Teori Berguru Revolusi Sosiokultural

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Teori Berguru Revolusi Sosiokultural

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Teori Berguru Revolusi Sosiokultural, kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel bimbel masuk ptn, Artikel Pembelajaran, Artikel Pembelajaran2, Artikel SBMPTN, Artikel ujian nasional, Artikel unbk, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Teori Berguru Revolusi Sosiokultural
link : Teori Berguru Revolusi Sosiokultural

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Teori Berguru Revolusi Sosiokultural

Belajar merupakan suatu proses yg komplek yg terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses berguru itu terjadi lantaran adanya interaksi antara seseorang dgn lingkungannya, baik lingkungan alam maupun sosial budayanya. Dalam proses berguru bila kita hanya mengandalkan paradigma behavioristik maka kita akan mencetak orang-orang yg mengagungkan kekerasan dan mengadalkan keseragaman, tapi tidak menghargai adanya perbedaan. Hal ini terjadi lantaran siswa harus mempersiapkan diri memasuki abad demokrasi yg gotong royong ialah abad yg ditandai dgn keragaman perilaku, adanya penghargaan terhadap saesuatu yg bebeda sehingga perlu adanya perubahan dibidang pendidikan dan pembelajaran dgn teori berguru sosiokultural.Sosiokultural berasal dari dua kata yaitu sosio dan kultural, sosio berarti berafiliasi dgn masyarakat dan kultural berarti berafiliasi dgn kebudayaan. Jadi, sosiokultural ialah berkenaan dgn segi sosial dan budaya masyarakat.


Teori Belajar Revolusi Sosiokultural mengacu kepada teori berguru Piagetin dan teori berguru Vygotsky. Berikut ini pembahasan ihwal kedua teori tersebut.

1. Teori Belajar Piagetin
Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu proses yg didasarkan atas mekanisme biologis dalam bentuk perkembangan syaraf. Kegiatan berguru terjadi seturut dgn contoh tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang. Perolehan kecakapan intelektual akan berafiliasi dgn proses mencari keseimbangan antara apa yg mereka rasakan dan ketahui pada satu sisi dgn apa yg mereka lihat suatu fenomena gres sebagai pengalaman dan persoallan. Untuk memperoleh keseimbangan atau equilibrasi, seseorang harus melaksanakan pembiasaan dgn lingkungannya. Proses pembiasaan terdiri dari asimilasi dan akomodasi. Melalui asimilasi siswa mengintegrasikan pengetahuan gres dari luar ke dalam struktur kognitif yg telah ada dalam dirinya.sedangkan melalui fasilitas siswa memodifikasi struktur kognitif yg ada dalam dirinya dgn pengetahuan yg baru.

Teori konflik-sosiokognitif Piaget ini bisa berkembang luas dan merajai bidang psikologi dan pendidikan. Namun bila dicermati ada beberapa aspek dari teori Piaget yg dipandang sanggup menjadikan implikasi kontraproduktif pada acara pembelajaran jikalau dilihat dari perspektif revolusi-sosiokultural dikala ini. Dilihat dari asal seruan pengetahuan, Piaget cenderung menganut teori psikogenesis. Artinya, pengetahuan berasal dari dalam diri individu. Dalam proses belajar, siswa bangkit terpisah dan berinteraksi dgn lingkungan social. Ia mengkonstruksi pengetahuannya lewat tindakan yg dilakukannya terhadap lingkungan sosial.
Di samping itu, dalam acara berguru Piaget lebih mementingkan interaksi antara siswa dgn kelompoknya. Perkembangan kognitif akan terjadi dalam interaksi antara siswa dgn kelompok sebayanya dari pada dgn orang-orang yg lebih dewasa. Pembenaran terhadap teori ini jikalau diterapkan dalam acara pendidikan dan pembelajaran akan kurang sesuai dgn perspektif revolusi-sosiokultural yg sedang diupayakan dikala ini.


Belajar merupakan suatu proses yg komplek yg terjadi pada diri setiap orang sepanjang  TEORI BELAJAR REVOLUSI SOSIOKULTURAL



2. Teori Belajar Vygotsky
Pandangan yg bisa mengakomodasi teori revolusi-sosiokultural dalam teori berguru dan pembelajaran dikemukakan oleh Lev Vygotsky. Ia menyampaikan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Artinya, utk memahami pikiran seseorang bukan dgn cara menelusuri apa yg ada di balik otaknya dan pada kedalaman jiwanya, melainkan dari asal seruan tindakan sadarnya, dari interaksi social yg dilatari oleh sejarah hidupnya.
Mekanisme teori yg dipakai utk menspesifikasi kekerabatan antara pendekatan sosio-kultural dan pemfungsian mental didasarkan pada tema mediasi semiotik, yg artinya ialah gejala atau lambang-lambang beserta makna yg terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penengah antara rasionalitas dalam pendekatan sosio-kultural dan insan sebagai daerah berlangsungnya proses mental.
Menurut Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dgn teori sociogenesis. Dimensi kesadaran social bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya bersifat derivative atau merupakan turunan dan bersifat sekunder. Artinya, pengetahuan dan perkembangn kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial di luar dirinya. Konsep-konsep penting teori sociogenesis Vygotsky ihwal perkembangan kognitif yg sesuai dgn revolusi-sosiokultural dalam teori berguru dan pembelajaran adalah:

a. Hukum genetik ihwal perkembangan (genetic law of development)
Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu tataran sosial daerah orang-orang memebentuk lingkungan sosialnya, dan tataran psikologis di dalam diri orang yg bersangkutan. Pandang teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang.
b. Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development)
Menurut Vygotsky, perkembangan kemampuan seseorang sanggup dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan konkret dan perkembangan potensial. Tingkat perkembangan konkret tampak dari kemampuan seseorang utk menuntaskan tugas-tugas atau memecahkan banyak sekali persoalan secara mandiri. Ini disebut kemampuan intramental. Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang utk menuntaskan tugas-tugas dan memecahkan persoalan ketika di bawah bimbingan orang remaja atau ketika berkolaborasi dgn teman sebaya yg lebih kompeten, ini disebut kemampuan itermental. Jarak antara keduanya, yaitu tingkat perkembangan konkret dan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal. Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yg belum matang yg masih berada pada proses pematangan. Gagasan Vygotsky ihwal zona perkembangan proksimal ini mendasari perkembangan teori berguru dan pembelajaran utk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Beberapa konsep kunci yg perlu dicatat ialah bahwa perkembangan dan berguru bersifat interdependen atau saling terkait, perkembangan kemampuan seseorang bersifat context dependent atau tidak sanggup dipisahkan dari konteks sosial, dan sebagai mendasar dalam berguru ialah partisipasi dalam acara sosial.
c. Mediasi
Ada dua jenis mediasi, yaitu mediasi metakognitif dan mediasi kognitif. Mediasi metakognitif ialah penggunaan alat-alat semiotik yg bertujuan utk melaksanakan regulasi diri, mencakup self planning, self-monitoring, self-checking, dan self-evaluating. Sedangkan mediasi kognitif ialah penggunaan alat-alat kognitif utk memecahkan persoalan yg berkaitan dgn pengetahuan tertentu atau subject-domain problem serta berkaitan pula dgn konsep impulsif (yg bisa salah) dan konsep ilmiah (yg lebih terjamin kebenarannya).
Pendekatan kognitif dalam berguru dan pembelajaran yg ditokohi oleh Piaget yg kemudian berkembang ke dalam aliran konstruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya. Teori ini bila dicermati ada beberapa aspek yg dipandang sanggup menjadikan implikasi kontraproduktif dalam acara pembelajaran, lantaran lebih mencerminkan ideology.

Aplikasi Teori Sosio-Kultural
Aplikasi teori sosio-kultural dalam pendidikan. Penerapan teori sosio-kultural dalam pendidikan sanggup terjadi pada 3 jenis pendidikan yaitu:
1. Pendidikan informal (keluarga)
Pendidikan anak dimulai dari lingkungan keluarga, dimana anak pertama kali melihat, memahami, mendapat pengetahuan, sikap dari lingkungan keluarganya. Oleh lantaran itu perkembangan prilaku masing-masing anak akan berbeda manakala berasal dari keluarga yg berbeda, lantaran faktor yg menghipnotis perkembangan anak dalam keluarga beragam, misalnya: tingkat pendidikan orang tua, faktor ekonomi keluarga, keharmonisan dalam keluarga dan sebagainya.
2. Pendidikan nonformal
Pendidikan nonformal yg berbasis budaya banyak bermunculan utk menunjukkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap pada anak, contohnya kursus membatik. Pendidikan ini diberikan utk membekali anak hal-hal tradisi yg berkembang di lingkungan sosial masyarakatnya.
3. Pendidikan formal
Aplikasi teori sosio-kultural pada pendidikan formal sanggup dilihat dari beberapa segi antara lain:
a)     Kurikulum.
Khususnya utk pendidikan di Indonesia pemberlakuan kurikulum pendidikan sesuai Peraturan Menteri nomor 24 tahun 2006 ihwal pelaksanaan KTSP, Peraturan Menteri nomor 23 tahun 2006 ihwal standar kompetensi, dan Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2006 ihwal standar kompetensi dan kompetensi dasar, terang bahwa pendidikan di Indonesia menunjukkan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap kepada anak utk mempelajari sosio-kultural masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional melalui beberapa mata pedoman yg telah ditetapkan, di antaranya: pendidikan kewarganegaraan, pengetahuan sosial, muatan lokal, kesenian, dan olah raga.
b)     Siswa
Dalam pembelajaran KTSP anak mengalami pembelajaran secara pribadi ataupun melalui rekaman. Oleh lantaran itu pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap bukan sesuatu yg lisan tetapi anak mengalami pembelajaran secara langsung.Selain itu pembelajaran menunjukkan kebebasan anak utk berkembang sesuai bakat, minat, dan lingkungannya pencapaiannya sesuai standar kompetensi yg telah ditetapkan.
c)     Guru
Guru bukanlah narasumber segala-galanya, tetapi dalam pembelajaran lebih berperanan sebagai fasilitator, mediator, motivator, evaluator, desainer pembelajaran dan tutor. Masih banyak kiprah yg lain, oleh kesannya dalam pembelajaran ini kiprah aktif siswa sangat diharapkan, sedangkan guru membantu sikap siswa yg belum muncul secara berdikari dalam bentuk pengayaan, remedial pembelajaran.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Sosio-Kultural
Kelebihan
1.    Anak memperoleh kesempatan yg luas utk menyebarkan zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui berguru dan berkembang
2.    Pembelajaran perlu lebih dikaitkan dgn tingkat perkembangan potensialnya daripada tingkat perkembangan aktualnya
3.    Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan taktik utk menyebarkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramental
4.    Anak diberi kesempatan yg luas utk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yg telah dipelajarinya dgn pengetahuan prosedural yg sanggup dilakukan utk tugas-tugas atau pemecahan masalah
5.    Proses berguru dan pembelajaran tidak bersifat transferal tetapi lebih merupakan kokonstruksi, yaitu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna gres secara bersama-sama antara semua pihak yg terlibat di dalamnya.

Kekurangan
Teori sosio-kultural yaitu terbatas pada sikap yg tampak, proses-proses berguru yg kurang tampak ibarat pembentukan konsep, berguru dari banyak sekali sumber belajar, pemecahan persoalan dan kemampuan berpikir sukar diamati secara pribadi oleh lantaran itu diteliti oleh para teoriwan perilaku.



= Baca Juga =



DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Teori Berguru Revolusi Sosiokultural

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Teori Berguru Revolusi Sosiokultural kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Teori Berguru Revolusi Sosiokultural dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2008/12/teori-berguru-revolusi-sosiokultural.html

0 Response to "Teori Berguru Revolusi Sosiokultural"

Posting Komentar