Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning), kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel bimbel masuk ptn, Artikel Pembelajaran, Artikel SBMPTN, Artikel ujian nasional, Artikel unbk, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
link : Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Berikut ini salah satu materi training Implementasi Kurikulum 2013 yg harus dikuasai oleh guru yg akan mengimplementasikan Kurikulum 2013, Dijadikannya sebagai salah satu model pembelajaran yg diharapkan sanggup diimplemntasikan dalam Kurikulum 2013, sebab Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PBL) betul-betul menuntut keaktifan siswa, sanggup menawarkan pengalaman pribadi serta menuntut pembelajaran yg tidak terbatas hanya sebagai pengetahuan belaka. Apa semua materi pembelajaran memakai model Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PBL)? Tentunya tidak. Guru harus sanggup menentukan sesuai karakteristik materi model pembeljaran tersebut dan karakteristik materi yg akan diajarkan. Untuk memahami karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PBL) silahkan simak klarifikasi berikut yg dikutip dari buku training Implementasi Kurikulum 2013
=================================================




=================================================


A. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Proyek ialah kiprah yg kompleks, berdasarkan tema yg menan tang, yg melibatkan siswa dalam mendesain, memecahkan masalah, mengambil keputusan, atau kegiatan investigasi; menawarkan kesempatan kepada siswa utk bekerja dalam periode waktu yg telah dijadwalkan dalam menghasilkan produk (Thomas, Mergendoller, and Michaelson, 1999).

Proyek terurai menjadi beberapa jenis. Stoller (2006) mengemukakan tiga jenis proyek berdasarkan sifat dan urutan kegiatannya, yaitu: (1) proyek terstruktur, ditentukan dan diatur oleh guru dalam hal topik, bahan, metodologi, dan presentasi; (2) proyek tidak terstruktur didefinisikan terutama oleh siswa sendiri; (3) proyek semi-terstruktur yg didefinisikan dan diatur sebagian oleh guru dan sebagian oleh siswa.

Memperluas pengertian di atas Stoller (2006), mendefinisikan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai pembelajaran yg memakai Proyek sebagai media dalam proses pembelajaran utk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penekanan pembela -jaran terletak pada aktivitas-aktivitas siswa utk menghasilkan produk dgn menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, hingga dgn mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata. Produk yg dimaksud ialah hasil Proyek berupa barang atau jasa dalam bentuk desain, skema, karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lain. Melalui penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek, siswa akan berlatih merencanakan, melaksanakan kegiatan sesuai planning dan menampilkan atau melaporkan hasil kegiatan.

Bentuk acara proyek terdiri dari (1) Proyek produksi yg meli batkan penciptaan menyerupai buletin, video, jadwal radio, poster, laporan tertulis, esai, foto, surat-surat, buku panduan, brosur, menu  banquet, jadwal perjalanan, dan sebagainya; (2) Proyek kinerja menyerupai pementasan, presentasi lisan, pertunjukan teater, festival masakan atau  fashion show ; (3) Proyek organisasi menyerupai pembentukan klub, kelompok disku-si, atau program-mitra percakapan. Lebih lanjut, berdasarkan Fried-Booth (2002) ada dua jenis proyek yaitu (1) Proyek skala kecil atau sederhana yg hanya menghabiskan dua atau tiga pertemuan. Proyek ini hanya dilakukan di dalam kelas; (2) Proyek skala penuh yg membutuhkan kegiatan yg rumit di luar kelas utk menyelesaikannya dgn rentang waktu lebih panjang.

Pengertian metode atau Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning = PBL) adalah metode pembelajaran yg memakai proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melaksanakan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi utk menghasilkan aneka macam bentuk hasil belajar.

Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PBL) yg ialah model atau metode berguru yg memakai problem sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan gres berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyekdirancang utk dipakai pada permasalahan komplek yg diharapkan akseptor didik dalam melaksanakan insvestigasi dan memahaminya.


Contoh Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PBL)
 Melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PBL), proses inquiry dimulai dgn memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing akseptor didik dalam sebuah proyek kolaboratif yg mengintegrasikan aneka macam subjek (materi) dalam kurikulum. Pada ketika pertanyaan terjawab, secara pribadi akseptor didik sanggup melihat aneka macam elemen utama sekaligus aneka macam prinsip dalam sebuah disiplin yg sedang dikajinya. PjBLmerupakan pemeriksaan mendalam wacana sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan perjuangan akseptor didik.


Mengingat bahwa masing-masing akseptor didik mempunyai gaya berguru yg berbeda, maka Pembelajaran berbasis proyekmemberikan kesempatan kepada para akseptor didik utk menggali konten (materi) dgn memakai aneka macam cara yg bermakna bagi dirinya, dan melaksanakan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis Proyekmerupakan pemeriksaan mendalam wacana sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan perjuangan akseptor didik.

Pembelajaran berbasis proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yg dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah Menengah kejuruan sebagai institusi yg berfungsi utk menyiapkan lulusan utk bekerja di dunia perjuangan dan industri harus sanggup membekali akseptor didiknya dgn “kompetensi terstandar” yg dibutuhkan utk bekerja dibidang masing-masing. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” akseptor didik di Sekolah Menengah kejuruan diperkenalkan dgn suasana dan makna kerja yg bersama-sama di dunia kerja. Dengan demikian model pembelajaran yg cocok utk Sekolah Menengah kejuruan ialah pembelajaran berbasis proyek.

Pembelajaran Berbasis proyekmemiliki karakteristik sebagai berikut:
·          peserta didik membuat keputusan wacana sebuah kerangka kerja
·          adanya permasalahan atau tantangan yg diajukan kepada akseptor didik
·          peserta didik mendesain proses utk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yg diajukan
·          peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab utk mengakses dan mengelola informasi utk memecahkan permasalahan
·          proses penilaian dijalankan secara kontinyu
·          peserta didik secara bersiklus melaksanakan refleksi atas acara yg sudah dijalankan
·          produk selesai acara berguru akan dievaluasi secara kualitatif, dan
·          situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.

Peran pelatih atau guru dalam Pembelajaran berbasis proyeksebaiknya sebagai fasilitator, pelatih, penasehat dan mediator utk mendapat hasil yg optimal sesuai dgn daya imajinasi, kreasi dan penemuan dari siswa. Adapun beberapa kendala dalam implementasi metode Pembelajaran Berbasis Proyek antara lain berikut ini.
·          Pembelajaran berbasis proyek memerlukan banyak waktu yg harus disediakan utk menuntaskan permasalahan yg komplek.
·          Banyak orang bau tanah akseptor didik yg merasa dirugikan, sebab menambah biaya utk memasuki system baru.
·          Banyak pelatih merasa nyaman dgn kelas tradisional ,dimana pelatih memegang kiprah utama di kelas. Ini merupakan suatu transisi yg sulit, terutama bagi pelatih yg kurang atau tidak menguasai teknologi.
·          Banyaknya peralatan yg harus disediakan, sehingga kebutuhan listrik bertambah.



Untuk itu disarankan memakai team teaching dalam proses pembelajaran, dan akan lebih menarik lagi kalau suasana ruang berguru tidak monoton, beberapa conto perubahan lay-out ruang kelas, seperti: traditional class (teori), discussion group (pembuatan konsep dan pembagian kiprah kelompok), lab tables (saat mengerjakan kiprah mandiri), circle (presentasi). Atau buatlah suasana berguru menyenangkan, bahkan ketika diskusi sanggup dilakukan di taman, artinya berguru tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas.

Berdasarkan urian diatas sanggup disimpulan bahwa Pembelajaran Berbasis Projek (PBP) ialah kegiatan pembelajaran yg memakai projek/kegiatan sebagai proses pembelajaran utk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Penekanan pembelajaran terletak pada aktivitas-aktivias akseptor didik utk menghasilkan produk dgn menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, hingga dgn mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata. Produk yg dimaksud ialah hasil projek dalam bentuk desain, skema, karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lain. Pendekatan ini memperkenankan pesera didik utk bekerja secara sanggup bangun diatas kaki sendiri maupun berkelompok dalam menghasilkan produk nyata.


B. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Kelebihan dan kekurangan pada penerapan Pembelajaran Berbasis Proyekdapat dijelaskan sebagai berikut.

1) Kelebihan  / Keuntungan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
  • Meningkatkan motivasi berguru akseptor didik utk belajar, mendorong kemampuan mereka utk melaksanakan pekerjaan penting, dan mereka perlu utk dihargai.
  • Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
  • Membuat akseptor didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yg kompleks.
  • Meningkatkan kolaborasi.
  • Mendorong akseptor didik utk membuatkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.
  • Meningkatkan keterampilan akseptor didikdalam mengelola sumber.
  • Memberikan pengalaman kepada akseptor didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain menyerupai perlengkapan utk menuntaskan tugas.
  • Menyediakan pengalaman berguru yg melibatkan akseptor didik secara kompleks dan dirancang utk berkembang sesuai dunia nyata.
  • Melibatkan para akseptor didik utk berguru mengambil informasi dan memperlihatkan pengetahuan yg dimiliki, kemudian diimplementasikan dgn dunia nyata.
  • Membuat suasana berguru menjadi menyenangkan, sehingga akseptor didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.


Meteri Membuat Laporan Pengamatan di Sekolah Menengah Pertama sanggup diterapkan dgn  Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PBL)

2. Kelemahan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
  • Memerlukan banyak waktu utk menuntaskan masalah.
  • Membutuhkan biaya yg cukup banyak.
  • Banyak pelatih yg merasa nyaman dgn kelas tradisional, di mana pelatih memegang kiprah utama di kelas.
  • Banyaknya peralatan yg harus disediakan.
  • Peserta didik yg mempunyai kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
  • Ada kemungkinanpeserta didikyg kurang aktif dalam kerja kelompok.
  • Ketika topik yg diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan akseptor didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan


Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang pendidik harus sanggup mengatasi dgn cara memfasilitasi akseptor didik dalam menghadapi masalah, membatasi waktu akseptor didik dalam menuntaskan proyek, meminimalis dan menyediakan peralatan yg sederhana yg terdapat di lingkungan sekitar, menentukan lokasi penelitian yg gampang dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya, membuat suasana pembelajaran yg menyenangkan sehingga pelatih dan akseptor didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran.

Meteri Membuat Naskah Peraturan sanggup diterapkan dgn Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PBL)


Pembelajaran berbasis proyek ini juga menuntut siswa utk membuatkan keterampilan menyerupai kerja sama dan refleksi. Menurut studi penelitian, Pembelajaran berbasis proyek membantu siswa utk meningkatkan keterampilan sosial mereka, sering mengakibatkan ketidakhadiran berkurang dan lebih sedikit problem disiplin di kelas. Siswa juga menjadi lebih percaya diri berbicara dgn kelompok orang, termasuk orang dewasa.

Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme utk belajar. Ketika belum dewasa bersemangat dan antusias wacana apa yg mereka pelajari, mereka sering mendapat lebih banyak terlibat dalam subjek dan kemudian memperluas minat mereka utk mata fatwa lainnya. Antusias akseptor didik cenderung utk mempertahankan apa yg mereka pelajari, bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes.

C. Prinsip-prinsip Pembelajaran pada Pembelajaran Berbasis Proyek
Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek ialah sebagai berikut.
a.   Pembelajaran berpusat pada siswa yg memakai tugas-tugas proyek pada kehidupan konkret utk memperkaya pembelajaran.
b.   Tugas Proyek menekankan pada kegiatan penyelesaian proyek berasarkan suatu tema atau topik yg telah ditentukan dalam pembelajaran.
c.   Tema atau topik yg dibelajarkan sanggup dikembangkan dari suatu kompetensi dasar tertentu atau adonan beberapa kompetensi dasar dalam suatu mata ajaran, atau adonan beberapa kompetensi dasar antar mata ajaran. Oleh sebab itu, kiprah proyek dalam satu semester dibolehkan hanya satu penugasan dalam suatu mata ajaran.
d.   Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara otentik dan menghasilkan produk nyata. Produk tersebut selanjutnya dikomunikasikan utk mendapat jawaban dan umpan balik utk perbaikan produk.
e.   Pembelajaran dirancang dalam pertemuan tatap muka dan kiprah sanggup bangun diatas kaki sendiri dalam fasilitasi dan monitoring oleh guru. Pertemuan tatap muka sanggup dilakukan di awal pada langkah penentuan proyek dan di selesai pembelajaran pada penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil proyek, serta penilaian proses dan hasil proyek


D. Langkah langkah pelaksanaan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek sanggup dijelaskan dgn diagram sebagai berikut.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) sebagai berikut.
1. Penentuan pertanyaan fundamental (Start With the Essential Question).
Pembelajaran dimulai dgn pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yg sanggup memberi penugasan akseptor didik dalam melaksanakan suatu aktivitas. Mengambil topik yg sesuai dgn realitas dunia konkret dan dimulai dgn sebuah pemeriksaan mendalam. Pengajar berusaha semoga topik yg diangkat relevan utk para akseptor didik.

2) Mendesain perencanaan proyek (Design a Plan for the Project.
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan akseptor didik. Dengan  emikian akseptor didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi wacana hukum main, pemilihan acara yg sanggup mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dgn cara mengintegrasikan aneka macam subjek yg mungkin, serta  mengetahui alat dan materi yg sanggup diakses utk membantu penyelesaian proyek.

3. Menyusun jadwal (Create a Schedule)
Pengajar dan akseptor didik secara kolaboratif menyusun jadwal acara dalam menuntaskan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline utk menuntaskan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa akseptor didik semoga merencanakan cara yg baru, (4) membimbing akseptor didik ketika mereka membuat cara yg tidak bekerjasama dgn proyek, dan (5) meminta akseptor didik utk membuat klarifikasi (alasan) wacana pemilihan suatu cara.

4. Memonitor akseptor didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
Pengajar bertanggungjawab utk melaksanakan monitor terhadap acara akseptor didik selama menuntaskan proyek. Monitoring dilakukan dgn cara menfasilitasi akseptor didik pada setiap roses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi acara akseptor didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibentuk sebuah rubrik yg sanggup merekam keseluruhan acara yg  penting.

5. Menguji hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan utk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing akseptor didik, memberi umpan balik wacana tingkat pemahaman yg sudah dicapai akseptor didik, membantu pengajar dalam menyusun seni administrasi pembelajaran berikutnya.

6. Mengevaluasi pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada selesai proses pembelajaran, pengajar dan akseptor didik melaksanakan refleksi terhadap acara dan hasil proyek yg sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini akseptor didik diminta utk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menuntaskan proyek. Pengajar dan akseptor didik membuatkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada alhasil ditemukan suatu temuan gres (new inquiry) utk menjawab permasalahan yg diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

Tabel . Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Projek

Langkah-langkah
Deskripsi
Langkah -1
Penentuan projek

Guru bersama dgn akseptor didik menentukan tema/topik projek
Langkah -2
Perancangan langkah-langkah penyelesaian projek
Guru memfasilitasi Peserta didik utk merancang langkah-langkah kegiatan penyelesaian projek beserta pengelolaannya


Langkah -3
Penyusunan jadwal pelaksanaan projek
Guru menawarkan pendampingan kepada akseptor didik melaksanakan penjadwalan semua kegiatan yg telah dirancangnya
Langkah -4
Penyelesaian projek dgn fasilitasi dan monitoring guru
Guru memfasilitasi dan memonitor  akseptor didik dalam melaksanakan  rancangan projek yg telah dibuat
Langkah -5
Penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil projek
Guru memfasilitasi Peserta didik utk mempre-sentasikan dan mempublikasikan hasil karya
Langkah -6
Evaluasi proses dan hasil projek
Guru dan akseptor didik pada selesai proses pembe-lajaran melaksanakan refleksi terhadap acara dan hasil kiprah projek


E. Tujuan Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode pembelajaran yg berfokus pada siswa dalam kegiatan pemecahan problem terkait dgn Proyek dan tugas-tugas bermakna lainnya. Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek sanggup memberi peluang pada siswa utk bekerja, mengkonstruk kiprah yg diberikan guru yg pada puncaknya sanggup menghasilkan produk karya siswa.

Tujuan Pembelajaran Berbasis Proyek ialah sebagai berikut.
a. Memperoleh pengetahuan dan ketrampilan gres dalam pembelajaran;
b. Meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan problem proyek;
c. Membuat siswa lebih aktif dalam memecahkan problem proyek yg kompleks dgn hasil produk konkret berupa barang atau jasa;
d. Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan ssiwa dalam mengelola sumber/bahan/alat utk menuntaskan tugas/proyek; dan
e.  Meningkatkan kerja sama siswa khususnya pada Pembelajaran Ber basis Proyek yg bersifat kelompok.

Pembelajaran Berbasis Proyek mempunyai kelebihan dalam hal: (1) meningkatkan motivasi siswa utk belajar, mendorong kemampuan mereka melaksanakan pekerjaan penting, (2) meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah, (3) mengakibatkan siswa lebih aktif dan berhasil memecahkan masalah-masalah yg kompleks, (4) meningkatkan kolaborasi, (5) mendorong siswa utk membuatkan dan mempraktikan keterampilan komunikasi, (6) menawarkan pengalaman kepada siswa dalam mengorganisasi suatu Proyek, menentukan alokasi waktu dan memanfaatkan sumber-sumber yg ada utk menuntaskan tugas, dan  (7) menyediakan pengalaman berguru siswa mengambil informasi dan memperlihatkan pengetahuan yg dimiliki, kemudian mengimplementasikannya di dunia nyata.

F. Peran guru dan akseptor didik dalam pelaksanaan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Peran guru dan akseptor didik dalam pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut.
1) Peran Guru
Merencanakan dan mendesain pembelajaran.
Membuat seni administrasi pembelajaran.
Membaygkan interaksi yg akan terjadi antara guru dan siswa.
Mencari keunikan siswa.
Menilai siswa dgn cara transparan dan aneka macam macam penilaian.
Membuat portofolio pekerjaan siswa.

Meteri perakitan PC di Sekolah Menengah kejuruan sanggup diterapkan dgn Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PBL)


2) Peran Peserta Didik
Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir.
Melakukan riset sederhana.
Mempelajari inspirasi dan konsep baru.
Belajar mengatur waktu dgn baik.
Melakukan kegiatan berguru sendiri/kelompok.
Mengaplikasikanhasil berguru lewat tindakan.
Melakukan interaksi sosial (wawancara, survey, observasi, dll).


E. Sistem Penilaian dalam pelaksanaan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Penilaian pembelajaran dgn metoda Pembelajaran berbasis proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan yg diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. Penilaian pembelajaran berbasis proyek sanggup memakai teknik penilaian yg dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk. Penilaian tersebut sanggup dijelaskan sebagai berikut.

1) Penilaian Proyek
a) Pengertian Penilaian proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu kiprah yg harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu pemeriksaan semenjak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek sanggup dipakai utk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan akseptor didik pada mata fatwa tertentu secara jelas.

Pada penilaian proyek setidaknya ada 4 (empat) hal yg perlu dipertimbangkan, yaitu:

a.1) Pengelolaan
Kemampuan siswa dalam menentukan topik, mencari informasi, dan mengelola waktu pengumpulan data, serta penulisan laporan.

a.2) Relevansi
Topik, data, dan produk sesuai dgn KD.

a.3) Keaslian
Produk (misalnya laporan) yg dihasilkan siswa merupakan hasil karyanya, dgn mempertimbangkan bantuan guru berupa petunjuk dan derma terhadap proyek siswa.

a.4) Inovasi dan kreativitas
Hasil proyek siswa terdapat unsur-unsur kebaruan dan menemukan sesuatu yg berbeda dari biasanya. 


b. Teknik Penilaian Proyek
Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, hingga hasil selesai proyek. Untuk itu, guru perlu memutuskan hal-hal atau tahapan yg perlu dinilai, menyerupai penyusunan disain, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan tertulis. Laporan kiprah atau hasil penelitian juga sanggup disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian sanggup memakai alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian.

Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan , proses pengerjaan hingga dgn selesai proyek. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yg perlu dinilai. Pelaksanaan penilaian sanggup juga memakai rating scale dan checklist.

2) Penilaian Produk
a) Pengertian Penilaian Produk
Penilaian produk ialah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk mencakup penilaian kemampuan akseptor didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam. Pengembangan produk mencakup 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu:
a.1) Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan akseptor didik dan merencanakan, menggali, dan membuatkan gagasan, dan mendesain produk.
a.2) Tahap pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan akseptor didik dalam menyeleksi dan memakai bahan, alat, dan teknik.
a.3) Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yg dihasilkan akseptor didik sesuai kriteria yg ditetapkan.

b) Teknik Penilaian Produk
Penilaian produk biasanya memakai cara holistik atau analitik.
b.1) Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal.
b.2) Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yg terdapat pada semua tahap proses pengembangan.


Daftar Pustaka

Alexander, D. (2000). The learning that lies between play and academics in afterschool programs. National Institute on Out-of-School Time. Retrieved from http://www.niost.org/Publications/papers.

Admin.Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) [online]. Diakses di http://digilib.sunan-ampel.ac.id/files/disk1/151/hubptain-gdl-ellyikasus-7509-3-babii.pdf  (17 Oktober 2011).

Barron, B., & Darling-Hammond, L. (2008). Teaching for meaningful learning: A review of research on inquiry-based and cooperative learning. Retrieved from http://www.edutopia.org/pdfs/edutopia-teaching-for-meaningful-learning.pdf.

Buck Institute for Education. Introduction to Project Based Learning. [Online]. 

Daniel K. Schneider. 2005. Project-based learning. [Online]. Diakses dihttp://edutechwiki.unige.ch/en/Project-based_learning

Florin, Suzanne. 2010. The Success of Project Based Learning. [Online]. Diakses di http://www.brighthub.com/education/k-12/articles/90553.aspx 

Grant, M. (2009, April). Understanding projects in projectbased learning: A student’s perspective. Paper presented at Annual Meeting of the American Educational Research Association, San Diego, CA.

Lucas, George .(2005). Instructional Module Project Based Learning. http://www.edutopia.org/modules/PBL/whatpbl.php.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Modul Pelatihan Kurikulum 2013, Jakarta:Kemdikbud

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2016). Modul Pelatihan Kurikulum 2013, Jakarta:Kemdikbud.

Markham, T. (2003). Project-Based Learning Handbook (2nd ed.). Novato, CA: Buck Institute for Education.

Research summary: Project-based learning in middle grades mathematics. Retrieved from http://www.nmsa.org/Research/ResearchSummaries.

ResearchSummaries/ProjectBasedLearninginMath/tabid/1570/Default.aspx.

Savery, J. R. (2006). Overview of problem-based learning: Definitions and distinctions. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning, 1(1), 9–20. Journal of Problem-Based Learning, 3(1), 12–43.



= Baca Juga =



DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2008/12/pembelajaran-berbasis-proyek-project.html

0 Response to "Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)"

Posting Komentar