Teori Berguru Sosial (Teori Pembelajaran Sosial)

DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Teori Berguru Sosial (Teori Pembelajaran Sosial)

- Hallo sahabat BIMBEL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI - Bimbel Masuk PTN, SBMPTN, Karantina Simak UI, Supercamp, Pada Artikel kali ini mudah-mudahan membantu anda, artikel ini berjudul Teori Berguru Sosial (Teori Pembelajaran Sosial), kami telah membuat artikel ini dengan baik dan mudah di pahami untuk anda baca sebagai informasi didalamnya juga yang terpenting semoga bermanfaat. mudah-mudahan isi postingan Artikel bimbel masuk ptn, Artikel Pembelajaran, Artikel Pembelajaran2, Artikel SBMPTN, Artikel ujian nasional, Artikel unbk, yang kami tulis ini dapat dengan anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Teori Berguru Sosial (Teori Pembelajaran Sosial)
link : Teori Berguru Sosial (Teori Pembelajaran Sosial)

Klik Iklan dibawah ini dan Link Download akan terbuka

Baca juga


Teori Berguru Sosial (Teori Pembelajaran Sosial)

Konsep  motivasi  belajar  berkaitan  erat  dgn  prinsip  bahwa  perilaku  yg  memperoleh penguatan(reinforcement)  di  masa  lalu  lebih  memiliki  kemungkinan  diulang  dibandingkan dgn  perilaku  yg  tidak  memperoleh  penguatan  atau  perilaku  yg  terkena  eksekusi (punishment).  Dalam  kenyataannya,  daripada  membahas  konsep  motivasi  belajar,  penganut teori  perilaku  lebih  memfokuskan  pada  seberapa  jauh  siswa  telah  belajar  utk  mengerjakan pekerjaan  sekolah  dalam  rangka  mendapatkan  hasil  yg  diinginkan  (Bandura,  1986  dan Wielkeiwicks, 1995).
Dalam  dasawarsa  terakhir,  penganut  teori  konstruktivisme  memperluas  fokus  tradisionalnya pada pembelajaran individual ke dimensi pembelajaran kolaboratif dan sosial. Konstruktivisme sosial bisa dipandang sebagai perpaduan antara aspek-aspek dari karya Piaget dgn karya Bruner dan karya Vygotsky. Istilah Konstruktivisme komunal dikenalkan oleh Bryn Holmes di tahun  2001.  Dalam  model  ini,  "siswa  tidak  hanya  mengikuti  pembelajaran  menyerupai halnya  air mengalir  melalui  saringan  namun  membiarkan  mereka  membentuk  dirinya."  Dalam perkembangannya muncullah istilah Teori Belajar Sosial dari para pakar pendidikan. Pijakan  awal  teori  belajar   sosial  adalah  bahwa  manusia  belajar  melalui  pengamatannya terhadap  perilaku  orang  lain.  Pakar  yg  paling  banyak  melakukan  riset  teori  belajar  sosial yaitu Albert Bandura dan Bernard Weiner. 

Meskipun  classical  dan  operant  conditioning  dalam  hal-hal  tertentu  masih  merupakan  tipe penting dari belajar, namun orang berguru ihwal sebagian besar apa yg ia ketahui melalui observasi  (pengamatan).  Belajar  melalui  pengamatan  berbeda  dari  classical  dan  operant conditioning  karena  tidak  membutuhkan  pengalaman  personal  langsung  dgn  stimuli, penguatan  kembali,  maupun  hukuman.   Belajar   melalui  pengamatan  secara  sederhana melibatkan pengamatan sikap orang lain, yg disebut model, dan kemudian menggandakan sikap model tersebut. 
Baik  anak-anak  maupun  orang  dewasa  belajar  banyak  hal  dari  pengamatan  dan  imitasi (peniruan)  ini.  Anak  muda  belajar  bahasa,  keterampilan  sosial,  kebiasaan,  ketakutan,  dan banyak  perilaku  lain  dgn  mengamati  orang  tuanya  atau  anak  yg  lebih  dewasa.  Banyak orang  belajar  akademik,  atletik,  dan  keterampilan  musik  dgn  mengamati  dan  kemudian menirukan  gueunya.  Menurut  psikolog  Amerika  Serikat  kelahiran  Kanada  Albert  Bandura, aktivis dalam studi ihwal berguru melalui pengamatan, tipe berguru ini memainkan kiprah yg penting  dalam  perkembangan  kepribadian  anak.

Bandura menemukan   bukti   bahwa   belajar   sifat-sifat   seperti  keindustrian,  keramahan, pengendalian  diri, keagresivan,  dan  ketidak  sabaran  sebagian  dari meniru  orang tua,  anggota keluarga lain, dan teman-temannya.


 tradisionalnya pada pembelajaran individual ke dimensi pembelajaran kolaboratif dan sosia TEORI BELAJAR SOSIAL (TEORI PEMBELAJARAN SOSIAL)

Teori berguru sosial dikenalkan oleh Albert Bandura, yg mana konsep dari teori ini menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Menurut Bandura, orang belajar melalui pengalaman pribadi atau pengamatan (menconto model)

Teori berguru sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori berguru yg relatif masih gres dibandingkan dgn teori-teori berguru lainnya. Berbeda dgn penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga tanggapan reaksi yg timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dgn denah kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar berguru berdasarkan teori ini, bahwa yg dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian conto sikap (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui santunan reward dan punishment, seorang individu akan berpikir dan memutuskan sikap sosial mana yg perlu dilakukan.

Dalam pandangan berguru sosial insan itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipengaruhi oleh stimulus-stimulus lingkungan. Teori berguru sosial menekankan bahwa lingkungan-lingkungan yg dihadapkan pada seseorang secara kebetulan; lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, sebagaimana dikutip oleh (Kard, 1997:14) bahwa “sebagian besar insan berguru melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laris orang lain”.

Inti dari pembelajaran sosial yaitu pemodelan (modelling), dan pemodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu. Ada dua jenis pembelajaran melalui pengamatan, yaitu:
a. Pembelajaran melalui pengamatan sanggup terjadi melalui kondisi yg dialami orang lain. Contohnya: seorang pelajar melihat temannya dipuji dan ditegur oleh gurunya lantaran perbuatannya, maka ia kemudian menggandakan melaksanakan perbuatan lain yg tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya. Kejadian ini merupakan conto dari penguatan melalui puji yg dialami orang lain.
b. Pembelajaran melalui pengamatan menggandakan sikap model meskipun model itu tidak mendapatkan penguatan positif atau penguatan negatif dikala mengamati itu sedang memperhatikan model itu, mendemonstrasikan sesuatu yg ingin dipelajari oleh pengamat tersebut dan mengharapkan menerima puji atau penguatan apabila menguasai secara tuntas apa yg dipelajari itu. Model tidak harus diperagakan oleh seseorang secara langsung, tetapi kita sanggup juga memakai seseorang pemeran atau visualisasi tiruan sebagai model (Nur, 1998.a: 4).

Pendekatan teori sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).
a. Conditioning. Prosedur berguru dalam membuatkan sikap sosial dan moral intinya sama dgn mekanisme berguru dalam membuatkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dgn reward (ganjaran/memberi hadiah atau mengganjar) dan punishment (hukuman/memberi hukuman) utk senantiasa berpikir dan memutuskan sikap sosial mana yg perlu ia perbuat.
b. Imitation. Proses imitasi atau peniruan. Dalam hal ini, orang bau tanah dan guru seyogianya memainkan kiprah penting sebagai seorang model atau tokoh yg dijadikan conto berperilaku sosial dan moral bagi siswa. Sebagai conto, seorang siswa mengamati gurunya sendiri mendapatkan seorang tamu, kemudian menjawab salam, menjabat tangan, beramah tamah, dan seterusnya yg dilakukan guru tersebut diserap oleh memori siswa. Semakin piawai dan berwibawa seorang model, semakin tinggi pula kualitas imitasi sikap sosial dan moral siswa tersebut.

Mengimitasi model merupakan elemen paling penting dalam hal bagaimana si anak berguru bahasa, berhadapan dgn agresi, membuatkan perasaan moral dan berguru sikap yg sesuai dgn gendernya. Analisis sikap terapan (applied behavior analysis) merupakan kombinasi dari pengkondisian dan modeling, yg sanggup membantu menghilangkan sikap yg tidak di inginkan dan memotivasi sikap yg diinginkan secara sosial. Definisi berguru pada asasnya ialah tahapan perubahan sikap siswa yg relatif positif dan menetap sebagai hasil interaksi dgn lingkungan yg melibatkan proses kognitif. Proses berguru sanggup diartikan sebagai tahapan perubahan sikap kognitif, afektif, dan psikomotor yg terjadi dalam diri siswa.

Menurut Bandura, berguru itu lebih baik dari sekedar perubahan prilaku. Belajar yaitu pencapaian pengetahuan dan sikap yg didasrai oleh pengetahuan tersebut. Lewat teori observational leaning, Bandura beranggapan bahwa dilema proses psikologi terlalu di anggap penting atau sebaliknya hanya ditelaah sebagian saja. Orang sanggup melibatkan diri dalam pikiran simbolik, orang cenderung utk membimbing dirinya sendiri dalam belajar, yg penting yaitu kemampuan seseorang utk mengabstraksikan informasi dan sikap orang lain.

Prinsip berguru berdasarkan Bandura yaitu perjuangan menjelaskan berguru dalam situasi alami, hal ini berbeda dgn situasi di laboratorium atau pada lingkungan social yg banyak memerlukan pengamatan ihwal referensi sikap beserta konsekuensinya. Kritik Bandura terhadap berguru itu sebagai korelasi antar stimulus dan respon adalah: (a) Kurang menjelaskan ihwal diperolehnya respon yg baru. Dalam situasi alami berdasarkan Bandura, orang akan berbuat lebih banyak daripada sekedar menggandakan sikap yg telah ada. (b) Hanya mengamati direct learning (belajar langsung) yaitu orang berperilaku sesuatu dan mengalami akibatnya. Sebaliknya bandura menyampaikan bahwa seorang anak dalam korelasi pribadinya dgn orang dewasa, melalui interaksi anak dan orang tuanya, dgn persaan irinya dan sebagainya mengakibatkan anak menggandakan sikap tertentu.

Ciri utama Teori Bandura yaitu metode observasi  dan modeling.Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963) melaksanakan eksperimen pada bawah umur yg juga berkenaan dgn peniruan. Hasil eksperimen mereka mendapati, bahwa peniruan sanggup berlaku hanya melalui pengamatan terhadap sikap model (orang yg ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus menerus. Proses berguru semacam ini disebut “observational learning” atau pembelajaran melalui pengamatan.

Bandura (1971), kemudian menyarankan biar teori pembelajaran sosial diperbaiki memandang teori pembelajaran sosial yg sebelumnya hanya mementingkan sikap tanpa mempertimbangan aspek mental seseorang. Menurut Bandura, perlakuan seseorang yaitu hasil interaksi faktor dalam diri (kognitif) dan lingkungan. pandangan ini menjelaskan, ia telah mengemukakan teori pembelajaran peniruan, dalam teori ini ia telah menjalankan kajian bersama Walter (1963) terhadap perlakuan bawah umur apabila mereka menonton orang cukup umur memukul, mengetuk dgn palu besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam video. Setelah menonton video bawah umur ini diarah bermain di kamar permainan dan terdapat patung menyerupai yg ditaygkan dalam video.

Setelah bawah umur tersebut melihat patung tersebut, mereka menggandakan aksi-aksi yg dilakukan oleh orang yg mereka tonton dalam video. Berdasarkan teori ini terdapat beberapa cara peniruan yaitu menggandakan secara langsung. Contohnya guru membuat demostrasi cara membuat kapal terbang kertas dan pelajar menggandakan secara langsung. Seterusnya proses peniruan melalui conto tingkah laku. Contohnya bawah umur menggandakan tingkah laris bersorak dilapangan, jadi tingkah laris bersorak merupakan conto sikap di lapangan.

Keadaan sebaliknya jikalau bawah umur bersorak di dalam kelas sewaktu guru mengajar,semestinya guru akan memarahi dan memberi tahu tingkahlaku yg dilakukan tidak dibenarkan dalam keadaan tersebut, jadi tingkah laris tersebut menjadi conto sikap dalam situasi tersebut. Proses peniruan yg seterusnya ialah elisitasi. Proses ini timbul apabila seseorang melihat perubahan pada orang lain. Contohnya seorang bawah umur melihat temannya melukis bunga dan timbul harapan dalam diri bawah umur tersebut utk melukis bunga. Oleh lantaran itu, peniruan berlaku apabila bawah umur tersebut melihat temannya melukis bunga.

Karakteristik yg ditonjolkan dalam pembelajaran modelling antara lain adalah: (1) Unsur pembelajaran utama ialah pemerhatian dan peniruan. (2) Tingkah laris model boleh dipelajari melalui bahasa, teladan, nilai dan lain-lain. (3) Pelajar menggandakan suatu kemampuan dari kecakapan yg didemonstrasikan guru sebagai model (4) Pelajar memperoleh kemampuan jikalau memperoleh kepuasan dan penguatan yg positif. (5) Proses pembelajaran mencakup perhatian, mengingat, peniruan, dgn tingkah laris atau timbal balik yg sesuai, diakhiri dgn penguatan yg positif.

Eksperimen Albert Bandura yg sangat populer yaitu eksperimen Bobo Doll yg memperlihatkan bawah umur menggandakan menyerupai sikap bergairah dari orang cukup umur disekitarnya. Albert Bandura seorang tokoh teori berguru sosial ini menyatakan bahwa proses pembelajaran sanggup dilaksanakan dgn lebih berkesan dgn memakai pendekatan permodelan. Beliau menjelaskan lagi bahwa aspek perhatian pelajar terhadap apa yg disampaikan atau dilakukan oleh guru dan aspek peniruan oleh pelajar akan sanggup memperlihatkan kesan yg optimum kepada pemahaman pelajar.

Aplikasi Teori Bandura
Contoh aplikasi teori berguru Bandura yaitu ketika seorang anak berguru utk mengendarai sepeda. Ditahap perhatian, si anak akan tertarik mengamati para pengendara sepeda dibanding dgn orang yg melaksanakan aktifitas lain yg dia anggap kurang menarik. Oleh lantaran itu, ia akan mengamati bagaimana seseorang mengayuh sepeda. Selanjutnya pada tahap penyimpanan dalam ingatan si anak akan tersimpan bahwa bersepeda itu menyenangkan dan suatu dikala jikalau waktunya sempurna ia akan meminta ayahnya utk mengajarinya mengendarai sepeda. Semuanya itu kemudian dilaksanakan pada tahap reproduksi di mana si anak kemudian benar-benar berguru mengendarai sepeda bersama sang ayah. Ketika anak itu sudah berhasil, di sinilah kiprah sang ayah utk memberi reward sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan sang anak sekaligus merupakan tahap motivasi.

Proses pembentukan sikap dari tidak suka berguru menjadi suka berguru sanggup dilakukan melalui banyak cara, diantaranya yaitu dgn modeling. Kalau siapapun yg ada di rumah atau di ingkungan anak sudah terbiasa berguru semenjak kecil maka hal ini akan diobservasi oleh anak secara terus menerus dalam hidupnya. Kemudian anak ini difasilitasi dgn banyak media baik yg alami maupun buatan utk mendorong minat belajarnya,misalnya berupa buku bacaan, buku tulis dan kelengkapannya, serta media cetak atau audio visual yg ditata secara menarik di rumah atau kelompok kelompok berguru yg ada. Orang bau tanah atau guru atau pembimbing berperan ganda, sebagai model sekaligus sebagai pamong belajar.

Tanpa ada ancaman, hukuman, ketegangan, ketakutan akan membuat anak nyaman, tenang, utk berguru dgn pamongnya. Dominansi kasih sayg, kelembutan, conto yg nyata, kejujuran, kesantunan, puji, penghargaan, senyuman akan sangat mendorong munculnya sikap yg diharapkan. Kesinambungan proses menyerupai ini akan mengkristal dalam jiwa dan pikir anak sehingga menjadi sikap yg permanen dalam hidupnya. Tidak akan gampang lekang oleh waktu dan tuntutan zaman yg semakin tidak karuan.

Penerapan dalam pemikiran ekonomi dan akuntansi guru sanggup membawa para siswanya ke swalayan, pasar, toko, koperasi, bursa efek, bank, BMT, salon, dan lain lain yg terang ke sentra pusat perdagangan atau ekonomi. Di daerah ini siswa sanggup berguru menghitung laba, menarik minat konsumen utk membeli barang atau jasa, mengemas barang sehingga menjadi terjangkau utk dibeli masyarakat kelas menengah ke bawah, memberi bonus bagi pelanggan yg sempurna waktu membayar cicilan.

Penerapan dalam pemikiran sejarah guru sanggup membawa siswanya contohnya ke Gua Selarong utk mengamati lokasi Pangeran Diponegoro bersembunyi dari kejaran Belanda yg menjajah Indonesia. Selain itu, mengamati tandu yg dipakai utk mengusung Jendral Besar Sudirman dikala bergerilya dalam kondisi sakit paru paru. Sambil mengamati objek objek berguru tersebut guru sanggup memperlihatkan informasi yg pas utk menumbuhkan rasa patriotisme atau memberi informasi penting ihwal sejarah Indonesia yg harus dikuasai oleh siswa.

Dengan metode observasi dan modeling yg menjadi ciri utama Teori Bandura siswa sanggup berguru sambil menikmati indahnya alam sekitar ciptaan Yang Maha Pencipta, siswa sanggup menghirup segarnya udara di luar kelas dgn sepuas puasnya. Siswa sanggup mengembalikan kebugaran fisiknya dgn mengamati banyak objek alami dan fenomena fenomena gres dibawah bimbingan gurunya. Siswa sanggup berdiskusi dan sabung argumentasi sesudah menemukan banyak data di lapangan yg dituliskan dalam tabel pengamatan. Siswa sanggup menemukan sendiri pengetahuan gres (inquiry) sesudah mengamati dan berdiskusi serta embel-embel informasi dari sahabat dan gurunya. Mereka tidak akan mencicipi lelah atau terlalu usang berguru pribadi di alam atau mengamati pribadi objek berguru yg orisinil atau alami. Sekaligus guru sanggup memberi penilaian yg bahwasanya dari kemampuan para siswanya sesudah melihat, mendengar, mendiskusikan masalah, mengumpulkan data dan menarik kesimpulan bersama seluruh siswanya. Kondisi siswa yg menyerupai ini penting utk sanggup mengatasi kejenuhan fisik maupun psikis siswa dalam belajar, lantaran di metode berguru ini guru mengaitkan pribadi antara materi pemikiran dgn alam (yg mempunyai komponen biotik berupa makhluk hidup dan komponen abiotik berupa benda mati) atau kehidupan sehari hari.

Memang diharapkan persiapan dan ketangguhan profesi dari sang guru atau orangf bau tanah baik berupa fisik maupun psikis dalam menerapkan konsep berguru ini. Hal ini disebabkan lantaran akan munculnya banyak kreatifitas dan kenyataan kenyataan gres dari konsep ilmu yg diperoleh siswa, yg berbeda jauh dgn teori yg ada di buku atau media berguru cetak maupun elektronik yg lain.

Guru akan menjadi sangat capek lantaran harus melayani banyaknya pertanyaan dan temuan temuan siswa yg mulai tumbuh referensi berpikir analitik dan sintetiknya. Kemudian siswa akan terus memburu utk mendapatkan jawaban dari permasalahan ini,disini kemampuan guru ditantang utk sanggup mengelola setiap permasalahan yg diajukan. Guru sanggup menghantarkan siswa utk membuka buku buku sumber yg ada pada siswa atau di perpustakaan, membuka internet, memberi kesempatan diskusi pada kelompok, sebelum akhirnya kesimpulan yg benar akan diperoleh dibawah bimbingan guru.

Dari conto conto di atas terbukti sudah bahwa dgn aplikasi teori berguru Bandura sanggup membuat masyarakat berguru bagi seluruh siswa atau anak, menjadikan banyak pertanyaan, membuat siswa atau anak sanggup mengadakan refleksi, menemukan sendiri konsep konsep ilmu, guru sanggup mengadakan penilaian yg sesungguhnya dari kemampuan yg dimiliki setiap siswa atau anak, guru maupun siswa lain sanggup menjadi model berguru anak dan membiasakan berpikir konstruktif bagi siswa atau anak. Pada akhirnya diharapkan adanya perubahan sikap anak dari tidak suka berguru menjadi terbiasa belajar.






= Baca Juga =



DOWNLOAD FILE DIBAWAH INI

Klik Iklan dan Link Download akan terbuka



Demikianlah Artikel Teori Berguru Sosial (Teori Pembelajaran Sosial)

Jangan lupa juga untuk klik iklan berikut untuk terus mendukung keberlangsungan blog ini, Sekian artikel Teori Berguru Sosial (Teori Pembelajaran Sosial) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi informasi dan manfaat untuk anda semua. baiklah, jangan lupa komentar dibawah, beri masukan untuk kami supaya kami tetap semangat dan terus berkarya, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Teori Berguru Sosial (Teori Pembelajaran Sosial) dengan alamat link https://www.bimbelmasukptn.co.id/2008/12/teori-berguru-sosial-teori-pembelajaran.html

0 Response to "Teori Berguru Sosial (Teori Pembelajaran Sosial)"

Posting Komentar