Dengan demikian motivasi merupakan usaha-usaha yg sanggup mengakibatkan seseorang atau kelompok orang tertentu bergerak utk melaksanakan sesuatu keinginan mencapai tujuan yg dikehendakinya atau mendapat kepuasan dgn perbuatannya. Untuk itu, motivasi yakni suatu proses internal yg mengaktifkan, membimbing, dan mempertahankan sikap dalam rentang waktu tertentu. Dengan kata lain, motivasi yakni apa yg menciptakan kita berbuat, menciptakan kita tetap berbuat dan menentukan ke arena mana yg hendak kita perbuat.

Kata-kata Sang Motivator sanggup dijadikan conto
 dalam membangkitkan Motivasi Belajar

Motivasi dapat dikatakan sebagai imbas kebutuhan dan keinginan pada intensitas dan arah seseorang yg menggerakkan orang tersebut utk mencapai tujuan dari tingkat tertentu. Menurut Mc. Donald yg dikutip oleh Oemar Hamalik (2002:1973), motivasi yakni suatu perubahan energi di dalam diri pribadi seseorang yg ditandai dgn timbulnya afektif, dan reaksi utk mencapai tujuan, juga sebagai dorongan dari dalam diri seseorang dan dorongan ini merupakan motor penggerak.

Oleh lantaran itu, motivasi sebagai proses batin atau proses psikologis yg terjadi pada diri seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan), dan faktor internal yg menempel pada setiap orang (pembawaan), tingkat pendidikan, pengalaman masa lalu, keinginan atau harapan masa depan.
Berdasarkan pengertian di atas, maka sanggup disimpulkan bahwa motivasi yakni suatu proses perubahan tenaga dalam diri individu yg memberi kekuatan baginya utk bertingkah laris (dgn ulet belajar) dalam perjuangan mencapai tujuan belajarnya.

Sedangkan belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia, dgn berguru insan melaksanakan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua kegiatan dan prestasi hidup insan tidak lain yakni hasil dari belajar, lantaran seseorang hidup dan bekerja berdasarkan apa yg telah dipelajari. Belajar itu bukan hanya sekedar pengalaman, berguru yakni suatu proses, bukan suatu hasil. Oleh lantaran itu, berguru berlangsung aktif dan integratif dgn memakai aneka macam bentuk perbuatan utk mencapai hasil.

W.S Winkel (1996:53) mengatakan, bahwa belajar yakni suatu kegiatan mental/psikis yg berlangsung dalam interaksi aktif dgn lingkungannya, yg menghasilkan perubahan-perubahan, pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap, serta perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan tetap. Sedangkan yg dimaksud motivasi berguru yakni keinginan yg mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan sikap individu utk belajar.

==============================================




==============================================

Nana Sudjana (1988:17) mengatakan, bahwa belajar merupakan suatu proses yg ditandai dgn adanya perubahan yg ada dalam diri seseorang, perubahan sebagai hasil, dan berguru sanggup ditunjukkan dalam aneka macam bentuk, ibarat perubahan pengetahuan, perubahan sikap dan tingkah laku.

Sedangkan Crow yg dikutip oleh A. Tabrani R (1994:121), memperjelas pentingnya motivasi berguru siswa atau motivasi dalam belajar, yaitu bahwa berguru harus diberi motivasi dgn aneka macam cara sehingga minat yg dipentingkan dalam berguru itu dibangun dari minat yg telah ada pada diri anak.

Oleh lantaran itu, pada garis besarnya motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
a. Motivasi menentukan tingkat keberhasilan atau kegagalan perbuatan berguru siswa, lantaran berguru tanpa adanya motivasi, sulit utk berhasil.
b. Pengajaran yg bermotivasi, pada hakikatnya yakni pengajaran yg diubahsuaikan dgn kebutuhan, dorongan, motif, dan minat yg ada pada siswa. Pengajaran yg demikian, sesuai dgn tuntutan demokrasi dalam pendidikan.
c. Pengajaran yg bermotivasi berdasarkan kreativitas dan imajinitas pada guru utk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yg relevan dan harmonis guna membangkitkan dan memelihara motivasi berguru pada siswa. Guru harus senantiasa berusaha semoga siswa pada kesudahannya mempunyai motivasi yg baik.
d. Berhasil atau tidaknya dalam menumbuhkan dan memakai motivasi dalam pengajaran erat kaitannya dgn pengaturan dalam kelas.
e. Asas motivasi menjadi salah satu penggalan yg integral dari asas-asas mengajar. Penggunaan motivasi dalam mengajar tidak saja melengkapi mekanisme mengajar, tetapi juga menjadi faktor yg menentukan pengajaran yg efektif. Dengan demikian, penggunaan asas motivasi sangat esensial dalam proses berguru mengajar.


Tumbuhkan Motivasi Belajar Siswa
Berikut ini beberapa definisi atau pengertian motivasi belajar berdasarkan para ahli

Menurut H. Mulyadi (Mulyadi, Psikologi Pendidikan, Biro Ilmiah, FT. IAIN Sunan Ampel, Malang, 1991:87) menyatakan bahwa definisi atau pengertian motivasi belajar yakni membangkitkan dan menawarkan arah dorongan yg mengakibatkan individu melaksanakan perbuatan belajar

Menurut Tadjab, (Tadjab MA Ilmu Pendidikan. Karya Abditama Surabaya 1990:102) pengertian motivasi belajar yakni keseluruhan daya aktivis di dalam diri siswa yg menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan berguru itu demi mencapai suatu tujuan. 


Menurut Sardiman ( 1988:75 ) menyampaikan bahwa :

definisi atau pengertian Motivasi berguru adalah keseluruhan daya aktivis di daam diri siswa yg menimbulkan kegiatan belajar, yg menjamin kelangsungan dari kegiatan berguru dan memberi arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yg dikehendaki oleh subjek berguru itu tercapai

Menurut (Bophy, 1987) definisi atau pengertian motivasi belajar yakni sebagai a general state dan sebagai a situationspecific state Sebagai a general state, motivasi berguru yakni suatu tabiat yg permanen yg mendorong seseorang utk menguasai pengetahuan dan keterampilan dalam suatu kegiatan belajar. Sebagai a situation-specific state, motivasi berguru muncul lantaran keterlibatan individu dalam suatu kegiatan tertentu diarahkan oleh tujuan memperoleh pengetahuan atau menguasai keterampilan yg diajarkan.

Menurut McCombs (1991) pengertian motivasi belajar yakni kemampuan internal yg terbentuk secara alami yg sanggup ditingkatkan atau dipelihara melalui kegiatan yg menawarkan dukungan, menawarkan kesempatan utk menentukan kegiatan, menawarkan tanggung jawab utk mengontrol proses belajar, dan menawarkan tugas-tugas berguru yg bermanfaat dan sesuai dgn kebutuhan pribadi.

Menurut Afifudin (dalam Ridwan, 2008), pengertian  motivasi belajar yakni keseluruhan daya aktivis di dalam diri anak yg bisa menimbulkan kesemangatan atau kegairahan belajar

Menurut Winkel  (2003) dalam Puspitasari (2012) definisi atau pengertian motivasi belajar yakni segala  perjuangan di  dalam  diri  sendiri  yg  menimbulkan  kegiatan  belajar,  dan menjamin  kelangsungan  dari  kegiatan  belajar  serta  memberi  arah  pada  kegiatan kegiatan  belajar  sehingga  tujuan  yg dikehendaki  tercapai.  Motivasi  berguru merupakan  faktor  psikis  yg  bersifat  non  intelektual dan  berperan  dalam  hal menumbuhkan semangat berguru utk individu.  

Menurut Clayton  Alderfer dalam  Hamdhu  (2011) pengertian motivasi  belajar  yakni kecenderungan siswa  dalam  melakukan  segala  kegiatan  belajar  yg didorong oleh hasrat utk mencapai prestasi atau hasil berguru sebaik mungkin.


Bentuk-bentuk Motivasi Belajar Siswa
Motivasi tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang, secara umum dgn jalan sebagai berikut:
a) Datang dalam diri individu itu sendiri atau disebut Motivasi Instrinsik (Motivasi Belajar Instrinsik)

b) Datang dari lingkungan atau sisebut Motivasi Ekstrinsik (Motivasi Belajar Ekstrinsik)
1. Motivasi Instrinsik (Motivasi Belajar Instrinsik)
Jenis motivasi ini timbul sebagai akhir dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri, contohnya siswa berguru lantaran ingin mengetahui seluk beluk suatu persoalan selengkap-lengkapnya, ingin menjadi orang yg terdidik, semua keinginan itu berpangkal pada penghayatan kebutuhan dari siswa berdaya upaya, melalui kegiatan berguru utk memenuhi kebutuhan itu. Namun kini kebutuhan ini hanya sanggup dipenuhi dgn berguru giat, tidak ada cara lain utk menjadi orang terdidik atau ahli, lain belajar. Biasanya kegiatan berguru disertai dgn minat dan perasaan senang. W.S. Winkel menyampaikan bahwa : “Motivasi Intrinsik yakni bentuk motivasi yg berasal dari dalam diri subyek yg belajar”.10 Namun terbentuknya motivasi intrinsic biasanya orang lain juga memegang peran, contohnya orang renta atau guru menyadarkan anak akan kaitan antara berguru dan menjadi orang yg berpengetahuan. Biarpun kesadaran itu pada suatu ketika mulai timbul dari dalam diri sendiri, imbas dari pendidik telah ikut menanamkan kesadaran itu. Kekhususan dari motivasi ekstrinsik ialah kenyataan, bahwa satu-satunya cara utk mencapai tujuan yg ditetapkan ialah belajar.

2. Motivasi Ekstrinsik (Motivasi Belajar Ekstrinsik)
Jenis motivasi ini timbul akhir imbas dari luar individu, apakah lantaran ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dgn kondisi yg demikian kesudahannya ia mau belajar. Winkel menyampaikan “Motivasi Ekstrinsik, kegiatan berguru dimulai dan diteruskan berdasarkan kebutuhan dan dorongan yg tidak secara mutlak berkaitan dgn kegiatan berguru sendiri”.

Perlu ditekankan bahwa dorongan atau daya aktivis ialah belajar, bersumber pada penghayatan atau suatu kebutuhan, tetapi kebutuhan itu bekerjsama sanggup dipengaruhi dgn kegiatan lain, tidak harus melalui kegiatan belajar. Motivasi berguru selalu berpangkal pada suatu kebutuhan yg dihayati oleh orangnya sendiri, walaupun orang lain memegang kiprah dalam menimbulkan motivasi itu, yg khas dalam motivasi ekstrisik bukanlah ada atau tidak adanya imbas dari luar, melainkan apakah kebutuhan yg ingin dipenuhi intinya hanya sanggup dipenuhi dgn cara lain. Berdasarkan uraian di atas maka motivasi berguru esktrinsik sanggup digolongkan antara lain:
a. Belajar demi memenuhi kewajiban.
b. Belajar dmei menghindari hukuman.
c. Belajar demi memperoleh hadiah materi yg dijanjikan.
d. Belajar demi meningkatkan gengsi sosial.
e. Belajar demi memperoleh puji dari orang yg penting (guru dan orang tua).
f. Belajar demi tuntutan jabatan yg ingin dipegang atau demi memenuhi persyaratan kenaikan jenjang/golongan administrasi.


Berdasarkan sumber dan proses perkembangannya, maka motivasi atau motif berdasarkan Abin Syamsudin Makmun (2001:75) sanggup digolongkan menjadi dua, yaitu:
1) Motif primer (primery motive) atau motif dasar (basic motive), memperlihatkan pada motif yg tidak dipelajari. Motif ini sering juga disebut dgn istilah dorongan (drive), dan golongan motif inipun dibedakan lagi ke dalam:
a) Dorongan fisiologis (primary motive) yg bersumber pada kebutuhan organis (organic need) yg meliputi antara lain lapar, haus, seks, kegiatan, pernapasan dan istirahat.
b) Dorongan umum (morgani’s general drive) dan motif darurat (wodworth’s emergency motive), termasuk di dalamnya dorongan kasih sayg, takut, kekaguman dan rasa ingin tahu.

2) Motif sekunder (secondary motive), memperlihatkan pada motif yg berkembang pada diri individu lantaran pengalaman, dan dipelajari (conditioning and reinforcement), yg termasuk di dalamnya antara lain:
a) Takut yg dipelajari ( learned fear),
b) Motif-motif sosial (ingin diterima, dihargai, persetujuan, status, merasa aman, dan sebagainya),
c) Motif obyektif dan interes (eksplorasi, manipulasi, minat),
d) Maksud (purpose) dan aspirasi,
e) Motif berprestasi (achievement motive).


Pupuk Motivasi Belajar Siswa utk Berprestasi
Menurut WS. Winkel (1983:27) motivasi berguru siswa merupakan faktor psikis yg bersifat non-intelektual, peranannya yg khas yakni gairah atau semangat belajar, sehingga seorang siswa yg bermotivasi kuat, ia akan mempunyai banyak energi utk melaksanakan kegiatan belajar. Dengan demikian, siswa yg mempunyai motivasi kuat, ia akan mempunyai semangat dan gairah berguru yg tinggi, dan pada gilirannya akan sanggup mencapai prestasi berguru yg tinggi.


Seorang siswa berguru lantaran didorong oleh kekuatan mentalnya, kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita, dan kekuatan mental tersebut, sanggup tergolong rendah dan tinggi. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yg menggerakkan dan mengarahkan sikap manusia, termasuk sikap belajar. Dalam motivasi tergantung adanya keinginan yg mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan sikap belajar. Setidaknya ada dua komponen utama dalam motivasi, yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan.

Siswa yg termotivasi, ia akan menciptakan reaksi-reaksi yg mengarahkan dirinya kepada perjuangan mencapai tujuan dan akan mengurangi ketegangan yg ditimbulkan oleh tenaga di dalam dirinya. Dengan kata lain, motivasi memimpin dirinya ke arah reaksi-reaksi mencapai tujuan, contohnya utk sanggup dihargai dan diakui oleh orang lain.

Faktor yg berasal dari luar individu yg besar lengan berkuasa terhadap seorang siswa dalam belajar, di antaranya yakni imbas dari orang tua. Orang tua, merupakan orang yg pertama kali mendidik anaknya sebelum anak tersebut mendapat pendidikan dari orang lain. Demikian juga dgn hal pemenuhan kebutuhan rohani (intrinsik) dan jasmani (ekstrinsik) bagi seorang anak, maka orang tualah yg bertanggungjawab pertama kali.

Di dalam mendidik dan memenuhi kebutuhan anaknya, maka dibutuhkan perhatian dari orang tua. Peran utama bagi orang renta dalam lingkungan keluarga, yg terpenting yakni menawarkan pengalaman pertama pada masa anak-anak, lantaran pengalaman pertama merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi anak.

Sedangkan bagi seorang anak, ketika melaksanakan proses berguru ada dua faktor yg menjadi tenaga penggeraknya, yaitu motivasi ekstrinsik, yakni motivasi yg berasal dari luar diri dan motivasi instrinsik yg berasal dari dalam diri anak itu sendiri. Seorang anak yg berguru dgn motivasi yg rendah atau bahkan tidak mempunyai motivasi, akan susah utk diajak berprestasi, anak merasa cepat puas dgn hasil yg diperoleh, apatis, tidak kreatif dan tidak fokus.

Dalam kondisi ibarat ini, kiprah orang renta sebagai motivator dituntut utk bisa membangkitkan motivasi berguru anaknya sehingga segala potensi yg dimiliki anak terekspresikan dalam bentuk perilaku-perilaku belajarnya. Usaha orang renta utk membantu membangun motivasi berguru pada diri anak-anaknya, bukanlah perjuangan yg gampang lantaran motivasi berguru ini bekerjsama harus sudah mulai ditanamkan orang renta kepada anaknya semenjak dari kecil. Dengan demikian, anak diharapkan mempunyai kesadaran akan pentingnya berguru utk dirinya.

Berdasarkan uraian di atas, sanggup ditarik suatu kesimpulan bahwa perhatian yg diberikan orang renta terhadap anaknya akan mempengaruhi motivasi berguru siswa. Pengaruh tersebut, tergantung pada seberapa besar perhatian yg diberikan orang renta kepada anaknya. Bila perhatian yg diberikan oleh orang renta besar, maka akan mendorong munculnya motivasi berguru dalam diri anaknya, demikian pula sebaliknya. Di mana pada akhirnya, prestasi berguru anak di sekolah yg mendapat perhatian dari orang renta lebih baik dibandingkan dgn prestasi anak yg kurang mendapat perhatian dari orang tua. Dengan demikian, sanggup diduga adanya imbas yg signifikan dari perhatian orang renta terhadap motivasi berguru siswa.


Bentuk-Bentuk Motivasi Belajar Siswa di Sekolah 
Di dalam kegiatan belajar-mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Motivasi bagi pelajar sanggup berbagi kegiatan dan inisiatif, sanggup mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melaksanakan kegiatan belajar.  Ada beberapa bentuk dan cara utk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan berguru di sekolah, di antaranya yaitu:

1) Memberi Angka 
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yg utama justru utk mencapai angka atau nilai yg baik. Sehingga siswa biasanya yg dikejar yakni nilai ulangan atau nilai-nilai pada rapot angkanya baik-baik. Angka-angka yg baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yg sangat kuat.

2) Hadiah 
Hadiah sanggup juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidak selalu demikian. Karena hadiah utk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yg tidak bahagia dan tidak berbakat utk suatu pekerjaan tersebut.

3) Saingan/Kompetisi
Saingan atau kompetisi sanggup digunakan sebagai alat motivasi utk mendorong siswa utk belajar. Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok sanggup mmeningkatkan prestasi berguru para penerima didik.

4) Mengetahui Hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa utk berguru lebih ulet lagi. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil berguru meningkat, maka ada motivasi utk terus belajar, dgn suatu harapan hasilnya terus meningkat.

5) Puji
Apabila ada siswa yg sukses atau berhasil menuntaskan kiprah dgn baik, perlu diberikan puji. Puji ini yakni bentuk reinforcement yg positif dan sekaligus merupakan motivasi yg baik. Oleh lantaran itu supaya puji ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tetap. Dengan puji yg tepat akan memupuk suasana yg menyenangkan dan mepertinggi gairah berguru serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.

6) Memberi Ulangan 
Para siswa akan ulet berguru kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh lantaran itu memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yg harus diingat oleh guru, yakni yg terlalu sering melaksanakan ulangan (misalnya setiap hari) lantaran bisa membosankan para penerima didik.

Di samping bentuk-bentuk motivasi yg sudah dijelaskan di atas, sudah barang tentu masih banyak bentuk dan cara yg bisa dimanfaatkan. Hanya yg penting bagi guru adanya bermacam-macam-macam motivasi itu sanggup dikembangkan dan diarahkan utk sanggup melahirkan hasil berguru yg bermakna. (Sardiman, A.M, 2001).

Jangan Jadikan Anak Kurang dalam Motivasi Belajar
Indikator-indikator Motivasi Belajar
Berikut ini beberapa Indikator-indikator Motivasi Belajar, antara lain
1)    Disiplin; disiplin ialah melatih dan mendidik (termasuk pemikiran mental dan moral) orang-orang terhadap peraturan semoga ada kepatuhan dan kemudian supaya sanggup berjalan dgn tertib dan teratur dalam organisasi." Disiplin merupakan suatu training dan pendidikan kepada siswa semoga dgn bahagia hati melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dgn perintah guru di sekolah.
2)    Kepuasan; kepuasan berguru yakni cara seorang siswa mencicipi apa yg dipelajari sanggup bermanfaat bagi dirinya. Kepuasan merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap tugasnya yg didasarkan atas aspek-aspek tugasnya. Seorang siswa yg memperoleh kepuasan dari belajarnya akan mempertahankan prestasi belajarnya.
3)    Keamanan; rasa kondusif sangat besar lengan berkuasa terhadap semangat berguru siswa karenarasa kondusif akan menimbulkan ketenangan kepada siswa di dalam melaksanakan tugasnya sebagai pelajar. Adapun yg dimaksud dgn rasa kondusif adalah: (a) kondusif utk menghadapi masa depan ibarat mempunyai nilai yg tinggi, dan (b) rasa kondusif di tempat belajar, barang milik, dan barang kemudahan berguru dari sekolah. Rasa kondusif ditempat berguru yakni suasana perasaan hening pada ketika siswa melaksanakan tugas-tugasnya di ruangan belajar. Suasana tersebut dapat dilihat dari sikap siswa pada ketika melaksanakan tugas-tugasnya. Mereka tidak merasa terancam dan tertekan baik dari atas, sesama rekan siswa, dan pihak luar. Barang-barang milik siswa dan inventaris kemudahan berguru yg ditinggalkan di ruangan berguru maupun di lingkungan tempat berguru pun aman.


Faktor-faktor yg Mempengaruhi Motivasi Belajar
Adapun faktor-faktor yg mempengaruhi motivasi belajar terhadap siswa ada aneka macam macam. Menurut Sardiman (2007:92), bahwa yg mempengaruhi motivasi berguru pada siswa adalah: tingkat motivasi belajar, tingkat kebutuhan belajar, minat dan sifat pribadi. Keempat faktor tersebut saling mendukung dan timbul pada diri siswa sehingga tercipta semangat berguru utk melaksanakan kegiatan sehingga tercapai tujuanpemenuhan kebutuhannya.

Menurut Dimyati & Mudjiono (2004:89), unsur-unsur yg mempengaruhi motivasi belajar adalah:
a. Cita-cita atau aspirasi siswa
Motivasi belajar tampak pada keinginan anak semenjak kecil. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan dikemudian hari impian dalam kehidupan. Dari segi emansipasi kemandirian, keinginan yg terpuaskan sanggup memperbesar kemauan dan semangat belajar. Dari segi pembelajaran, penguatan dgn hadiah atau juga eksekusi akan sanggup mengubah keinginan menjadi kemauan, dan kemudian kemauan menjadi cita-cita.
b. Kemampuan siswa
Keinginan seorang anak perlu dibarengi dgn kemampuan atau kecakapan mencapainya. Kemampuan akan memperkuat motivasi anak utk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
c. Kondisi siswa
Kondisi siswa yg meliputi kondisi jasmani dan rohani sangat  mempengaruhi motivasi belajar.
d. Kondisi lingkungan siswa
Lingkungan siswa berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, kehidupan kemasyarakatan. Dengan kondisi lingkungan tersebut yg aman, tentram, tertib dan indah maka semangat dan motivasi berguru gampang diperkuat.
e. Unsur-unsur dinamis dalam berguru dan pembelajaran
Siswa mempunyai perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, pikiran yg mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dgn sahabat sebayanya besar lengan berkuasa pada motivasi dan sikap belajar.
 f. Upaya guru dalam membelajarkan siswa

Guru yakni seorang pendidik profesional. Ia bergaul setiap hari dgn puluhan atau ratusan siswa. Sebagai pendidik, guru sanggup memilil danmemilah yg baik. Partisipasi dan teladan menentukan sikap yg baik tersebut sudah merupakan upaya membelajarkan dan memotivasi siswa.

Sedangkan Menurut dimyati dan mudjiono, faktor-faktor yg mempengaruhi motivasi berguru siswa yakni adalah sebagai berikut:
1) Cita-cita atau Aspirasi Siswa 
Motivasi berguru tampak pada keinginan anak semenjak kecil. Keberhasilan mencapai keinginan sanggup menumbuhkan kemauan berguru yg akan menimbulkan impian dalam kehidupan. Cita cita dapat memperkuat motivasi intrinsik dan ekstrinsik.
2) Kemauan Siswa
Keinginana seorang anak perlu dibarengi dgn kemampuan utk mencapainya, lantaran kemauan akan memperkuat motivasi anak utk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
3) Kondisi Siswa
Kondisi siswa yg meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar.
4) Kondisi lingkungan Siswa
Siswa sanggup terpengaruh oleh lingkungan sekitar, oleh lantaran itu kondisi lingkungan sekolah yg sehat, kerukunan, dan ketertiban pergaulan perlu di pertinggi mutunya semoga semangat dan motivasi berguru siswa gampang diperkuat.
5) Unsur-Unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran

Siswa mempunyai perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yg mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. (Dimyati dan Mujiono, 2002)

Cara Mengukur Motivasi Belajar Siswa  dan Indikator Motivasi Belajar Siswa
Salah satunya yg cukup elok mendeskripsikan minat dan motivasi berguru siswa yakni Keller, 1987.John Keller berdasarkan model yg diajukannya telah menciptakan sebuah instrumen pengukur minat dan motivasi belajar.Ia mendeskripsikan minat berguru dan motivasi berguru siswa melalui 4 komponen utama, sesuai dgn nama model yg disuguhkan ARCS (Attention, Relenvace, Confidence, Satisfaction), atau dalam bahasa Indonesia : Atensi (perhatian), Relevansi (kesesuaian), Kepercayaan diri, dan Kepuasan.

Selain dgn model ARCS, Anda sanggup menciptakan sendiri Angket utk megukur motivasi berguru siswa. Adapun indikator-indikator yg sanggup digunakan utk penyusunan Angket tersebut, ibarat yg dikemukakan oleh Makmun (dalam Engkoswara 2010:210), yaitu:
1.    Durasi kegiatan (berapa usang penggunaan waktunya utk melaksanakan kegiatan).
2.    Frekuensi kegiatan (berapa sering kegiatan dalam periode waktu tertentu).
3.    Persistensinya (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan kegiatan.
4.    Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang, tenaga, fikiran, bahkan jiwa dan nyawanya).
5.    Ketabahan, keuletan, dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan kesulitan utk mencapai tujuan.
6.    Tingkat aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran, atau target, dan ideologinya) yg hendak dicapai dgn kegiatan yg dilakukan.
7.    Tingkat kualifikasinya prestasi atau produk atau output yg dicapai dari kegiatannya (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan atau tidak).
8.    Arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan (like or dislike, positif atau negatif).

Jadilah orang yg sukes dgn Motivasi Belajar
 
Atau Anda bisa menciptakan indicator sendiri ibarat sontoh indikator motivasi berguru siswa berikut ini yg sanggup digunakan dalam penelitian tindakan yakni sebagai berikut:
1. Keseriusan siswa dalam mengikuti ajaran
2. Kemauan siswa menyediakan alat-alat atau sumber/bahan pemikiran yg dibutuhkan
3. Keterlibatan siswa dalam diskusi kelompok
4. Keterlibatan siswa dalam diskusi kelas
5. Keaktifan siswa dalam mendengar klarifikasi guru
6. Keaktifan siswa dalam mengerjakan kiprah individu dan kelompok
7. Disiplin siswa dalam mengikuti ajaran
8. Timbulnya rasa keingintahuan dan keberanian siswa
9. Adanya keinginan utk mendapat hasil yg terbaik terutama dalam diskusi kelompok
10. Timbulnya semangat atau kegairahan pada diri siswa dalam mengikuti ajaran




Teori Motivasi Belajar
Pada penggalan ini penulis akan membahas ihwal beberapa teori motivasi antara lain yakni :
1. Teori Hedonisme
Hedone yakni bahasa Yunani yg berarti kesukaan, kesenangan, kenikmatan. Seperti dikatakan oleh M Ngalim Purwanto bahwa : “Hedonisme yakni aliran di dalam filsafat yg memandang bahwa tujuan hidup yg utama pada insan yakni mencari kesenangan (hedone) yg bersifat duniawi”.6 Menurut pandangan teori ini insan pada hakekatnya yakni mahluk yg mementingkan kehidupan yg penuh kesenangan dan kenikmatan. Orang yg menganut teori ini setiap menghadapi persoallan yg perlu pemecahan, orang tersebut cenderung menentukan alternatif pemecahan yg sanggup mendatangkan kesenangan dari pada yg menimbulkan kesukaran, kesulitan, kesengsaraan, penderitaan dan segala sesuatu yg menimbulkan tidak enak.
Pengaruh dari teori ini yakni adanya anggapan bahwa semua orang akan cenderung menghindar dari hal-hal yg sulit dan yg menyusahkan diri sendiri dan yg mengandung hal-hal yg beresiko berat, dan lebih suka melaksanakan sesuatu yg mendatangkan kenangan baginya. Sebagai conto, siswa di suatu kelas akan bertepuk tangan bila mereka mendengar guru yg akan mengajar matematika tidak akan masuk dikarenakan sakit, seorang karyawan segan bekerja dgn baik dan malas bekerja, akan tetapi menuntut honor dan upah yg tinggi. Dan
masih banyak lagi contobh yg lain yg memperlihatkan bahwa motivasi iti sngat dibutuhkan berdasarkan teori Hedonisme, para siswa dan karyawan tersebut pada conto di atas harus diberi motivasi secara tepat semoga tidak malas dan mau bekerja dgn baik, dgn menenuhi kesenangannya.

2. Teori Naluri
Manusia sebagai individu hidup dalam suatu dunia yg bukan dirinya sendiri, tetapi mutlak di perlukan utk hidupnya, utk mencukupi kebutuhan hidupnya, melangsungkan dan mengembangkan, insan membutuhkan makanan, udara, ilmu, pengetahuan, juga persahabatan, komplotan dan lain sebagainya yg bekerjasama dgn hidup dan kehidupan.
Daya-daya yg mendorong insan dari dalam utk melaksanakan perbuatan itu disebut naluri atau dorongan nafsu.
Menurut M. Ngalim Purwanto menyatakan bahwa : “Naluri (dorongan nafsu) yakni kekuatan pendorong maju yg memaksakan dan mengejar kepuasan dgn jalan mencari, mencapai sesuatu yg berupa benda-benda ataupun nilai-nilai tertentu”.

Naluri merupakan kekuatan di dalam diri insan yg mendorong kita utk maju dan mempunyai benda-benda dan nilai-nilai itu. Naluri yakni bentuk penjelmaan hidup tertentu, insan sebagai mahluk yg sadar akan diri sendiri, akan tetapi menyadari bahwa ia didorong, ia merasa bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yg mendorongnya berbuat dan bertindak. Dalam garis besarnya naluri (dorongan nafsu) sanggup dibagi menjadi tiga golongan :

a. Naluri (dorongan nafsu) mempertahankan diri : Mencari makan bila ia lapar, menghindarkan diri dari bahaya, menjaga diri semoga tetap sehat, mencari proteksi diri utk hidup aman.

b. Naluri (dorongan nafsu) berbagi diri : Dorongan ingin tahu, melatih dan mempelajari sesuatu yg belum diketahuinya. Pada insan dorongan inilah yg menjadikan kebudayaan insan makin maju dan makin tinggi.

c. Naluri (dorongan nafsu) mempertahankan dan berbagi jenis : insan secara sadar maupun tidak sadar, selalu menjaga semoga jenisnya dan keturunannya tetap berkembang dan hidup. Naluri ini terjelma dalam penjodohan dan perkawinan. Serta dorongan utk memelihara dan mendidik anak-anak.

Dengan dimilikinya ketiga naluri pokok itu maka kebiasan-kebiasaan atau tindakan dan tingkah laris insan yg diperbuatnya sehari-hari mendapat dorongan atau digerakkan oleh ketiga naluri tersebut. Oleh lantaran itu, berdasarkan teori ini utk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana yg akan dituju dan perlu dikembangkan. Contoh, seorang pelajar terdorong utk berkelahi lantaran sering diejek dan dihina oleh teman-temannya lantaran ia dianggap kurang cendekia di dalam kelasnya. (naluri mempertahankan diri). Agar pelajar tersebut tidak berkembang ke arah yg negatif, kita perlu memberi motivasi, contohnya menyediakan situasi yg sanggup mendorong anak itu menjadi rajin berguru sehingga sanggup menyamai teman-teman sekelasnya.

Sering kita melihat seseorang bertingkah dalam melaksanakan sesuatu lantaran didorong oleh lebih dari satu naluri pokok sekaligus, sehingga sukar bagi kita utk menetukan naluri pokok mana yg lebih lebih banyak didominasi mendorong orang tersebut melaksanakan tindakannya yg demikian itu.
Sebagai conto seorang pelajar sangat tekun dan rajin berguru meskipun ia hidup diidalam kemiskinan bersama keluarganya. Hal apakah yg mendorong pelajar tersebut sangat rajin dan tekun belajar? Mungkin lantaran ia benar-benar ingin menjadi cendekia (naluri berbagi diri) tetapi mungkin juga lantaran ia ingin meningkatkan karir pekerjaannya sehingga pada saatnya ia sanggup hidup bahagia bersama keluarganya dan sanggup membiayai anak-anaknya (naluri mengembangjan dan mempertahankan jenis, dan naluri mempertahankan diri).

3. Teori Reaksi
Teori ini berpandangan bahwa tindakan atau sikap insan tidak berdasarkan nalurinaluri, tetapi berdasarkan pola-pola tingkah laris yg dipelajari dari kebudayaan di tempat orang itu hidup. Orang berguru bila banyak dari lingkungan kebudayaan di tempat ia hidup dan dibesarkan. Oleh lantaran itu teori ini disebut juga teori lingkungan kebudayaan. Menurut teori ini, apabila seorang pendidik (guru) akan memotivasi anak didiknya, pendidik (guru) itu hendaknya mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan bawah umur didiknya.

Dengan mengetahui latar belakang kebudayaan seseorang kita sanggup mengetahui pola tingkah lakunya dan sanggup memahami pula mengapa ia bereaksi atau bersikap yg mungkin berbeda dgn orang lain dalam menghadapi sesuatu masalah. Kita mengetahui bahwa bangsa Indonesia terdiri dari aneka macam mavam suku yg mempunyai latar belakang kebudayaan yg berbeda-beda. Oleh lantaran itu, banyak kemungkinan seorang guru di suatu sekolah akan menghadapi beberapa macam anak didik yg berasal dari lingkungan kebudayaan yg berbeda-beda perlu adanya pelayanan dan pendekatan yg berbeda-beda pula, termasuk pelayanan dalam pemberian motivasi terhadap mereka.

4. Teori Daya Pendorong
Teori ini merupakan perpaduan antara Teori Naluri dan Teori Reaksi. Daya pendorong yakni semacam Naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yg luas terhadap suatu arah yg umum, contohnya suatu daya pendorong pada jenis kelamin yg lain. Semua orang dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada jenis kelamin yg lain. Namun cara-cara yg digunakan dalam mengajar kepuasan terhadap daya pendorong tersebut berlain-lainan bagi tiap-tiap individu berdasarkan latar belakang kebudayaan masing-masing. Oleh lantaran itu berdasarkan teori ini bila seorang pendidik (guru) ingin memotivasi anak didiknya ia harus mendasarkannya atas daya pendorong, yaitu atas naluri dan juga reaksi yg dipelajari dari kebudayaan lingkungan yg dimilikinya. Memotivasi anak didik yg semenjak kecil tinggal di tempat pedalaman dan terpencil kemungkinan besar berbeda dgn cara menawarkan motivasi kepada anak yg dibesarkan dan hidup di kota-kota besar yg sudah maju diberbagai bidang walaupun persoalan yg dihadapi oleh siswa itu sama.

Teori motivasi yg kini banyak dianut orang yakni teori kebutuhan. Teori ini beranggapan bahwa tindakan yg dilakukan oleh insan pada hakekatnya yakni utk memenuhi kebutuhannya. Baik kebutuhan phisik maupun kebutuhan psikis. Oleh lantaran itu berdasarkan teori ini apabila seorang pendidik (guru) bermaksud memotivasi siswa ia harus berusaha mengetahui lebih dahulu apa kebutuhan orang yg akan dimotivasinya.

Sekarang ini telah banyak teoritisi psikologi yg telah mengemukakan teori-teorinya ihwal kebutuhan dasar manusia. Salah satu teori kebutuhan yg sangat erat hubungannya dgn motivasi yakni teori hirarki kebutuhan yg dikemukakan oleh A. Maslow. Maslow mengemukakan ibarat yg dikutip oleh Ibrahim Bafadal yakni : “Kebutuhan dasar insan itu terbentang, dalam satu garis kontinum dan berbentuk hirarki, dimulai dari kebutuhan terbawah hingga dgn kebutuhan teratas. Semua diklasifikasi menjadi lima macam kebutuhan dasar insan yaitu (1) kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan rasa aman, (3) kebutuhan sosial, (4) kebutuhan harga diri dan (5) kebutuhan aktualisasi diri”.

Maslow, dgn teori Hirarki Kebutuhan menyatakan  bahwa: “Kebutuhan fisiologis kemudian dilanjutkan dgn kebutuhan yg lebih tinggi yaitu kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan aktualisasi diri bisa juga disebut kebutuhan pertumbuhan, merupakan kebutuhan tertinggi”.

Berdasarkan apa yg dikemukakan di atas sanggup kita jelaskan kebutuhan apa yg masuk dalam tiap-tiap tingkatan kebutuhan itu :
  1. Aktualis
  2. Harga
  3. Sosial
  4. Rasa aman
  5. Fisiologis

a. Kebutuhan fisiologis : kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, yg bersifat primer dan vital yg menygkut  fungsi-fungsi biologis dasar dari organisme insan ibarat kebutuhan akan pangan, sandang dan papan, kesehatan fisik, kebutuhan sexs dan sebagainya.
b. Kebutuhan rasa kondusif dan perlindungan, ibarat terjamin keamannnya, terlindung dari ancaman dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil dan sebagainya.
c. Kebutuhan sosial yg meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan, dan kerja sama.
d. Kebutuhan akan penghargaan, termasuk kebutuhan dihargai lantaran prestasi, kemampuan, kedudukan atau status, pangkat dan sebagainya.
e. Kebutuhan akan aktualisasi diri, antara lain kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yg dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreativitas, dan lisan diri.

Tingkat atau hirarki kebutuhan dari Maslow ini tidak dimaksudkan sebagai suatu kerangka yg sanggup digunakan setiap saat, tetapi lebih merupakan kerangka teladan yg sanggup digunakan sewaktu-waktu bilamana dibutuhkan utk memprakirakan tingkat kebutuhan mana yg sanggup digunakan utk mendorong seseorang yg akan dimotivasi bertindak melaksanakan sesuatu.

Di dalam kehidupan sehari-hari kita sanggup mengamati bahwa kebutuhan insan itu berbeda-beda, faktor-faktor yg mempengaruhi adanya tingkat kebutuhan itu antara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya kedudukan, pengalaman masa lampau, pandangan atau filsafat hidup, impian dan harapan masa depan dari tiap-tiap individu.

Berdasarkan urutan tingkat kebutuhan berdasarkan teori Maslow, kehidupan tiap insan sanggup dijelaskan sebagai berikut : Pada mulanya kebutuhan insan yg paling mendesak yakni kebutuhan fisiologis ibarat pangan, sandang, papan dan kesehatan. Jika kebutuhan-kebutuhan fisiologis ini telah terpenuhi, maka kebutuhan-kebutuhan yg mendesak yakni kebutuhan yg mendesak, amak timbul kebutuhan lain yg mendesak yaitu kebutuhan akan penghargaan. Demikian seterusnya hingga kepada tingkat kebutuhan aktualisasi diri, ingin menjadi orang populer dan ternama. Namun janganlah diartikan bahwa kehidupan insan itu akan mengikuti urutan kelima tingkat kebutuhan fisiologis hingga dgn tingkat kebutuhan aktualisasi diri, proses kehidupan insan itu berbeda-beda dan tidak selalu menuruti garis lurus yg meningkat, kadang kala melompat dari tingkat kebutuhan tertentu ke tingkat kebutuhan lain dgn melampaui tingkat kebutuhan tertentu yg lain dgn melampaui tingkat kebutuhan yg berbeda diatasnya. Atau pula kemungkinan terjadi lompatan balik dari tingkat kebutuhan yg lebih tinggi ke tingkat kebutuhan di bawahnya. Dengan demikian pada saat-saat tertentu tingkat kebutuhan seseorang berbeda dgn orang-orang lain.

Motivasi merupakan proses yg tidak sanggup diamati, tetapi ditafsirkan melalui tindakan individu yg bertingkah laku, sehingga motivasi merupakan konstruksi jiwa. Kedudukan motivasi sejajar dgn isi jiwa sebagai cipta (kognisi), karsa (konasi), dan rasa (emosi) yg merupakan tridaya. Apabila cipta, karsa dan rasa yg menempel pada diri seseorang dikombinasikan dgn motivasi sanggup menjadi catur daya atau empat dorongan yg sanggup mengarahkan individu utk mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan.

Menurut  McDonald (Wasty, 2000:191) motivasi yakni merupakan perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yg ditandai oleh dorongan afektif dan reaksi-reaksi  utk mencapai tujuan.  Di dalam perumusan pendapat Mc Donald tersebut di ini bila dicermati  ada tiga unsur yg saling berkaitan, yaitu:

1.    Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi di dalam pribadi. Perubahan-perubahan dalam motivasi timbul dari perbuatan tertentu

2.    Motivasi ditandai dgn timbulnya perasaan affective arousal. Mula-mula merupakan ketegangan psikologis kemudian merupakan suasana emosi. Suasana ini menimbulkan kelakuan yg bermotif Perubahanini bisa dan mungkin juga tidak, kita hanya sanggup melihatnya dalam perbuatan.

3.    Motivasi ditandai dgn reaksi-reaksi utk mencapai tujuan. Pribadi yg bermotivasi mengadakan respons-respons yg tertuju ke arah suatu tujuan. Respons-respons itu berfungsi mengurangi ketegangan yg disebabkan oleh perubahan energi dalam dirinya. Setiap respons merupakan suatu langkah ke arah mencapai tujuan.
      
Sejalan dgn pendapat McDonald di atas Makmun  (2001:37) menyampaikan bahwa pada esensinya motivasi itu merupakan:
1.    Suatu kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya energi.
2.    Suatu keadaan yg kompleks (a complex state) dan kesiapsediaan (preparatory set) dalam diri individu (organisasi) utk bergerak ( to move, motion, motive) ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari.

Psikolog Gestalt menyampaikan bahwa motivasi merupakan produk dari ketidaksesuaian dari sebuah pase kehidupan. Dalam pase kehidupan itu meliputi tujuan-tujuan yg  positif atau negatif yg ingin diraih atau dihindarkan. Artinya bahwa motivasi itu timbul akhir adanya  dorongan-dorongan lain yg ada dalam organisme. Bigge (2002:73)  menyampaikan bahwa organism drives such as hunger, thirst and sexual need; and for emotionals such as fear, anger and “love”--produce behaviors that predictable and irresistible.

Selanjutnya hebat sikap (behavioriest) beropini bahwa motivasi yakni dorongan utk berbuat sesuatu sebagai akhir adanya rangsangan yg mendahuluinya. Seluruh motivasi timbul secara eksklusif dari dorongan-dorongan organisme, emosi-emosi dasar atau dari kecenderungan utk merespons terhadap dorongan-dorongan dan emosi-emosi tersebut. Dorongan organisme  ibarat lapar, haus dan kebutuhan seksual (sexual need) dan dorongan emosi ibarat rasa takut, murka keduanya membentuk tingkah laris (behavior) yg sanggup diprediksi.

Berdasarkan pendapat di atas sanggup dipahami bahwa tingkah laris yg tampak pada diri seseorang itu dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dari dalam dan dari luar  diri manusia. Seperti rasa lapar, haus, kebutuhan seksual, takut, marah, cinta dan lain-lain. Stimulus-stimulus inilah merupakan motif atau dorongan yg mempengaruhi seseorang utk berbuat sesuatu utk memenuhi kebutuhannya.

Sementara itu Murray (dalam Arikunto 2003:67) mengatakan: bahwa motivasi merupakan konstruk (konsep hipotetik) yg terdiri atas kekuatan-kekuatan yg mempengaruhi persepsi dan sikap seseorang dalam upayanya utk mengubah situasi yg tidak memuaskan dirinya.

Dari teori Murray di atas memperlihatkan bahwa rangsangan dari luar memegang peranan penting bagi tumbuhnya motivasi, merkipun motivasi yg timbul dari dalam merupakan hal yg lebih penting dibandingkan dgn motivasi yg ditimbulkan dari luar, namun tetap peranan guru di dalam menimbulkan motivasi siswa tetap dibutuhkan utk sanggup merubah persepsi dan perilakunya di dalam proses belajar. 

Menurut Purwanto  (2002: 72), ada dua prinsip yg sanggup digunakan utk meninjau motivasi ialah:
(1)  Motivasi dipandang sebagai suatu proses. Pengetahuan ihwal proses ini akan membantu kita menjelaskan kelakuan yg kita amati dan utk menjelaskan kelakuan-kelakuan lain pada seseorang;
(2)  Kita menentukan huruf dari proses ini dgn melihat petunjuk-petunjuk dari tingkah lakunya. Apakah petunjuk-petunjuk itu sanggup dipercaya, sanggup dilihat dari kegunaannya dalam memperkirakan dan menjelaskan tingkah laris lainnya. Motivasi mengandung tiga komponen pokok,  yaitu menggerakkan, mengarahkan dan menopang tingkah laris manusia. Menggerakkan berarti menimbulkan kekuatan pada individu; memimpin seseorang utk bertindak dgn cara-cara tertentu. Misalnya kekuatan dalam ingatan, respons-respons efektif, dan kecenderungan mendapat kesenangan. Motivasi juga mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku. Dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan. Tingkah laris individu diarahkan terhadap sesuatu. Untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan (reinforcement) intensitas dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan individu.

Komponen lain dalam motivasi, yaitu komponen dalam (inner component), dan komponen luar (outer component).  Komponen dalam ialah perubahan dalam diri seseorang, keadaan merasa tidak puas, dan ketegangan psikologis. Komponen luar ialah apa yg diinginkan seseorang, tujuan yg menjadi arah kelakuannya. Kaprikornus komponen dalam yakni kebutuhan-kebutuhan yg ingin dipuaskan, sedangkan komponen luar ialah tujuan yg hendak dicapai.     

Teori stimulus respons (S-R) atau teori rangsang reaksi dalam llmu jiwa menjelaskan bahwa sikap seseorang ditimbulkan oleh kejadian-kejadian  yg datang   dari dalam atau pun dari luar dirinya, sedangkan arah dari sikap tersebut ditentukan oleh korelasi mekanisme dari S-R yg bersangkutan.

Motivasi Belajar Siswa akan Menentukan Prestasi Belajar Siswa
Motivasi siswa secara alami harus terjadi lantaran hasratnya utk berpartisipasi dalam proses belajar. Akan tetapi ini juga berdasarkan alasan-alasan atau impian yg mendasarinya utk berpartisipasi dalam proses akademik. Karena, walaupun mungkin siswa dapat  dimotivasi secara sama utk melaksanakan suatu perbuatan, akan tetapi sumber-sumber motivasinya mungkin akan berbeda.

McDonald menyampaikan bahwa hebat psikologi telah mempelajari bagaimana seseorang berguru dgn kecenderungan-kecenderungan motivasi yg relatif stabil. Salah satu konsep dasar utk mengambarkan kecenderungan itu yakni adanya kebutuhan. Kebutuhan adalah  kecenderungan umum yg termotivasi dgn  cara-cara khusus.

Sementara itu teori-teori Gestalt cenderung utk menghindari pemakaian konsep-konsep tingkah laris (behavioristic concepts), ibarat dorongan (drive), imbas (effect), dan penguatan (reinforcement) pada satu sisi dan konsep-konsep mentalistik ibarat vitalisme, dan kesadaran pada sisi lainnya. Bagi mereka ada beberapa konsep yg berkaitan dgn motivasi, yaitu impian (goal), harapan (expectancy), niat (intention) dan tujuan/sasaran (purpose). Dalam kerangka acuan Gestalt tingkah laris yakni fungsi sebuah situasi total. Orang berinteraksi dalam lapangan (wilayah) dorongan-dorongan psikologis. Lapangan psikologis meliputi tujuan dan cita-cita, interpretasi obyek dan kejadian fisik yg relevan, memori dan antisipasi. Dengan demikian motivasi tidak sanggup diuraikan hanya dgn sebuah gerakan hati (an impulse) terhadap perbuatan yg digerakkan oleh stimulus. Lebih dari itu ia timbul  dari situasi psikologis yg dinamis yg ditandai dgn hasrat seseorang utk berbuat sesuatu.

          Berdasarkan paparan di atas sanggup dipahami bahwa bekerjsama motivasi  merupakan suatu hal yg tidak sanggup dilepaskan dari  diri manusia, lantaran pada hakekatnya kehidupan yakni kebutuhan dan harapan. Motivasi yg ada insan sanggup bersumber dari diri insan itu sendiri (intrinsik)  atau juga dari luar (ekstrinsik). Pada umumnya motivasi intrinsik lebih kuat dan lebih baik daripada motivasi ekstrinsik. Oleh lantaran itu motivasi intrinsik sebaiknya ditimbulkan dan diaktifkan dalam diri setiap individu.

Lepper (1988) menyampaikan bahwa motivasi instrinsik  mendorong siswa utk beraktivitas lantaran adanya kesenangan, harapan, dan timbulnya perasaan sempurna, sedangkan motivasi ekstrinsik mendorong siswa beraktivitas utk mendapat hadiah dan menghindari hukuman.  

Berdasarkan pendapat Lepper di atas sanggup dipahami motivasi berguru itu timbul secara internal dan juga eksternal. Seseorang melaksanakan suatu kegiatan lantaran kegiatan itu bermakna, adanya kesenangan, harapan, perasaan berprestasi, atau apa pun juga yg menjadi pendorong (motif) seseorang utk melaksanakan suatu aktivitas. Motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yg mendorong seseorang utk beraktivitas yg timbulnya dari luar ibarat adanya hukuman, hadiah dan di luar kegiatan itu sendiri yaitu adanya tingkatan, ikatan-ikatan atau restu guru.

Memahami bagaimana pengalaman-pengalaman sekolah yg berbeda sanggup mempengaruhi motivasi berguru yakni penting utk membedakan aneka macam kualitas situasi berguru yg dirasakan; menarik, senang, berarti secara pribadi atau relevan versus  situasi berguru yg dirasakan membosankan, menjenuhkan, tidak bermakna, atau tidak relevan dari perspektif individu. Pada kasus pertama, motivasi berguru secara alami terdorong oleh tugas-tugas berguru yg dirasa mengasyikkan atau secara pribadi bermakna. Pada kasus yg kedua, motivasi berguru harus dirangsang dari luar utk menanggulangi kurangnya motivasi intrinsik yg disebabkan oleh persepsi berguru siswa bahwa tugas-tugas berguru membosankan atau secara pribadi tidak bermakna.

Dalam banyak situasi berguru yg ditentukan secara eksternal, pilihan-pilihan dibatasi utk mengontrol dan memanaj pikiran dan perasaan internal. Pemilihan sikap itu sedikit. Menurut McCombs. (2002 :1) perbedaan yg penting lainnya, apakah motivasi merupakan respons alami terhadap keingintahuan pembelajar atau pembelajar tersebut harus mengerahkan segenap tenaganya utk mengatur perasaan-perasaan yg timbul dari pemikiran negatif ihwal kondisi-kondisi eksternal (seperti guru, kurikulum, dan praktek-praktek pembelajaran)

Selain motivasi intrinsik dan ekstrinsik di atas   ada lagi motivasi lain yaitu motivasi positif dan motivasi negatif. Motivasi positif menimbulkan semangat dan kekuatan dalam diri setiap individu. Hal itu terjadi lantaran pada setiap diri insan bahagia pada hal-hal yg baik dan bahagia akan puji. Sementara motivasi negatif akan  menawarkan dampak yg kurang baik utk jangka panjang akan tetapi akan berdampak pada semangat kerja yg baik utk jangka pendek. Hal ini terjadi lantaran motivasi negatip sifatnya yakni teguran dan peringatan terhadap kekeliruan yg dilakukan dan utk menjadi perhatian utk melaksanakan kegiatan yg akan datang.

Dalam prakteknya kedua jenis motivasi itu sering digunakan dalam suatu kelompok aktivitas. Yang harus diperhatikan yakni kapan motivasi positif   atau  negatif sanggup merangsang secara efektif kegairahan beraktivitas dalam diri individu. Motivasi positip utk jangka panjang sementara motivasi negatip utk jangka pendek.

          Oleh lantaran itu McCombs (2002:2) mengatakan:
“Another key to motivation to learn is helping students see ways they can change negative thinking and make learning fun by relation to the personal interest, working with other in meeting learning goals and being able to make choices—have a voice—in their own learning process”.(Salah satu cara memotivasi siswa utk berguru yakni dgn menolong mereka utk melihat cara-cara yg sanggup merubah pemikiran negatif  dan menciptakan berguru menyenangkan dgn mengkaitkannya kepada kepentingan pribadi, bekerja sama dalam mencapai tujuan dan sanggup menciptakan pilihan, mempunyai pendapat dalam proses pembelajaran mereka).

Dorongan yg ada pada diri seseorang itu sering berwujud kebutuhan (needs), kemauan (willingness), rangsangan (drive) dan kata hati. Dorongan tersebut disadari atau tidak disadari oleh seseorang mengarah pada suatu tujuan. Dorongan itu pun intinya akan mempengaruhi tingkah laris seseorang dan menjadi alasan mengapa seseorang itu melaksanakan suatu tindakan atau kegiatan. Dorongan  kekuatan yg terdapat dalam diri seseorang yg menggerakkan tingkah laris orang itu utk dan dalam mencapai tujuan. Dengan demikian dorongan akan menimbulkan kegiatan yg bertujuan dan akan mempengaruhi tingkah laris seseorang yg mempunyai dorongan itu.

McClelland (dalam Arikunto 2003:67) telah mengadakan penelitian ihwal motivasi yg dikenal dgn studi pengukuran “N’ Ach”, merupakan sebuah istilah popular di dalam bidang pendidikan, yaitu akronim dari “need for achievement”, suatu bentuk kebutuhan (need) yg dimiliki oleh seseorang utk suatu pencapaian (achievement). Biasanya orang yg mempunyai keinginan utk memperoleh sesuatu di dalam dirinya akan terdapat suatu dorongan yg kuat utk mencapai keinginannya itu. Dorongan kuat itulah yg dinamakan motivasi.

Dilihat dari segi motifnya setiap gerak sikap insan itu selalu mengandung tiga aspek, yg kedudukannya sedikit demi sedikit dan berurut (sequential), yaitu:
(1)  Motivating states (timbulnya kekuatan dan terjadinya kesiapsediaan sebagai akhir terasanya kebutuhan jaringan atau sekresi, hormonal dalam diri organisme atau lantaran terangsang oleh stimulasi tertentu).
(2)  Motivated behavior (bergeraknya organisme ke arah tujuan tertentu sesuai dgn sifat yg hendak dipenuhi dan dipuaskannya).
(3)   Satisfied conditions    (dgn   berhasilnya   dicapai   tujuan yg sanggup memenuhi kebutuhan yg terasa, maka keseimbangan dalam diri organisme pulih kembali).

Gibson dan kawan-kawan (dalam Gito dan Mulyana 2001:178) melukiskan proses motivasi pola awal berasal adanya kebutuhan individu yg belum terpenuhi/tidak terpenuhi yg kemudian mengakibatkan orang mencari jalan memenuhi aneka macam macam kebutuhannya. Pencarian jalan itu akan diwujudkan kepada sikap yg diarahkan pada tujuan individu yg belum terpenuhi/tidak terpenuhi).

Kebutuhan yakni kecenderungan-kecenderungan permanen dalam diri seseorang yg menimbulkan dorongan dan menimbulkan kelakuan utk mencapai tujuan. Kebutuhan itu timbul lantaran adanya perubahan (internal change) dalam organisme atau disebabkan oleh perangsang kejadian-kejadian di lingkungan organisme. Begitu terjadi perubahan tadi, maka timbul energi yg mendasari kelakuan ke arah tujuan. Jadi, timbulnya kebutuhan inilah yg menimbulkan motivasi pada kelakuan seseorang.

Kebutuhan sanggup mendorong, menguatkan, dan mengarahkah sikap seseorang baik utk melaksanakan kegiatan dalam memenuhi kebutuhan tersebut maupun utk memcapai suatu tujuan. Tingkatan kebutuhan berdasarkan Maslow berdasarkan Sudjana (2000:167).dimulai dari kebutuhan yg paling rendah dan menuju kebutuhan yg paling tinggi. Kebutuhan pada tingkat yg lebih rendah menjadi syarat utk memenuhi setiap kebutuhan yg lebih tinggi. Maslow mengemukakan lima macam kebutuhan yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan utk diakui dan dihargai, dan kebutuhan pengembangan diri/ aktualisasi diri.
          Bila dijelaskan dari kelima kebutuhan tersebut yakni sebagai berikut:
1)   Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan primer yg menygkut fungsi biologis dari organisme individu sebagai manusia, ibarat kebutuhan sandang, papan, pangan, kesehatan dan sebagainya.
2)   Kebutuhan rasa kondusif dan proteksi yakni kebutuhan individu utk merasa terjamin dari segala ancaman dan hal-hal yg akan merusaknya.
3)   Kebutuhan sosial yakni kebutuhan yg meliputi keinginan utk diperhitungkan dan diakui dalam kelompok, ibarat kebutuhan utk dicintai, kerjasama dan lain-lain.
4)   Kebutuhan diakui dan dihargai yakni kebutuhan lantaran prestasi, kemampuan, kedudukan ataupun status individu dalam kelompok.
5)   Kebutuhan akan aktualisasi diri yakni kebutuhan utk mempertinggi potensi-potensi yg dimiliki individu utk berbagi diri secara maksimal, berkreativitas dan mengekspresikan diri.

Berdasarkan beberapa uraian di atas sanggup disintesiskan bahwa motivasi belajar siswa adalah keseluruhan daya aktivis atau tenaga dorong yg mempengaruhi persepsi dan sikap siswa dalam berguru dan menimbulkan adanya keinginan utk melaksanakan kegiatan atau kegiatan dalam berguru sebagai seorang siswa yg dilakukan secara sistematis, kontinyu dan progresif   mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. 


Keberhasilan sanggup diraih dgn Motivasi Belajar yg tinggi
Peran Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Dalam upaya meningkatkan motivasi berguru siswa, guru mempunyai kiprah penting dalam keberhasilan berguru siswa, beberapa kiprah itu antara lain :
1. Mengenal setiap siswa yg diajarkan secara pribadi. Dengan mengenal setiap siswa secara pribadi, maka guru akan bisa memperlakukan setiap siswa secara tepat. Dengan demikian upaya utk meningkatkan motivasi berguru siswa dilakukan secara tepat pula walaupun guru itu berhadapan dgn kelompok siswa dalam kelas. Apabila guru mengenal siswanya secara pribadi ia akan bisa pula memperlakuk,an setiap siswa dalam kelompok secara berbeda sesuai dgn keadaan dan kemampuan serta kesulitan dan kekuatan yg dimiliki setiap siswa itu.

2. Mampu memperlihatkan interaksi yg menyenangkan, interaksi yg menyenangkan ini akan menimbulkan suasana kondusif dalam kelas. Para siswa bebas dari ketakutan akan melaksanakan perbuatan yg tidak berkenan bagi gurunya. Interaksi yg menyenangkan ini sanggup menciptakan suasana sehat dalam kelas, suasana yg menyenangkan dan sehat itu menimbulkan suasana yg mendukung utk terjadinya belajar. Dengan demikian motivasi berguru siswa menjadi lebih baik.

3. Menguasai aneka macam metode dan teknik mengajar dan memakai secara tepat. Penguasaan aneka macam metode dan teknik mengajar serta penerapannya secara tepat menciptakan guru mampou mengubah-ubah cara mengajarnya sesuai dgn suasana kelas. Pada para siswa, tes utama di sekolah dasar sering timbul Susana cepat bosan dgn keadaan yg tidak berubah. Guru harus menyimak perubahan suasana kelas sebagai akhir dari kebosanan siswa akan suasana yg tidak berubah itu. Guru sanggup mengembalikan gairah berguru siswa antara lain dgn merubah metode dan teknik mengajar pada waktu Susana bosan itu mulai muncul.

4. Menjaga suasana kelas supaya para siswa terhindari konflik dan frustasi. Suasana konflik dan putus asa di kelas menimbulkan gairah berguru siswa menurun. Perhatian mereka tidak lagi terhadap kegiatan belajar, melainkan pada upaya menghilangkan konflik dan fustasi itu. Energi mereka habis terkuras utk memecahkan konflik dan frustasi, sehingga mereka tidak sanggup berguru dgn baik. Apabila guru sanggup menjaga suasana kelas dan meniadakan konflik dan putus asa itu, maka konsentrasi siswa secara penuh akan sanggup dikembalikan kepada kegiatan belajar. konsentrasi penuh terhadap berguru itu sanggup meningkatkan motivasi berguru anak dan pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajarnya.

5. Memperlakukan siswa sesuai dgn keadaan dan kemampuan. Sebagai kelanjutan dari pemahaman siswa secara pribadi, guru sanggup memperlakukan setiap siswa secara tepat sesuai denga hal-hal yg diketahuinya dari tiap siswa itu.
Dengan penerapan peranan ibarat di atas, maka guru akan bisa menempatkan diri dalam lingkungan siswa secara tepat. Pada gilirannya guru akan bisa pla mengunakan teknik, motivasi secara tepat, baik dalam suasana kelompok maupun dalam suasana individual.

Adapun upaya lain utk meningkatkan motivasi belajar berdasarkan Robert (1990:153) yaitu:

 a. Optimalisasi penerapan prinsip belajar
Kehadiran siswa di kelas merupakan awal dari motivasi belajar. Untuk meningkatkan motivasi berguru siswa merupakan bimbingan tindak pembelajaran bagi guru. Dalam upaya pembelajaran, guru harus berhadapan dgn siswa dan menguasai seluk beluk materi yg diajarakan kepada siswa. Upaya pembelajaran terkait dgn beberapa prinsip pembelajaran. Beberapa prinsip pembelajaran tersebut antara lain sebagai berikut:
1)   Belajar menjadi bermakna bila siswa memahami tujuan belajar, oleh lantaran itu guru harus menjelaskan tujuan berguru secara hierarkis.
2)   Belajar menjadi bermakna bila siswa dihadapkan pada pemecahana persoalan yg menantangnya, oleh lantaran itu peletakan urutan persoalan yg menantang harus disusun guru dgn baik.
3)   Belajar menjadi bermakna bila guru bisa memusatkan segala kemampuan mental siswa dalam acara kegiatan tertentu oleh lantaran itu guru sebaiknya menciptakan pembelajaran dalam pengajaran unit atau proyek.
4)   Kebutuhan materi berguru siswa semakin bertambah, oleh lantaran itu guru perlu mengatur materi dari yg paling sederhana hingga paling menantang.
5)   Belajar menjadi menantang bila siswa memahami prinsip evaluasi dan faedah nilai belajarnya bagi kehidupan dikemudian hari, oleh lantaran itu guru perlu memberi tahukan kriteria keberhasilan atau kegagalan belajar.

b. Optimalisasi unsur dinamis berguru dan pembelajaran
Unsur-unsur yg ada di lingkungan maupun dalam diri siswa ada yg mendorong dan ada yg menghambat kegiatan belajar. Oleh lantaran itu guru yg lebih memahami keterbatasan waktu bagi siswa sanggup mengupayakan optimalisasi unsur-unsur dinamis tersebut dgn jalan :
1)   Pemberian kesempatan pada siswa utk mengungkap kendala berguru yg dialaminya.
2)   Memelihara minat, kemauan, dan semangat belajarnya sehingga terwujud tindak belajar.
3)   Meminta kesempatan pada orang renta atau wali, semoga member kesempatan kepada siswa utk beraktualisasi diri dalam belajar.
4)   Memanfaatkan unsur-unsur lingkungan yg mendorong belajar.
5)   Menggunakan waktu secara tertib, penguat dan suasana bangga terpusat pada sikap belajar.
6)   Guru merangsang siswa dgn penguat memberi rasa percaya diri.

c. Optimalisasi pemanfaatan pengalaman dan kemampuan siswa
Guru wajib memakai pengalaman berguru dan kemampuan siswa dalam mengelola siswa belajar. Upaya optimalisasi  pemanfaatan pengalaman siswa tersebut sanggup dilakukan sebagai berikut :
1)   Siswa ditugasi membaca materi berguru sebelumnya dan bertanya kepada guru apa yg mereka tidak mengerti.
2)   Guru mempelajari hal-hal yg sukar bagi siswa.
3)   Guru memecahkan hal-hal yg sukar.
4)   Guru mengajarkan cara memecahkan kesukaran tersebut dan mendidik kebenaran mengatasi kesukaran.
5)   Guru mengajak siswa mengalami dan mengatasi kesukaran.
6)   Guru memberi kesempatan siswa utk menjadi tutor sebaya.
7)   Guru memberi penguatan kepada siswa yg berhasil mengatasi kesukaran belajarnya sendiri.
8)   Guru menghargai pengalaman dan  kemampuan siswa semoga berguru secara mandiri.

 d. Pengembangan impian dan aspirasi belajar
Pengembangan impian berguru dilakukan semenjak siswa masuk sekolah dasar. Pengembangan impian tersebut ditempuh dgn jalan menciptakan kegiatan berguru sesuatu. Penguat berupa hadiah diberikan pada setiap siswa yg berhasil. Sebaliknya dorongan keberanian utk mempunyai impian diberikan kepada siswa yg berasal dari semua lapisan masyarakat.

Sumber Bacaan:
A. Tabrani R (1994) Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda Karya
Abin Syamsudin Makmun (2001), Psikologi Kependidikan, Jakarta: Remaja Rosda Karya
Depdikbud (1996), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Nana Sudjana dan Daeng Arifin. (1988). Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Oemar Hamalik. (2002). Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo
Sondang P. Siagian. (2004). Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta,
WS. Winkel. (1983) Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia, 1983
W.S. Winkel. (1996). Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo.








= Baca Juga =



DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Motivasi Berguru Siswa, Pengertian Bentuk Dan Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berguru Siswa

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Motivasi Berguru Siswa, Pengertian Bentuk Dan Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berguru Siswa kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Motivasi Berguru Siswa, Pengertian Bentuk Dan Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berguru Siswa dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2008/12/motivasi-berguru-siswa-pengertian.html

0 Response to "Motivasi Berguru Siswa, Pengertian Bentuk Dan Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berguru Siswa"

Posting Komentar